ON THE WAY

ON THE WAY
Tiga



"Mas, bangun."


Dengan mata yang masih terasa rapet, terpaksa aku membukanya. Ada dia di depanku. Menatap dengan mata yang indah. Bulu matanya lentik dan terlihat seperti basah tapi memang tidak basah. Entahlah seperti apa aku harus menggambarkan kecantikan matanya. Eh, wait ...


Aku segera bangun dan memalingkan wajah ke arah lain. Duduk di sisi ranjang dengan memegang pangkal hidung yang terasa berat.


"Ada apa?" tanyaku sedikit kesal.


"Subuh, Mas. Udah jam lima lebih. Dari tadi aku bangunin tapi gak bangun-bangun."


"Hmm." Malas mendengar omongannya yang panjang lebar, aku segera bangun dan menuju kamar mandi untuk wudu, takutnya dia akan membuat pagi ini dengan ceramahnya yang luber.


Waktu terus beranjak. Baik aku atau dia sudah rapi dan wangi karena bilasan air mandi.


"Ayo sarapan," ajakku.


"Aku puasa, Mas. Ini 'kan hari Senin."


"Oh ... jadi aku sarapan sendiri? Baiklah."


"Mau saya temenin?"


"Iyalah! Masa pengantin baru sarapan sendirian. Gak usah kawin aja kalau gitu."


"Iya, Mas. Maaf."


Dia yang duduk di sofa dengan tasbih digital bling-bling nya, langsung bangun dan mengikuti langkahku dari belakang.


"Deketan napa." Aku menarik tangannya agar berjalan di sampingku. Dia terkejut dengan apa yang aku lakukan barusan. Terlihat dari matanya yang sedikit melebar.


Di dalam lift bukan hanya ada kami. Ada tiga orang laki-laki yang umurnya mungkin sama denganku.


Tidak aneh memang jika kita berada dengan beberapa orang di dalam lift, hanya saja salah satu dari laki-laki itu sering melirik Fazrina. Dia bahkan seperti sengaja mendekatkan lengannya pada lengan istriku.


Lagi-lagi Fazrina kaget, dia langsung menoleh dengan tatapan 'kenapa?', saat aku merangkul dan menggeser tubuhnya agar menjauh dari laki-laki itu.


AKU TIDAK SUKA MILIKKU DISENTUH ORANG. itu!


Pintu lift terbuka, aku biarkan mereka berjalan terlebih dahulu, sementara aku masih merangkul Fazrina.


"Kenapa, Mas?" tanyanya tanpa berdosa.


"Kamu gak sadar laki-laki itu mepet-mepet sama kamu?"


"Iya, sih ...," jawabnya malu-malu atau mungkin menyesal. Entah.


"Kalau sadar kenapa diem aja? Kamu nerima aja gitu kalau dia nempel-nempel? Aku aja suami kamu belum berani nyentuh. Enak aja dia udah berani-beraninya."


Mata Fazrina menyipit, mungkin dia tersenyum. Ah, aku ingin melihat ekspresi yang dia tunjukan. Senyuman itu meledek atau apa?


"Kamu bisa gak, gak usah pakai penutup wajah?"


"Kalau Mas yang minta akan aku lepas. Lagian, cadar ini sunah, sementara perintah Mas untuk saya adalah kewajiban. Hanya saja ... saya udah terbiasa pakai cadar, Mas. Rasanya aneh dan saya malu kalau melepas di sini. Mas tega?"


Kenapa wanita ini sangat pandai berbicara. Membuatku aku selalu dalam situasi yang serba salah.


"Ya sudah, pakai saja. Lakukan saja apa yang kamu mau. Aku gak akan ambil pusing."


Aku melihat matanya kembali menyipit. Dia tersenyum lagi?


Obrolan kami membuat aku tidak menyadari kalau tempat makan sudah terlewati.


Dia benar-benar meledek sepertinya. Ck!


"Kamu ngapain masih ngikutin? Bukannya kamu puasa?"


"Saya disuruh nemenin kan?"


Duh! Rasanya itu mata ingin aku colok. Tatapan polosnya membuat aku merasa ... gemas? Eh.


"Ya udah, kamu duduk aja di sana. Aku minta kamu nemenin makan, bukan nemenin ambil makan." Aku sedikit menekan nada suara karena kesal.


"Iya, Mas. Maaf."


Dia segera pergi menuju meja yang ada di samping jendela. Lalu, aku mengambil roti bakar dan salad. Sarapan kali ini cukup ini saja. Takutnya malah memberatkan puasa Fazrina jika mengambil sarapan yang enak-enak.


Astagaaa. Kenapa aku harus memikirkan puasa dia? Ck!


"Main ponsel aja biar kamu gak fokus sama aku yang lagi makan."


"Ponsel saya di kamar, Mas."


Aku mengambil ponsel di saku celana. "Pakai ini." Ponsel itu aku sodorkan padanya.


"Kuncinya, Mas." Dia kembali memberikan ponsel.


Sesekali aku meliriknya yang tampak asik membuka YouTube. Aku pernah melihat wajahnya tanpa cadar di ponsel, tapi ternyata dia memang lebih cantik aslinya. Padahal aku hanya melihat matanya saja.


Aku laki-laki normal, aku memuji bahwa dia memang cantik. Tatapan matanya yang polos bisa membuat siapa saja gemas padanya.


Namun, semua itu belum menghadirkan rasa lain. Ya, wajar saja karena ini baru hari pertama kami bersama. Meski aku ragu pada pernikahan ini. Akankah aku atau dia mencintai satu sama lain nantinya.


Apapun yang terjadi, aku hanya ingin terlihat baik sebagai laki-laki. Juga karena tidak ingin ada rumor tidak enak dan sampai ke telinga Ibu.


Kali ini, aku hanya harus bersikap seperti suami pada umumnya. Bersikap baik pada wanita yang ada di hadapanku. Lagi pula, siapa tau kalau Fazrina pun sedang melakukan hal yang sama saat ini. Berbuat baik hanya karena kewajiban.


Selama ta'aruf, baik aku atau dia tidak pernah membicarakan perasaan. Tidak pernah bertanya 'apakah kamu menerima pernikahan ini?' Kami berkomunikasi pada saat ada hal yang berkaitan dengan urusan pernikahan. Sisanya, gak ada.


"Udah, Mas?" tanyanya. Mata itu melihat piring kosong yang hanya aku aduk pakai sendok. Kembali aku merasa serba salah. Takut dia tahu kalau sedari tadi aku memperhatikannya diam-diam.


"Ya. Ayo, kita kembali ke kamar. Sebentar lagi aku ingin pergi berenang."


"Iya, Mas. Ini ponselnya."


"Bawa aja."


"Iya, Mas."


Lucu sekali. Dia selau berkata 'Iya, Mas'. Gak ada, gitu, yang ingin dia ucapkan. Seperti, 'Kenapa aku yang bawa?' atau, 'kok gitu'.


"Jangan jauh-jauh. Kalau ada laki-laki lain, menghindar. Gak usah sungkan, kalau ingin bersembunyi di belakangku."


"Iya, Mas."


"Ck! iya mulu dari tadi," gumamku.


"Kenapa, Mas?" tanyanya. Rupanya dia tidak mendengar apa yang aku katakan tadi.


"Gak apa-apa."


Tidak terasa sebuah senyuman terukir di wajahku. Buru-buru aku hilangkan. Jangan sampai dia memberi arti lain dari senyuman ini. Aku hanya merasa konyol saat ini, bukan yang lain.