
"Assalamualaikum, Mas. Baru datang?" Nur menyambutku. Mengulurkan tangan dan aku menerimanya, tapi belum sempat dia menciumi tanganku, sudah aku tarik.
Wajahnya terlihat terkejut, hanya sekilas ekpres itu dia perlihatkanlah tapi aku tahu. Meski setelah itu dia terlihat biasa lagi. Dia mengikuti sampai ke meja makan.
"Mau makan sama apa, Mas?"
"Apa saja," jawabku sambil membuka kancing dan melipat lengan baju hingga sikut.
"Sini aku bantu."
"Gak usah." Aku menarik tangan kembali sebelum dia menyentuhnya. Tidak ada ekspresi. Dia malah memberikan seulas senyuman. Namun, matanya mengerjap beberapa kali.
"Ini, Mas. Mau minum dingin atau yang biasa?" tanyanya setelah menyajikan nasi dan lauknya di piring.
"Dingin."
Wanita itu pergi mengambil botol kaca yang ada di kulkas. Membawanya ke meja untuk dia tumpahkan isinya ke dalam gelas.
Dia duduk di sampingku. Menemaniku makan hingga selesai. Tidak ada obrolan.
Aku kembali ke kamar sementara dia pergi untuk mencuci piring. Tidak lama kemudian dia menyusul.
"Mau mandi, Mas? Sini aku bantuin buka bajunya."
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
Sekali lagi. Dia hanya tersenyum. Sungguh, ini membuat aku merasa frustasi sendiri. Dia masih saja tersenyum meski aku bersikap dingin padanya. Oke, mungkin karena aku suaminya yang dia anggap harus selalu dipatuhi, tapi bukankah dia pun demikianlah pada Melani?
Kenapa perempuan yang satu ini. Apa dia tidak punya hati?
Begitu aku keluar kamar mandi, lengkap dengan baju yang sudah aku ganti, Nur sedang salat Isya.
"Nur." Aku memanggilnya saat dia selesai salat dan kami tidur di tempat yang berbeda. Dia si sofa dan aku di ranjang.
"Ada apa, Mas? Mau sesuatu?" Tanyanya dan sigap bangun dari sofa. Aku menggeleng.
"Tidak apa-apa. Lupakan saja."
"Oh? Ya sudah. Barang kali mau saya ambilkan minum, Mas?"
"Gak perlu." Aku kembali ketus meski ada sedikit rasa bersalah dalam dada.
Dia kembali duduk, lalu membaringkan tubuhnya. Terlihat dia memperbaiki posisi bantal, kemudian dia tidur.
Aku sadar kalau semua ini salah. Ya, pernikahan kami salah sejak awal. Harusnya aku menolak saja pernikahan ini karena pada akhirnya kami hanya akan saling menyakiti. Bukan, bukan kami tapi aku. Aku yang menyakitimu dia.
Mustahil rasanya untuk memasukkan dia ke dalam hati jika pintu hati ini terkunci rapat oleh mendiang istriku.
"Bodoh! seharusnya aku tidak pernah menyentuh dia," gumamku.
Aku bisa apa? Untuk sesaat dia terlihat begitu memikat. Penampilannya memang buruk, tapi tidak dengan wajahnya.
Atau mungkin karena aku terlalu lama sendiri. Terlalu lama tidak mendapatkan sentuhan dari seorang wanita. Aku rasa itu normal. Setelah istriku pergi, aku memang tidak pernah menyentuh wanita mana pun.
***
Pagi tiba. Aku segera bangun karena bunyi alarm begitu memekakkan telinga. Nur masih tertidur. Tumben.
Dengan tidak memedulikan Nur, aku bergegas mandi lalu salat. Aku sudah rapi tapi Nur masih saja belum bangun.
Karena rasa penasaran, akhirnya aku mendekatinya.
"Nur." Tidak ada respon. Aku semakin heran. Sekali aku panggil tapi dia tidak merespon meski suaraku sudah aku keraskan.
"Nur." Kali ini aku menggoyangkan tubuhnya perlahan-lahan. Dia bergumam. Entah apa yang dia bicarakan, aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Suaranya sangat pelan. Aku mendekatkan telinga. Ada hawa panas menguar.
"Nur, kamu sakit?" tanyaku. Dia kembali bergumam tidak jelas. Aku menyentuh keningnya ragu-ragu. Betapa terkejutnya saat kening Nur begitu panas.
"Nur, hei." Aku membuka selimutnya. Membalikkan tubuh dia agar menghadap ke atas. Semula dia membelakangiku.
Mulutnya bergetar, bibirnya pun sangat pucat.
Aku segera menggendongnya dan berjalan cepat menuju mobil.
"Mam, panggilkan supir, cepat!"
"Nur kenapa?"
"Dia panas, panggilkan supir dulu sekarang, cepatlah!"
Tidak lama kemudian supir berlari menghampiri. Dia segera membuka kunci mobil dan membukakan pintu. Dengan perlahan-lahan aku memasukkan Nur ke dalam.
"Tolong bawa ke rumah sakit Harapan Ibu."
"Baik, Pak."
Aku menggenggam tangan Nur yang gemetaran. Mengusap keningnya yang berkeringat. Bibirnya terus saja bergetar hebat.
"Tunggu sebentar, Nur. Kita akan sampai."
Bahkan pahaku bisa merasakan panas dari kepala Nur. Meski sudah terhalangi celana dan jilbab dia.
"Berapa suhu badannya?" tanyaku sendiri.
Mobil tiba di depan pintu UGD.
"Tolong, istri saya demam dan tidak sadarkan diri," perintahku pada satpam saat dia menghampiri. Petugas dengan perawakan tinggi itu berlari ke dalam, dia kembali mendorong ranjang dan ditemani beberapa petugas kesehatan.
Tubuh Nur yang sudah di atas ranjang dibawa ke dalam. Beberapa petugas lain menghampiri. Dengan sigap mereka memeriksa kondisi Nur, sementara aku memilih untuk menjauh.
Bau ruangan ini, situasinya, pemandangannya mengingatkan aku pada masa lalu. Di tempat seperti ini juga istri dan anakku meregang nyawa dengan tubuh berlumuran darah. Ingatan itu membuat aku tidak tahan berlama-lama di sana. Aku memilih menunggu di luar.
Kepalaku mendadak sakit dan dadaku sesak karenanya.
Maaf, Nur.