ON THE WAY

ON THE WAY
Empat belas



Hari ini adalah hari anniversary orang tuaku. Seperti tahun-tahun yang lalu, Melani lah yang mempersiapkan semaunya. Maklum, tidak ada lagi anggota keluarga yang bisa melakukan semua ini. Pekerja perempuan.


Tahun ini ada Nur, tapi dia belum terbiasa menyiapkan acara besar. Lagi, Melani yang mengatur semuanya.


Acara pesta ini hanya mengundang sanak keluarga dan kerabat dekat saja. Atau juga ada undangan khusus orang tuaku yang mengundang partner kerja yang sudah sekian lama bekerjasama.


Seperti pada acara pesta lainnya. Isi acara itu adalah tiup lilin, memotong tumpeng, juga mendoakan kesehatan, rezeki dan langgengnya hubungan yang punya hajat.


"Ibu mau sewa play ground. Tamu kita ada yang suka bawa anak-anak, juga karena keluarga kita pun ada anak-anak sekarang."


Begitulah awal mula ada play ground di acara aniversary sepasang lansia. Lucu memang. Biasanya play ground hanya ada di acar ulang tahun anak.


Dan ... Hal ini pula lah yang membuat Melani kesal. Dia merasa Ibu pilih kasih.


"Ziyan dan Zayin ada sejak lama, kenapa baru kali ini Ibu menyewa play ground? Apa karena ada anak-anak kampung itu?"


Tidak ada yang berani menjawab, pun dengan orang tuaku yang memilih diam dan mengabaikan pertanyaan Melani saat kami meeting dua hari yang lalu.


Melani yang selalu tampak cantik dan anggun, terlihat semakin murka saat Ibu dengan bangganya memperkenalkan Nur pada tamu yang hadir.


Tidak mengerti apa yang mereka kagumi dari Nur, tapi mereka terlihat senang dan berdecak kagum pada Nur.


Mungkinkah karena Angga membawanya ke salon dan butik, sehingga dia terlihat begitu cantik dan anggun. Gaun muslimah warna silver itu terlihat cocok di tubuh Nur. Juga riasan wajahnya yang sederhana tapi membuat wajahnya fresh.


Ahhh, sedang bicara apa aku ini?


"Dia itu setiap hari setiap malam bareng Lo. Gak usah sampe melotot gitu liatin bini sendiri," goda Kak Ardi saat tiba-tiba datang menghampiri.


"Urus aja Melani. Dia sepertinya kebakaran jenggot melihat Nur dan Ibu."


"Lupakan saja. Dia memang seperti itu. Selalu merasa tersaingi dan merasa iri."


"Dan Lo terima gitu aja, Kak?"


"Karena gue cinta. Kekurangan dia yang harus gue tutupi. Mau sampai kapan kalau kita hanya sibuk mencari kelebihan istri kita? Ganti berapa kali pun mereka tetap memiliki kekurangan. Sama kaya kita."


"Terus ... Bagaimana dengan Pak–"


"Rama, kenakan. Ini sahabat lama Ayah, dia juga orang kepercayaan Ayah selama ini."


Aku dan Kak Ardi hanya bisa diam mematung. Bahkan untuk menarik napas saja rasanya sangat sulit.


Sahabat yang ayah anggap, ternyata belati yang menusuk anak-anaknya.


Apa yang harus aku lakukan saat ini?


"Ah, iya. Saya sudah mendengar banyak tentang Anda, Pak. Anda benar-benar pria hebat. Saya senang pada akhirnya bisa bertemu langsung."


"Saya juga ... Pak," ucapku kaku. Aku hanya mengikuti apa yang Kak Ardi lakukan. Toh, dia yang punya rencana tentang pria tua di depan kami ini.


Basa-basi pun berlangsung. Aku hanya bisa berdecak kagum pada Kak Ardi, dia bisa dengan tenang dan santainya menghadapi musuh yang sudah di depan mata.


"Jangan!" Suara Melani yang begitu keras membuat aku dan yang lainnya mengalihkan perhatian.


Ada Ziyan dan Zayin di sana. Dila dan Raya pun ikut serta. Sepertinya mereka sedang bermain jungkat-jungkit.


"Tapi, Mom. Aku mau main sama Raya."


"Mom bilang jangan! Denger gak kamu? Sudah, kamu main saja di tempat lain."


"No! Aku mau main sama mereka."


"Ziy! Dengen Mom enggak? Mereka itu bukan sodara kita. Dila dan Raya itu hanya anak kampung yang numpang hidup di rumah Om Rama."


Mendengar ucapan Melani, kepalaku terasa mendidih. Ada deburan hebat dalam dada yang meminta segera diluapkan.


Tidak perduli Kak Ardi yang menarik tanganku, langkah kaki semakin cepat menghampiri mereka.


"Dengar, ya, Ziy. Mereka itu tidak pantas bergaul sama kita. Kamu anak Mom dan Dad, sementara dia? Dia anak–."


"Dia anakku. Aku ayahnya. Apa ada masalah? Ziyan, Zayin, Dila dan Raya adalah anak Om, kalian mau bermain? Bermainlah."


"Jangan! Mereka tidak boleh bermain dengan sembarang orang. Anak-anak kampung ini tidak pantas bermain dengan anak-anak aku, Rama."


"Ya, benar. Kamu tidak salah, karena Dila dan Raya lahir dari wanita hebat dan santun, beda dengan kamu."


"Ramadhan!"


"Kenapa? Sudah saya peringatkan sejak awal. Terima mereka atau silakan menjauh."


"Mas, sudah. Jangan diperpanjang lagi. Malu dilihat orang." Nur berusaha menenangkan.


"Harga diriku diinjak di sini. Bagaimana bisa aku tinggalkan diam jika anak-anakku dihina seperti ini."


"Mba Melani benar, Mas. Dila dan Raya memang orang kampung. Kami berasal dari kampung. Apa yang salah dengan itu?"


"Nur!"


"Sudah, Mas. Ayo, lebih baik kita pergi. Jangan hancurnya acara Ibu dan Ayah. Malu dilihatnya para tamu."


Nur meraih pundakku dari depan, dibawanya aku dan anak-anak menjauh dari tempat Melani berada.


Gemuruh dalam dada belum juga reda. Entah kenapa aku begitu marah dan emosi melihat Melani melakukan hal itu pada Dila dan Raya.


Kejadian yang sama saat anakku lahir dengan kelainan. Melani tak henti-hentinya menghina. Dan saat ini ... dia kembali menghina Dila dan Raya. Meski bukan anak kandung, tapi mereka begitu cepat mengambil hatiku. Ya, aku mencintai anak-anak Nur. Itulah kenyataannya. Rasa sayang itu tidak bisa aku sembunyikan.


Melani. Siapa dia berani bersikap seenaknya. Tempat suami A bekerja adalah perusahaan milikku, apa yang dia banggakan sampai dia bersikap angkuh seperti itu?


Arrgghhh. Sial!