
Setelah makan dan mengambil pakaian Fazrina, kami pun bergegas pulang ke rumah Ibu. Kami memang akan tinggal di sana karena Ibu hanya berdua dengan Arsel. Aku sendiripun tidak ingin berpisah dengan orang tua yang hanya tinggal satu. Menyesal karena belum sempat memberi kebahagiaan pada Ayah sampai dia pergi, tidak ingin terulang pada Ibu.
"Kamu gak apa-apa tidak tinggal serumah lagi sama bunda?"
"Setelah menikah, kewajiban seorang wanita adalah mengikuti suaminya. Surganya bukan lagi di telapak kaki ibu tapi ada pada suami. Pun dengan tanggung jawab ayah atas putrinya yang pindah ke pundak suami atas istrinya si suami."
"Kamu sendiri sebagai manusia, apakah tidak apa-apa?"
"Entahlah. Saya belum tau karena belum memulai kehidupan bersama kamu, Mas."
Ada apa dengan wanita ini? Aku bertanya A, dia jawabannya rangkai kata.
"Tidak akan apa-apa jika aku hidup di keluarga yang sama baiknya dengan keluargaku. Beda kisah kalau ...."
Aku menoleh.
"Kalau?"
"Sudahlah, kita jangan bahas ini di sini."
"Kalau keluargaku tidak baik?"
"Maaf bukan maksud untuk ...."
"Ibuku sangat baik. Dia bahkan yang memintaku untuk menikahimu. Itu artinya dia menyukai kamu bukan? Untuk Arsel, dia memang agak sengak dan sembarangan kalau bicara, tapi dia baik."
"Kamu sendiri, Mas?"
"Ya?"
Dia hanya menatapku tajam saat aku menoleh padanya.
"Aku? Emmm, itu tergantung kamu mau melihat dari segi yang mana."
Jelas! Kalau dari segi masalah perempuan, aku bukan orang baik, Fazrina. I'am sorry.
"Gak usah gugup gitu, Mas. Aku becanda kok. Lagian ... kalau memang kamu bukan orang baik, itu artinya aku pun tidak baik menurut Allah, aku masih harus banyak belajar dan memantaskan diri jika ingin mendapatkan suami yang baik."
"Maksdunya?"
"Allah sudah memberikan kita pasangan di dunia ini. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula, pun sebaliknya."
What?
Jika aku ini seorang pemain wanita, apa itu artinya di balik baju dia yang mengaku lantai dan cadarnya, dia juga seorang pemain?
Pikiranku langsung traveling. Apa Ibu tidak salah memilihkan istri? Atau jangan-jangan Ibu juga tertipu oleh penampilannya yang agamis tapi ternyata ....
"Selama ini saya sudah berusaha menjaga diri, bahkan tidak pernah memiliki 'teman laki-laki', jika itu masih belum membuat saya menjadi wanita baik, mungkin saya perlu meningkatnya keimanan dan ibadah saya lagi. Bantu, ya, Mas. Semoga Mas bisa menjadi imam yang baik dan saya juga bisa jadi makmum yang bisa mengingatkan imamnya saat keliru."
Hupfff.
Ternyata pikiranku uang kotor. Lah, memang bukannya pikiranku tidak pernah bersih. Semuanya kotor dipenuhi oleh tubuh wanita seksi.
Saat mobil masuk ke halaman, Ibu dan Arsel sudah berdiri di depan pintu. Mereka menunggu kedatangan kami. Bukan, tapi mereka menunggu kedatangan Fazrina. Anggota keluar baru di rumah ini.
Senyum ibu begitu merekah. Aura wajahnya terlihat sangat bagus. Sepertinya dia begitu bahagia karena adanya Fazrina.
"Assalamualaikum, Ibu."
"Waalikumsalam, Nak. Alhamdulillah akhirnya kalian sampai juga."
"Halo, Kak. Selamat datang di rumah kami. Semoga betah ya tinggal sama ... dia." Arsel menunjuk padaku dengan dagunya. Aku mengangkat kepalan tangan. Mengisyaratkan bahwa aku ingin meninju wajahnya.
"Ayo masuk. Ibu sudah menyiapkan makan untuk kalian."
"Rina puasa, Bu. Maaf, ya." Dia terdengar begitu menyesal.
"Oh? Aduhh, kalau begitu ibu yang minta maaf. Nanti sore mau buka puasa sama apa? Biar ibu yang siapkan."
"Tidak perlu, Bu. Rina bisa makan sama apa saja kecuali makan ati."
Ibu dan arsel tertawa, pun dengan ibu. Hanya aku yang tidak tertawa karena aku tau, untuk hari-hari berikutnya, wanita itu pasti akan makan ati berkali-kali.
Perjalanan dari depan ke ruang tengah saja terasa lama, mereka yang terus saja ngobrol tidak menyadari bahwa langkah mereka begitu lamban. Mungkin, jika ada anak yang sedang belajar merangkak, akan lebih dulu sampai.
"Kamar kamu dan Elvan ada di atas, Arsel juga ada di atas. Kamar ibu ada di bawah karena sudah gak kuat naik tangga yang panjang itu." Ibu tertawa, mentertawakan dirinya sendiri.
"Iya, Bu. Lebih baik ibu di bawah saja biar gak cape juga naik turunnya. Kalau begitu, Rina pamit ke kamar ya, Bu. Sebentar lagi waktu salat asar habis, Rina belum salat."
"Iya, iya. Nanti turun kalau udah waktunya berbuka puasa. Istirahat saja dulu, ya."
"Iya, Bu. Aku dan Rina pamit ke atas. Ar, bawain kopernya satu."
"Iya, Bang. Siaaap!"
Aku yang dari tadi memang ingin segera ke kamar untuk istirahat, sengaja berjalan lebih dulu. Sementara Fazrina dan Arsel ada di belakang.
"Kak, cadarnya kalau di rumah dipakai atau dilepas?" tanya Arsel.
"Tergantung, Ar. Cadar ini sifatnya sunah, bukan wajib. Saya bisa lepas kalau di rumah. Toh, kamu sudah jadi adik saya juga."
"Jujur, aku penasaran sama wajah kakak. He he he."
"Selain Ayah dan kakak ipar, baru Mas Elvan yang melihat wajah saya, Ar."
"Seriusan?"
"Wahhh, beruntun banget dong si Abang. Hmmm, kira-kira aku bisa gak ya dapet istri yang seperti Kakak?"
"Panaskan diri dulu, Ar. Kita jangan mencari yang baik tapi kita sendiri tidak melayakkan diri."
"Memangnya si Abang baik, sampai dapetin wanita istimewa seperti Kakak?"
"Saya tidak tahu, tapi Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Mungkin ... di mata kita tidak baik, tapi di mata Allah adalah yang paling baik. Wallahu alam, Ar."
"Udah mah Solehah, bijaksana juga, sopan dan santun juga. Duhhh, Kak, punya kembaran gak? Buat aku satu, dong."
Mereka berdua tertawa. Meski suara Fazrina terdengar kecil. Setiap dia tertawa selalu menutup mulutnya dengan tangan. Entah kenapa.
"Ini kamar kita. Kamu, pergi dari sini." Aku mendorong pundak Arsel.
"Lah, siapa juga yang mau ikut masuk. Ogah banget jadi nyamuk!"
"Mas ... jangan gitu, ah!"
Arsel terlihat girang karena merasa dibela.
"Nanti ketemu pas kakak buka puasa ya. Aku temenin. Soalnya Abang gak suka makan di atas jam lima. Takut perutnya buncit katanya."
Fazrina kembali tertawa.