ON THE WAY

ON THE WAY
Sebelas



Hotel menjadi tempat pada akhirnya aku dan Nur berada. Tidak salon, tidak juga restoran.


Kami masih sama-sama terdiam. Menutupi tubuh dengan selimut serapat mungkin. Entah apa yang kami tutupi jika pakaian yang sejatinya menutupi tubuh, kini berserakan di lantai.


Apa yang salah denganku? Sepertinya aku sudah gila karena melakukan hal ini. Astagaaa ... Kenapa harus seperti ini.


Tanpa berkata apa-apa, Nur beranjak. Dia memunguti pakaiannya lalu pergi ke kamar mandi. Sementara aku masih merutuki diri karena telah melakukan hal ini. Tidak salah memang, kami pun bukan sedang berzina. Aku hanya merasa ... Telah mengkhianati Mira.


Lama Nur di dalam kamar mandi, aku tidak mendengar bunyi air sejak tadi. Apa yang sedang dia lakukan di dalam sana.


"Nur, kamu baik-baik saja 'kan? Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Aku gak tahu nyalain airnya gimana, Mas." Dia menjawab dengan nada yang malu-malu.


"Aku masuk, ya."


Tidak ada jawaban aku artikan sebagai persetujuan. Begitu masuk, aku mendapati nur sedang berdiri. Dia menutup bagian dadanya dengan menyilangkan kedua tangan. Sementara kakinya saling bersilangan.


Astagaaa ... Ada apa dengan otakku?


***


Akhirnya, Nur mandi setelah satu jam kemudian.


"Kita pulang, Mas. Anak-anak pasti nungguin. Saya takut mereka akan membuat Ibu repot."


"Apa tidak sebaiknya kita menginap saja, Nur. Aku akan menelepon Ibu. Dia pasti ngerti."


"Jangan, Mas. Bagaimanapun juga mereka baru beberapa hari ini tinggal di rumah kamu. Mereka pasti akan ketakutan saat malam tiba. Saya harus tetap menemani mereka sampai mereka tidur."


"Bu-bukan begitu, Mas. Bukan karena itu saya tidak ingin menginap di sini."


"Oke. Kita tidak akan menginap, tapi aku ingin kita melakukannya sekali lagi."


"Hah?" Nur terlihat kaget dan juga takut. Entah kenapa tapi itu membuatku geli dan ingin tertawa.


"Mas kenapa? Apa ada yang lucu denganku?" Nur memeriksa tubuhnya dari atas sampai bawah, depan dan belakang.


"Sudah, bukan apa-apa. Ayo kita pulang. Kita belikan anak-anak es krim dulu."


Ada rasa lain di dalam dada. Aku merasa bahwa orang lain harus tahu kalau Nur adalah milikku. Aku buktikan dengan tangan Nur yang tidak pernah lepas dari genggaman. Depan jalan dari kamar hingga ke mobil.


Di dalam mobil, aku meraih tangannya untuk aku kecup. Dia tersenyum dengan wajah yang merona.


Bersentuhan dengan Nur seperti candu bagiku. Rasanya ingin terus dan terus menyentuh dirinya. Meski hanya menggenggam tangannya saja.


Bahkan saat membeli es krim, aku tidak malu merangkul dan sesekali mencium kepalanya. Wangi tubuhnya terasa begitu memikat.


Tidak perduli pada Nur yang terlihat risih. Mungkin dia malu karena di hadapan orang banyak. Meski dari mereka banyak yang tidak perduli, tapi memang ada beberapa yang memperhatikan.


Bodo amat! Sejak kapan aku peduli pada tanggapan orang? Lagi pula, aku dan Nur adalah suami istri. Bukan neraka yang sedang pacaran tanpa ikatan pernikahan.


Di rumah pun aku tidak segan untuk sekedar menyandarkan kepala pada pundak Nur saat kami menemani Dila dan Raya bermain. Meski ada orang tuaku saat itu. Bukankah Ibu akan senang melihat ini semua.


Berangkat kerja pun Nur mencium punggung tanganku dan aku mencium keningnya.


Namun, Nur sering merasa risih saat dia memasak dan aku terus menggodanya. Memeluknya dari belakang atau menggodanya dengan mencium pipinya tiba-tiba.