ON THE WAY

ON THE WAY
Dua belas



Nur terlihat kesakitan. Benar. Aku terlalu kasar memperlakukan dia tadi.


"Maaf, Nur."


"Gak apa-apa, Mas."


Aku memeluk tubuhnya yang membelakangiku. Dia sepertinya sedang menyembunyikan rasa sakitnya agar tidak terlihat olehku.


"Mandinya nanti aja kalau mau solat subuh."


Dia menggeleng kepala cepat. "Sekaranglah aja. Gak enak banget rasanya. Badan saya lengket."


"Ya sudah. Mandi sana sebelum larut malam."


"Mas gak mandi juga?"


"Mau bareng?"


"Enggak, maksdunya bukan begitu, Mas. Apa Mas gak merasa lengket juga? Mandi dulu lah biar tidurnya enak."


Setelah kami mandi, aku dan Nur tidur. Aku merasa sangat lelah karena terlalu bersemangat menaburkan hasrat yang selama ini terpendam.


"Sayang."


"Mira? Astaga Mira."


Aku melihat Mira di depan pintu rumah. Dia begitu cantik memakai gaun merah muda yang aku berikan sebagai hadiah ulang tahunnya.


Rindu yang selama ini tertahan, aku luapkan dalam pelukannya yang tidak ingin aku lepaskan lagi. Begitu erat dan sangat erat aku memeluk tubuh mungilnya.


"Lepaskan, Mas. Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu itu."


"Sayang? Apa maksud kamu? Aku kangen, aku sangat rindu sama kamu, Mir."


"Benarkah? Bukankah rasa rindu itu telah kamu lampiaskan pada wanita lain, Mas? Tega, ya, kamu. Kamu telah mengkhianati aku, Mas. Kamu telah menodai kamar kita. Kamu jahat, Mas!"


"Tidak, Mir. Bukan begitu. Dengarkan dulu penjelasanku."


"Tidak, Mira. Mir, Mira tunggu! Dengarkan dulu aku. Miraaa!"


Mataku terbuka. Yang aku lihat adalah dinding kamar berwarna peach. Warna kesukaan Mira. Dia memilih cat warna pecah untuk mewarnai kamar kami.


Aku mengusap wajah dengan kasar. Keringar membasahi keningku hingga turun ke hidung dan pelipis.


Ah, mimpi itu kenapa begitu nyata. Apakah Mira benar-benar tidak rela aku menikah dengan wanita lain.


Wajahnya yang terlihat sangat sedih, begitu jelas seperti nyata adanya. Sorot matanya penuh dengan rasa kecewa. Mira-ku yang sangat aku cintai, dia begitu marah karena tempat tidur ini ditempati wanita lain.


Ya, benar. Seharusnya Nur tidak tidur di sini. Ini tempat tidurku bersama Mira. Tidak seharusnya Nur ada di kasur kami.


"Nur. Nur!"


Wanita itu menggeliat dari tidurnya yang lelap setelah mendengar namanya aku panggil dengan nada tinggi.


"Kenapa, Mas? Apa Mas butuh sesuatu? Jangan bilang Mas minta lagi. Kita baru saja mandi sebelum tidur tadi. Gak, ah! Aku dingin, Mas."


"Apa kamu bilang? Gak usah berharap lebih, Nur. Aku bahkan menyesal telah menyentuh kamu."


Matanya yang semula enggan terbuka, kini terbuka lebar.


"Mulai detik ini, jangan pernah lagi tidur di sini. Tidur sana di sofa. Pergilah."


"A-apa? Maksdunya apa, Mas? Mas kenapa?"


"Kamu gak denger? Aku bilang, kamu tidur di sofa itu. Paham tidak?"


Nur terhenyak saat aku berteriak. Tanpa ba bi bu lagi, Nur segar turun dan pindah ke sofa. Membawa bantal dan guling. Semenjak selimut aku peganga erat.


Enak saja, ini selimut yang biasa aku pakai bersama Mira.


Nur telah pindah tempat tidur. Semoga saat Mira datang dalam mimpi, dia sudah tidak marah lagi karena ranjang ini akan selamanya menjadi ranjang kami. Aku dan Mira.