
Kepalaku terasa begitu berat saat ini. Padahal, hati ini akan menjadi hari paling membahagiakan bagi beberapa orang. Tidak denganku. Menyedihkan memang. Kenapa aku harus merasa kesal saat orang lain merasa berbahagia.
Tawa mereka, canda mereka adalah belati yang mengoyak hatiku. Tidak adakah di antara mereka yang sadar bahwa aku di sini sedang terluka? Sialan! Mereka tampaknya memang sangat bahagia.
Ingin rasanya aku meremas sampai hancur hantaran pernikahan ini. Rumahku yang sangat besar mendadak terasa sumpek karena dipenuhi barang-barang sialan itu. Cih!
"Adu du du du ...."
"Boboiboy kali." Aku menimpali dengan ketus dan pergi begitu saja saat tante--adik dari ayahku--menghampiri. Jika aku tidak pergi meninggalkan dia, maka bisa sampai besok pagi aku mendengar suaranya yang seperti kaleng rombeng. Masa bodo dengan wajahnya yang langsung bermuram durja melihat tingkahku.
Mereka saja tidak perduli pada perasaanku saat ini, kenapa aku harus perduli pada mereka? Bukankah manusia itu akan mendapatkan apa yang mereka tanam? Tapi ... apa itu juga berarti yang sekarang terjadi padaku karena ulahku sendiri?
Kalau ini memang karma, lalu karma dari kesalahanku yang mana? Ah! Begitu bejadnya diri ini sampai kesalahan yang terlalu banyak tidak bisa aku ingat satu persatu.
Baru saja aku duduk, pintu kamar sudah ada yang mengetuk. Siapa lagi kali ini? Semoga bukan Tante atau siapapun yang berjenis kelamin wanita. Berisik!
"Masuk!" Aku menjawab ketukannya dengan nada suara sedikit tinggi. Pintu terbuka dan ternyata adikku--Arsel.
"Galak amat pengantin kita ini." Dia malah meledek sambil cengengesan.
"Ada apa?"
"Cuma ingin ketemu doang, Bang." Dia menarik nafas dalam-dalam. "Akhirnya hari ini datang juga. Aku pikir, Abang akan selamanya jadi bujang lapuk. Ck! Akan sulit bagiku, Bang, buat nikah nantinya."
"Korelasinya?"
Dia menoleh. Sejenak menatapku datar kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Aku udah janji sama almarhum Ayah kalau aku tidak akan menikah sebelum Abang menikah. Kebayang gak kalau Abang gak nikah? Kita berdua akan jadi bujang lapuk, Bang! Itu artinya, keinginan Ibu untuk punya cucu gak akan terlaksana. Yaaa ... kita tau umur Ibu berapa, dan juga kondisinya bagaimana."
Arsel sangat cerewet meski dia laki-laki. Apa dia menuruni DNA Tante?
"Karena itulah aku mau menikah. Aku tidak ingin keinginan Ibu untuk melihat kita berkeluarga tidak terlaksana."
Arsel menepuk pundak yang sebenarnya lebih pada memukul. Rasanya lumayan sakit. Dia emang rada-rada kurang ajar sebenarnya.
"Makasih, ya, Bang. Karena tidak lama setelah Abang menikah, aku akan melamar kekasihku. Aku lega sebenarnya, karena nanti akan ada kakak ipar yang membantu Ibu mengurus persiapannya. Jadi, Ibu gak akan terlalu kelelahan kaya sekarang."
"Ibu kita memang keras kepala."
"Sama kayak Abang."
Aku menoleh dengan mata terbuka lebar. Kepalan tanganku membuat dia segera berlari keluar kamar. Bukannya minta maaf, dia malah tertawa. Ck! Dia satu-satunya keluarga yang paling bisa dihandalkan dan juga orang yang paling mengerti bagaimana aku.
Aku mengambil ponsel dan sekali lagi melihat calon istriku dengan seksama. Menurut penilaian sebagai laki-laki normal, dia memang cantik. Ibu bilang dia juga baik. Bukan hanya itu, dia juga berasal dari keluarga kaya.
Namun, kecantikan dan kebaikan saja belum bisa membuat aku jatuh cinta padanya. Terlebih lagi malam ini adalah kali pertama aku melihat wajahnya. Selama ini dia selalu menutupinya dengan cadar.
Tiga bulan lamanya menjalin komunikasi yang garing tanpa pernah bertemu kecuali saat aku dan keluargaku datang ke rumahnya untuk bertaaruf. Bukan aku tidak mau, tapi dia sendiri seperti memberi jarak begitu jauh padaku.
"Tidak benar jika kita bertemu sebelum ada ikatan yang halal. Akan ada fitnah nantinya. Juga ... kita tidak tau seberapa kuat iman kita untuk mengalahkan godaan setan. Lebih baik kita menghindar sebelum kita celaka," ucapnya saat itu. Ibu menyuruhku mengajak dia untuk makan malam tapi dia menolak. Kecewa? Tidak sama sekali. Aku hanya menjalankan keinginan Ibu, selebihnya aku tidak perduli sama sekali.
Dia tersenyum begitu pandangan kami bertemu. Berjalan perlahan lalu duduk di sampingku. Jarinya yang lembut, menggenggam erat tanganku.
"Ibu minta maaf, ya, Nak."
Aku kaget mendengar ucapannya. Bagaimana bisa orang tua meminta maaf pada anaknya setelah berbagai kesulitan dan rasa lelahnya selama ini membesarkanku.
Air matanya berlinang. "Ibu tahu kalau kamu tidak mencintai Farzana, tapi karena keinginan ibu lah akhirnya kamu mau menikah."
"Tidak ada yang tidak akan Abang lakukan jika itu perintah Ibu." Aku membalas genggamannya. Menatapnya penuh keyakinan agar dia tidak merasa bersalah lagi.
"Lalu ... bagaimana dengan Naura? Dia pasti sangat terluka. Sampaikan permintaan maaf dari ibu untuknya."
Aku menggeleng samar. Berusaha tersenyum meski aku merasa mataku sangat panas. Ibu kembali menyebutkan nama wanita yang aku tinggalkan saat rasa cinta ini tumbuh begitu besar untuknya. Tinggal satu langkah lagi untuk kami bisa bersama. Yaitu menunggu restu orang tuanya untuk Naura mengikuti kepercayaan yang aku anut. Islam.
"Bang, jika pun akhirnya Naura mendapatkan restu dari keluarganya untuk pindah agama, tapi hijrahnya dia bukan karena ketulusan hati mempercayai Allah. Dia hanya ingin bersama kamu. Dia hanya ingin agar bisa menikah dengan kamu."
"Lalu apa salahnya, Bu? Bukankah hanya itu penghalang kami selama ini?"
"Nak. Kamu sendiri saja masih harus dibimbing. Bagaimana kamu bisa membimbing Naura nanti? Suami itu bukan hanya memberikan nafkah berupa materi dan kasih sayang, tapi dia juga harus bisa membimbing istri menjadi lebih baik."
Tidak ada yang salah dengan ucapan Ibu. Jangankan membimbing Naura dalam memperdalam agama, aku sendiri saja masih harus diingatkan untuk solat. Akan seperti apa jadinya nanti jika Naura jadi istriku.
Namun, bagaimana dengan perasaanku dan juga perasaan Naura. Bahkan, gadis pujaan hatiku harus mengalami bagaimana sakitnya saat nadi terputus karena percobaan bunuh diri. Serapuh itukah dia dan mungkin juga aku. Aku hanya masih ada sedikit iman untuk tidak melakukan hal-hal yang konyol meski hatiku memang sangat nyeri.
"Bang, seorang ibu tidak akan salah memilih apapun untuk anaknya. Ibu juga bukan tanpa alasan memilih Fazrina untuk jadi istri kamu."
"Abang tau, Bu. Makanya Abang mau menikah nanti besok."
"Terima kasih, ya, Bang. Kini ibu hanya harus mengurus adikmu. Jika dia pun sudah memiliki istri yang tepat, maka ibu menyusul ayah pun tidak akan merasa takut. Sudah ada yang menjaga kalian untuk menggantikan peran ibu selama ini."
Hal yang paling aku benci adalah berbicara tentang apapun yang menyangkut perpisahan.
Dengan sangat erat aku memeluk tubuh Ibu. Selain umur yang memang sudah tidak muda lagi, Ibu kerap sakit-sakitan. Sejak Ayah pergi, ibu seperti kehilangan gairah untuk hidup. Dia hanya hidup karena demi aku dan Arsel. Sisanya Ibu menjalani hidup seperti raga tanpa nyawa.
Baiklah. Demi Ibu, aku akan menikahimu Fazrina. Kita lihat apa yang akan terjadi dalam rumah tangga kita.
...🌺🌺🌺🌺...
Halo, semua.
Kenalkan, namaku Elvan Erlangga. Usiaku 36 tahun.
Saat ini aku sedang menjalani bisnis peninggalan Ayah yang bergelut di bidang retail. Aku punya adik yang bernama Arsel Erlangga. Usia kami terpaut tujuh tahun. Kami berbisnis di dunia yang berbeda, dia lebih suka otomotif soalnya. Ayahku meninggal sejak sepuluh tahun silam. Aku kini hanya memiliki seorangpun Ibu yang bernama Euis.
Dukung kisahku dengan memberikan like dan komentar, yaaaa.