ON THE WAY

ON THE WAY
Sembilan belas.



Meski sudah ada di rumah, tapi nyatanya pikiranku entah berada di mana. Terkadang dia pergi ke masa lalu. Lalu kembali pada hari ini.


Aku bukanlah Don Juan. Aku hanya laki-laki biasa yang kebetulan disukai banyak wanita. Hanya saja, seumur hidupku hanya ada dua wanita saja yang berhasil masuk dan lama singgah dalam hati. Nayla dan mending istriku.


Dua wanita yang nyatanya tidak bisa menghilang dari pikiranku. Dia pernah hilang saat aku menikah. Atau mungkin, dia tidak pernah menghilang, dan hanya bersembunyi di ruang hati yang tidak bisa aku jamah.


Kini, aku sudah menjadi suami seseorang. Dia tidak aku cintai, tapi meski begitu aku adalah laki-laki yang memiliki harga diri. Berselingkuh tidak ada dalam kamus hidupku.


Kulirik Nur yang sedang tertidur pulas di sampingku. Ya, kini dia kembali tidur di ranjang yang sama denganku, jangan sampai dia kembali sakit karena rasa tidak nyaman meringkuk di sofa.


"Aku harus bagaimana sekarang, Nur?"


Pening rasanya kepala. Mungkin dengan tidur, aku bisa sedikit meredakannya.


Pagi hari, Nur seperti biasa membangunkan untuk salat subuh. Tentu saja aku tidak menolak.


"Kalau merasa tidak enak badan, bilang saja. Jangan kamu pendam sendiri. Aku merasa tidak berguna menjadi seorang suami."


"Iya, Mas."


Hanya itu.


Nur melipat mukena dan sajadah bekas kami salat. Rasanya sangat tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan kemarin. Aku tahu, Nur tidak akan pernah tau, tapi aku sendiri merasa tidak nyaman dan ada sedikit rasa bersalah padanya.


Bagaimanapun juga, Nur itu baik dan penurut.


"Kamu kenal Iwan di mana?"


Sejenak Nur terdiam. Dia menatapku salah tingkah.


"Dia memang laki-laki baik. Juga bertanggung jawab. Setidaknya dia tidak seperti aku. Sayang, kalian bertemu setelah kita menikahi."


Entah apa yang aku katakan saat ini. Cemburu kah? atau hanya melampiaskan rasa bersalah dengan menyudutkannya.


"Kenal di rumah sakit. Tapi kami tidak ada apa-apa. Dia hanya baik karena dia bilang dia adalah temen kamu, Mas."


Benar. Dia tidak mungkin mendekati istri orang. Dia hanya selalu menutupi kesalahan yang aku lakukan. Bagaimanapun tidak, selama Nur sakit di rumah sakit, aku sama sekali tidak menjenguknya apalagi menjaganya waktu itu.


...*...


"Kamu apa kabar, Nay?"


"Nay?" wanita itu bertanya dengan wajah setengah meledek atau mungkin mempertanyakan sesuatu. Hal yang tidak biasa aku katakan.


"Ah, iya. Aku lupa kalau kamu sudah menikah, Bhi."


Dia bahkan masih memanggil diriku dengan panggung sayangnya.


"Dunia ini ternyata sempit, ya, Bhi."


Aku menoleh padanya yang menatap ke langit siang itu, dengan nampan yang masih dia peluk di dadanya.


"Aku bahkan tidak pernah menyangka atau bermimpi ketemu lagi."


Nayla masih menatap lurus ke atas. Wajahnya masih tetap cantik meski pipinya agak tirus. Aku suka pipinya yang chubby, dulu.


"Bahkan dengan pertemuan yang seperti ini. Kamu pelanggan, dan aku pelayan di sini. Ya, memang. Sejak dulu derajat kita memang seperti ini, kan, Bhi?"


Dia menoleh. Tidak ingin ketahuan sedang menatapnya, aku segera memalingkan wajah.


"Derajat manusia yang satu dengan yang lainnya, pembedanya apa, Nay?"


"Tentu saja harta, Bhi. Apalagi?"


"Nyatanya aku menikah dengan wanita yang bahkan naik lift aja belum pernah."


"Kalau begitu, dia beruntung. Tidak seperti aku."


Sejenak kami saling diam. Lama, dan sangat lama.


"Pertemuan kita, apakah ini pertanda baik atau buruk ... Bhi?"


Aku bahkan tidak berani menoleh padanya. Memilih diam menikmati angin yang membawa hawa panas ke dalam sini, dada.