ON THE WAY

ON THE WAY
Delapan belas



Apa dia tidak punya hati? Kenapa dia selalu tersenyum di setiap keadaan?


Aku ke ruangan Nur. Di mana dia di rawat saat ini. Dia tertidur lemah. Senyuman masih menghiasi wajahnya saat aku datang.


Aku tersenyum. "Gimana keadaan kamu, Nur?"


Dia mengangguk pelan. "Baik, Mas."


"Maaf baru ke sini. Aku sibuk," ucapku sambil menarik kursi dan duduk di sampingnya.


"Gimana kata dokter?"


"Saya bisa pulang besok."


"Syukurlah."


Untuk beberapa saat kami saling diam. Menatap malu-malu. Ada apa denganku saat ini. Aku merasa kaku. Untuk berpaling saja rasanya sulit.


Tok! Tok!


Sepertinya suara ketukan pintu itu adalah sebuah bantuan agar aku bisa segera mencair. Nyatanya kedatangan orang itu membuat aku semakin tidak bisa bergerak.


"Eh, ada di sini juga? Wah, wah. Majikan yang baik."


*Apa dia bilang barusan? Majikan?


****!


Ah, benar juga. Aku bilang kalau Nur adalah pembantu di rumah kami. Ck*!


"Ngapain ke sini?" tanyaku kesal. Dia datang dengan baju casual-nya. Ada parsel buah dan juga buket bunga di tangannya. Cih!


"Yang jelas bukan mau ketemu sama Lo!" Dia menjawab ketus. Namun, wajahnya seketika berubah sopan saat dia berjalan ke arah Nur.


"Hai, udah mendingan?" tanyanya lembut.


Aissshh!


Dan aku hanya bisa diam melongo melihat Nur, istriku, sedang disapa oleh laki-laki lain.


Iwan melirik sekilas padaku. Ada senyuman sinis di wajahnya. Apa dia sedang mengejekku saat ini?


What the ....


"Iya, Mas. Alhamdulilah. Sendirian?" tanya Nur ramah. Dia juga tersenyum manis pada Iwan.


Tidak! Harusnya senyuman itu hanya untukku bukan?


"Iyalah. Terus, sama siapa lagi? Masa iya bawa penghulu sekalian."


Nur tertawa terbahak-bahak.


Lucu sebelah mananya coba? Ada yang bisa kasih tau?


"Kalian sudah saling kenal?"


Nur menghentikan tawanya. Raut wajahnya berubah seketika. Hah! Apa dia baru sadar ada aku di sini sejak tadi. Suaminya.


"Gak sengaja sebetulnya. Tapi patut disyukuri, sih. Dari kemarin gue minta dikenalin, tapi Lo gak peduli kayaknya."


Panas. Entah darah dari mana yang mengalir di tubuhku saat ini. Rasanya mendidih di sekujur tubuh.


"Kalau gitu, silakan berbincang. Saya PERMISI."


"Thanks, Bro, atas pengertiannya."


What?


"Hati-hati di jalan kalau mau pulang, Mas."


Oke, Iwan bisa dimengerti jika dia berterimakasih, tapi Nur? Kenapa dia malah seperti biasanya saja saat ditinggal berdua?


Ingin terus ada di sini, tapi apa boleh buat, aku sudah berpamitan pada mereka. Dengan dada bergemuruh, aku segera pergi meninggalkan ruangan Nur.


Sial!


*


Aku masih duduk santai di atas sofa televisi. Menonton film yang gak keren sama sekali sambil memakan kacang bawang.


Tidak aku pedulikan apa kata orang rumah tentangku yang tidak menjemput Nur di rumah sakit. Aku pikir, dia akan ada yang menjemput meski bukan anggot keluarga ini. Setidaknya ada anggota polri yang akan selalu siap sedia.


Benar dugaanku. Sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumah. Tidak lama terdengar suara berisik. Menyambut bahagia seseorang yang sepertinya sudah tahunan tidak pulang.


Tidak ingin melihat adegan selanjutnya, aku segera mengambil kunci motor dan jaket. Lebih baik aku mencari udara segar untuk bernafas lega.


Kaki yang semula buru-buru pergi, terhenti saat melihat Iwan dengan sigap membawa tas barang-barang Nur. Dia siaga berdiri di belakang wanita itu. Mereka saling melirik sebelum melangkah. Diiringi senyuman yang entah. Menggelikan.


"Loh, mau ke mana? Nur baru datang kamu malah pergi."


"Udah ada yang jaga ini."


Aku begitu saja melewati mereka semua. Tidak perduli orang tuaku memanggil berkali-kali.


Di jalanan pada seperti ini, memang tidak akan bisa membawa motor dengan kecepatan maksimum. Rasanya gak berguna banget motor mahal Segede ini. Fungsinya tidak berjalan dengan baik. Tidak ubahnya motor biasa yang lainnya. Padat merayap.


Entah mau ke mana orang-orang ini. Liburan bukannya diem di rumah, malah pada keluyuran! Cih!


Sebuah kafe di daerah perkebunan yang sejuk. Berada di pinggiran ibu kota. Suasananya masih sejuk dengan pepohonan yang rindang. Asri dan menenangkan.


Duduk di sebuah kursi yang menghadap pada alam. Melihat gemericik air sungai buatan dengan ukuran yang kecil. Ikan-ikan warna-warni yang menghiasi kolam, membuat mata cukup rileks.


"Mau pesan apa, Pak?"


"Oh, iya. Saya mau pesan–" Kata-kata dari mulutku terhenti seketika saat melihat siapa yang ada di depanku saat ini. Melihat wajahnya seperti membuka film lama untuk diputar kembali. Segala ingatan kini mulai terpampang jelas di hadapan mata.


Kisah cinta pertama yang sempat kandas karena kesalahpahaman.


"Nay?" tanyaku ragu. Aku ragu menyapa dirinya, tapi aku juga butuh kepastian. Aku ingin memastikan bahwa wanita yang membawa buku menu itu benar-benar lah Nayla.


"Lama tidak bertemu, Bhi."


Nayla. Ternyata itu Nayla.


Ada apa? kenapa aku bertemu lagi dengannya saat ini? Sementara dulu, aku begitu kesulitan mencarinya. Lalu, kini? Dia datang saat aku sama sekali tidak memikirkan dirinya.


Apakah ini sebuah pertanda? Atau sebuah jawaban atas doa yang dulu selalu aku panjatkan. Bahwa aku ingin dia kembali pada hidupku. Dengan kondisi dan situasi apapun juga. Aku ingin dia kembali padaku.