
"Kenapa? kenapa kamu hanya diam saat anak-anakmu disakiti? harusnya kamu berada paling depan dan membalas semua perkataan Melani. Bagaimanapun juga kamu itu istriku."
"Saya harus apa, Mas?Mba melangkah benar, kami memang dari kampung. Kami harus tau batasan berada dalam keluarga ini. Kami sadar. Kenapa saya harus marah?"
"Kamu lupa siapa diri kamu?"
"Istri Mas? Yakin? Mas sendiri merasa gak kalau aku ini istri Mas?"
Ucapannya membuat aku diam seketika. Meski aku tidak mengerti maksud dari ucapannya, tapi itu membuatku sangat ... entahlah.
"Sudahlah, Mas. Jangan diperpanjang dan jangan diambil hati. Terima saja kalau istri Mas ini kampungan dan norak."
Dia berlalu dari luar hotel begitu saja. Mungkin dia kembali ke ballroom tempat kami mengadakan acara.
Dia kenapa malah balik marah padaku, apa karena malam itu?
Ada apa dengan wanita? tidak bisakah mereka berbicara langsung saja tanpa memberikan teka-teki yang bukan lagi silang.
Dia baik tapi kadang terlihat marah, kemudian baik lagi.
"Bro."
Aku hanya tersenyum malas saat Kak Ardi datang. Mungkin dia akan meminta maaf atau mungkin akan memintaku untuk memaklumi istrinya. Seperti yang sudah-sudah.
"Ayah tau tentang bagaimana sikap temannya itu. Kita tidak perlu lagi mengurusinya. Biar Ayah sendiri yang turun tangan. yaaa, kita tahu bahwa tidak mudah menghukum orang yang sudah sangat kita percaya."
"Sukrulah."
"Gitu doang?"
"Terus? ya udah, kalau udah diurus sama Ayah. ngapain lagi coba? gue lebih pusing mikirin istri dari pada Pak Purnawan."
"Kenapa?"
"Gue heran sama Nur, dia kenapa diem aja coba pas anaknya diperlukan seperti tadi oleh Melani. Dia harusnya melindungi anaknya bukan malah diem."
Kak Ardi menghela napas. Kemudian dia duduk sambil membuka dasi dan kancingnya baju atasnya.
"Nur itu bukan tidak melindungi. Dia hanya tidak ingin ribu ditengah pesta mertuanya. Menurut gue, sih, dia bener. Itu bagus. Meski dari kampung, dia tidak kampungan dengan ikut berteriak di keramaian."
"iya, gak kaya istri Lo itu."
"Mau gimana lagi? Gak mungkin juga gue cari istri baru hanya karena satu kekurangannya yang ada di Melani."
Berbeda sesekali dengan Nur. Dia hanya akan diam, diam dan diam. Entah dia marah, sedih atau bahagian, dia hanya diam. Bingung jadinya.
***
Pesta berakhir dengan lancar meski sempat diwarnai kekacauan yang di buat Melani. Sampai detik ini, aku masih merasa kesal. Terutama pada Nur. Aku suka dia baik dan penurut, tapi bukan berarti dia diam saja saat ada yang menghinanya. Bagaimana pun juga, dia kini menyandang namaku juga. Tidak akan aku biarkan, apa yang menjadi milikku dihina orang lain. Melani sekalipun tidak memiliki hak untuk itu.
"Mas, sarapan dulu."
"Tidak. Terima kasih."
Aku melewati meja makan begitu saja saat hendak berangkat kerja. Beruntung tidak ada anak-anak di sana. Entah di mana mereka saat ini.
"Mas ... Mas ... tunggu sebentar."
Aku mendengar Nur memanggilku, sepertinya dia mengikuti dari belakang. Biarkan saja. Aku masih kesal padanya. Sebagai seorang istri, dia tidak bisa menjaga wibawanya dan mau diam saja dihina di depan orang banyak.
"Mas." Kakiku terhenti saat tangan Nur menggapai tanganku. Kini, dia sudah ada di hadapanku. Menatap iba.
"Ada apa?"
"Mas marah? Salahku apa, Mas? Kalau aku ada salah, tolong katakan. Jangan diem gini."
"masih tidak sadar juga? Ya ampun!"
"Gara-gara kemarin, Mas?"
"Iya!" Aku membentak sampai dia terhenyak kaget. "Aku tidak suka kamu diam saja saat dihina orang lain di depan banyak orang. Itu tamu orangtuaku tau kalau kamu itu istriku, Nur. Kamu bisa tidak menjaga nama baikku?"
"Bukan begitu, Mas."
"Terus gimana? Semua sudah terjadi seperti ini dan itu membuat aku sangat kesal. Kamu tahu itu?"
"Bagi saya, hinaan itu tidak seberapa, Mas. Ketimbang saya harus berteriak balik untuk membalas Mba Melani. Apa kata orang jika menantu keluarga kita bertengkar di pesta pernikahan mertuanya. Juga ... bertengkar di hadapan banyak orang itu, tanda manusia tidak berakhlak, Mas. Justru saya takut harga diri Mas akan jatuh karena memiliki istri tidak beradab. Mungkin harga diri Mas terinjak karena saya dihina. Tapi apa mas tau bagaimana sakitnya hati saya? Saya merasakan yang lebih, Mas."
Aku tertegun. Apa yang dia katakan memang benar adanya. Dia yang dihina dihadapan semua orang, harga dirinya pasti sangat terluka.
"Tapi, selama yang menghina harga diri saya bukan Mas, maka saya akan melupakannya dengan cepat."
Entah apa yang harus aku katakan lagi pada wanita bo ... doh ini. Ahhhh, sudahlah. Lebih baik aku pergi dan mengakhiri perdebatan ini. Aku bahkan tidak membiarkan Nur mencium tanganku.