
"Kenapa jemputnya jam segini, Mas? Ini malem loh."
"Saya tahu ini malem. Anak TK juga tahu kali, Nur."
"Lah, anak TK aja tahu, apalagi Mas. Harusnya Mas tahu resiko perjalanan malam apalagi sendiri."
"Terus ... Aku harus balik lagi gitu, dan jemput kamunya nanti pagi?"
"Ya enggak gitu juga, Mas. Saya itu cuma khawatir terjadi apa-apa."
"Saya kan udah ada di sini. Di depan kamu dengan selamat tanpa kurang satu apapun."
Nur menatapku. Dia sepertinya baru sadar akan sesuatu.
"Laaah, iya, ya. Ha ha ha. Maaf, ya, Mas." Dia tertawa begitu keras. Mukanya sampai merah dan matanya berair.
Ck! Apa selucu itu ucapanku barusan? Garing banget!
Pukul 10 malam baru sampai rumah Nur dan aku sudah disuguhi ocehannya. Ternyata dia dan Ibu sama saja. Tukang ngoceh.
"Ya udah, Mas istirahat aja kalau gak mau makan dulu. Biar saya tidur sama anak-anak di kamar yang lain."
"Kenapa gak tidur di sini?"
Nur mengehentikan langkahnya yang baru dua langkah. Duh! Apa dia akan salah paham? Maksdunya ... Ya, kenapa dia tidak tidur sini, bukan aku ngajak 'tidur' dia.
"Saya takut membuat Mas tidak nyaman."
"Makin tidak nyaman kalau orang tua kamu melihat kita tidur terpisah. Sudahlah, tidur saja di sini."
"Baiklah. Lagian tidur bareng itu gak akan menimbulkan masalah. Yang menimbun masalah itu kalau begadang bareng," ucapnya. Dia kemudiannya tidur di sampingku dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai menutupi pundak.
"Masalah? Memangnya kalau begadang masalah yang timbul apa?"
"Apa saja. Tergantung apa yang mereka lakukan. Ayo, Mas. Istirahat. Pasti Mas kelah 'kan?"
Aku mendengar dia membaca doa. Itu artinya dia benar-benar tidur.
Mungkin Kak Ardi benar lagi. Dia memang korban seperti aku. Dia terlihat menghindar dariku. Dia sepertinya takut aku sentuh.
Baiklah. Meski sedikit tabu, tapi ini memang harus dibicarakan agar tidak ada salah faham. Agar dia juga tidak merasa canggih dan takut berada di kamar dan ranjang yang sama denganku.
"Nur, boleh kita bicara sebentar? Kamu sudah tidur apa belum?"
"Iya, Mas. Boleh." Dia membuka selimut dan duduk menghadap padaku. Matanya terlihat merah. Ah, mungkin dia benar-benar tidur tadi.
"Kenapa kamu terlihat canggung berada di kamar yang sama denganku, sampai kamu berniat tidur di kamar anak-anak."
Nur terlihat terkejut dengan pertanyaan dariku. Daripada menjawab, dia memilih untuk menundukkan kepalanya.
"Nur ... Kita harus perjelas masalah ini."
"Kenapa, Mas? Apa ... Mas memintaku hak Mas sebagai suami? Saya ...."
"Tidak, Nur. Kamu jangan salah paham. Kota tidur bersama bukan berarti harus melakukan hubungan suami istri bukan?" Dengan sangat pelan aku bicara padanya. Takut dia salah paham dan juga takut ada telinga lain yang mendengar.
Nur kembali menatapku. Matanya tidak lagi terlihat terkejut. Dia sepertinya menaruh harapan di matanya. Entah apa itu.
"Aku tidak akan memintamu hak sebagai suami. Kami tenang saja. Kita sama-sama tahu bagaimana pernikahan kita terjadi. Yaaa ... Bahkan kita bertemu setelah benar-benar menjadi suami istri. Juga ... karena aku masih menyimpan rapat rasa cinta ini untuk menekan istriku. Maaf ... Nur."
Nur menghela napas panjang.
"Sebagai istri. Aku hanya akan mengikutinya ajaran agamaku, Mas. Jika suatau saat Mas meminta hak sebagai suami, makan akan aku beri. Tapi aku sendiri tidak akan menawarkan."
Nur tersenyum sekilas sebelum dia kembali tidur.
Ucapkan tidak bisa aku artikan. Apakah dia menginginkan atau tidak sama sekali. Atau ... Entahlah.
Kecewakah dia padaku karena aku masih mencintai mendiang? Atau bagaimana? Astagaaa! Wanita ini ternyata lebih rumit dari Ibu.
Pagi hari selalu membuat aku mengigil di rumah Nur ini. Tentu saja. Daerah ini merupakan daerah pegunungan di bawah kaki gunung Ciremai.
Airnya pun begitu jernih. Mengalir begitu saja tanpa keran penutup. Kadang, aku merasa sayang melihat air terbuang begitu saja.
Di meja makan sudah ada Dila dan Raya. Sementara orang tua Nur yang tak lain adalah mertuaku sudah pergi menjalankan aktifitas mereka masing-masing.
"Kalian sedang makan apa?" tanyaku basa-basi karena aku bisa melihat apa yang sedang mereka makan.
"Nasi goreng, Pak."
"Pak? Bapak atau Pak? Pak guru maksdunya?" Tanyaku lagi. Mencoba mengajak mereka lebih akrab lagi. Meski sebenarnya garing banget ucapanku tadi.
Mereka tersenyum. Sekedar menghargai aku rasa.
"Panggil saja ... O, iya. Kalian manggil ibu kalian dengan sebutan apa?"
"Mamah." Raya menjawab.
"Kalau begitu panggil saja papa. Jangan Pak."
Mereka hanya saling melirik tanpa berkata. Sebuah senyuman malu-malu khas anak-anak menghiasi wajah polos mereka.
Melihat mereka yang masih kecil, membuat aku penasaran, kenapa Nur dan suaminya bercerai. Tidakkah mereka melihat mata polos anak-anak ini? Mereka sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan ibunya secara lengkap.
Tentu saja karena mereka egois bukan? Kalau bukan karena keegoisan, harusnya masalah sebesar apapun bisa mereka selesaikan tanpa mengorbankan Dila dan Raya. Terlebih si sulung.
Anak itu jelas terlihat sangat menderita. Tanpa bicara tapi dia menyimpan semua dukanya di mata. Mungkin karena dia sudah besar dan tahu apa yang terjadi pada orang tuanya.
"Hari ini kita akan pindah ke kota. Kota ikut ke rumah papa. Dila dan Raya seneng gak?"
Mereka mengangguk ragu sambil cengengesan layaknya anak kecil. Bahagia tapi malu berekspresi. Mungkin karena aku masih asing bagi mereka. Jika saja aku adalah ayah kandung mereka, mungkin mereka akan berjingkrak dan memelukku. Sama seperti almarhum anakku dulu.
"Suka muntah gak kalau di jalan?"
Raya menggelengkan kepala sementara Dila masih asik pada nasi gorengnya yang tinggal sedikit.
"Kalian suka boneka gak?" Tanyaku lagi. Kembali mereka saling menatap dengan wajah begitu merona. Aku tahu mereka sebenarnya ingin bilang suka.
"Ada yang suka gak? Kalau kalian suka, nanti papa belikan boneka yang banyak. Tapi ada syaratnya."
Wajah mereka masih terlihat berbinar-binar dengan mata menatap penuh penasaran dengan syarat yang akan aku berikan.
"Peluk papa dulu, deh."
Senyum mereka berdua sedikit memudar. Sepertinya mereka ragu sekaligus malu. Tanpa pikir panjang, aku sendiri yang menghampiri mereka dan membuka tangan lebar agar mereka masuk ke dalam pelukanku. Aku duduk agar tubuhku sama tinggi dengan mereka.
Dila, anak ke dua Nur bergerak duluan. Dia berjalan pelan dan mau memelukku meski segera dia lepaskan. Diikuti Raya. Si bungsu. Dia seperti ogah-ogahan. Terlihat dari cara dia berjalan. Tanganku yang kekar segera menarik tubuhnya pelan dan aku dekap.
Beda dengan Dila, Raya lebih lama memelukku. Begitu erat. Dia bahkan menaruh kepalanya di pundakku. Aku bisa merasakan kalau dia sangat merindukan sosok ayahnya.
Ada debar di dalam sini. Hangat tapi menusuk sekaligus. Ada bahagia dan juga sakit yang menancap bersamaan dalam hati.
Mereka merindukan ayahnya dan aku merindukan anakku. Kami sama-sama merindukan mereka yang tidak bisa lagi digapai.
Mataku memanas. Beruntung Nur datang hingga air mataku urung menetes.
"Wahhh ... ada yang lagi sayang-sayangan. Mama gak diajak, nihhh."
Dila dan Raya segera berhambur dalam pelukan Nur.
Apakah Nur juga tidak merindukan soson suami? Setidaknya tempat untuk dia bersandar atau untuk bercerita tentang bagaimana lelahnya dia menjalani hidup.
Tangannya yang kasar dan tumitnya yang pecah-pecah, sudah cukup menjelaskan bagaimana dia menjalani hidup. Membesarkan anak-anaknya seorang diri.
Mertuaku sepertinya tidak bisa memberikan lebih. Mengingat mereka pun hidup serba kekurangan.
Perih itu kembali menyusup ke dalam hati. Tanpa aku sadari, tangan ini bergerak dan membelai kepala Nur. Dia terlihat kaget, dan aku hanya tersenyum simpul sebelum pergi ke dalam kamar.