
Malam ini, tentu saja Nur tidur di kamarku. Sementara anak-anak tidur di kamar tamu. Kamar untuk mereka baru akan dibuat dua hari lagi.
Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 10 malam. Nur belum juga masuk ke kamar. Padahal semua orang telah membubarkan diri sejak tadi.
Baru saja aku bangun untuk mencari Nur, pintu kamar terbuka. Dia datang.
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf, Mas. Anak-anak tidak mau saya tinggal," jawabnya lemas. Mungkin dia lelah harus menenangkan anaknya.
"Mereka sudah tidur?"
"Entahlah. Tadi, sih, udah. Tapi sepertinya mereka hanya pura-pura."
Tanpa bertanya lagi, aku pergi dari kamar menuju kamar tamu. Nur ikut di belakang. Begitu pintu terbuka, aku melihat mereka segera menutup tubuhnya dengan selimut. Mereka yang tadi masih bangun, sekarang tidak bergerak sama sekali.
"Apa anak-anak papa sudah tidur?"
Tidak ada jawaban. Mereka masih asik dengan pura-puranya.
"Papa mau dongeng, siapa yang mau denger, ya, kira-kira. Mama mau denger gak?" tanyaku pada Nur. Wanita itu malah kebingungan. Ya ampun!
"Kira-kira dongeng tentang apa, ya, yang seru?"
"Kancil." Si kecil menjawab dari balik selimut.
"Oh, kancil, ya? Baikalah, papa akan bercerita tentang si kancil, tapi buka dulu dong selimutnya. Masa papa dongening yang gak ada mukanya."
Perlahan mereka menyibak selimutnya. Matanya yang mungkin silau terkena sinar lampu, berkedip-kedip. Poni mereka tampak acak-acakan.
"Papa boleh bobo di tengah enggak?" tanyaku sambil menunjuk tempat di anatara mereka. Mereka pun bergeser saling menjauh. Menyisakan ruang untukku tidur.
"Nah, ayo kita mulai dongengnya."
Dila dan Raya tidur dengan lengan atas ku sebagai bantalnya dan dadaku yang menjadi banyak guling untuk mereka peluk.
Aku menceritakan kisah sang kancil yang selalu mencuri buah tanaman petani. Mereka begitu serius mendengarkan. Kadang mereka tertawa saat ada yang dirasa lucu,.mereka juga terlihat tegang saat ada bagian yang menegangkan.
Nur menyelimuti kami bertiga. Dia pun ikut mendengar dengan duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
Semakin lama, suara mereka sudah tidak terdengar lagi. Rupanya mereka telah tertidur.
"Mereka sudah tidur, Mas."
"Aku tidur di sini saja. Kamu tidur di kamar sendiri, gak apa-apa kan? Aku takut kalau aku bangun, mereka akan ikut bangun juga."
"Untuk apa?" aku bertanya dengan mengalihkan pandangan. Senyumannya menimbulkan desir aneh di dalam darah.
"Karena Mas begitu baik pada Dila dan Raya. Kerinduan mereka pada sosok ayah, telah Mas penuhi. Mas memberikan semua yang anak-anak di dunia ini inginkan."
"Oh, itu. Bukan masalah. Dila dan Raya bisa membuat siapa saja jatuh cinta dalam sedetik."
Hening.
"Pergilah. Kamu juga perlu istirahat. Tolong bangunkan kami nanti subuh."
"Iya, Mas. Saya pamit ke kamar dulu. Selamat malam."
"Ya."
Bukannya pergi, Nur malah naik ke atas ranjang.
Oh, rupanya dia mencium Dila sambil membacakan doa di kepalanya. Nur pun melakukan hal yang sama pada Raya, sialnya kenapa dia melakukan itu tidak turun dari ranjang dan berjalan ke arah Raya, kenapa dia harus melakukannya itu dengan melewati aku dan Dila.
Dia merangkak untuk menggapai Raya dari arah Dila yang ada di kiri tubuhku. Sementara Raya ada di sebelah kanan tubuh.
Tidak sadarkah dia kalau sesuatu dari bagian tubuhnya menyentuh dadaku?
Arrgghhh!
Menyebalkan!
"Saya pergi, Mas."
Pergi? Setelah dia membuat darahku mendidih, dia bilang dia ingin pergi? Sial!
"Nur!"
Pintu yang hendak tertutup rapat, kembali terbuka. "Iya, Mas?"
"Tunggu aku. Kita ke kamar sama-sama. Anak-anak sepertinya sudah nyenyak."
"Oh, iya, Mas."
Dengan sangat perlahan, aku melepaskan tangan dari mereka. Lalu turun dengan sangat hati-hati. Namun ....
"Papa ... jangan pergi. Dila takut."
Astagaaa ... Tolong, Tuhan!