
Acara ijab Qabul selesai. Kini, hanya aku dan dia berdua saja di dalam kamar. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain saling diam. Aku bingung harus melakukannya apa. Ini kali pertama berada satu kamar dengan wanita. Wanita yang belum begitu aku kenal. Tidak dengan wanita lain yang tentunya aku kenal dan aku cintai. Ah, tentu saja yang ini tidak bisa disamakan. Sudah berstatus suami istri saja dia bahkan masih menutup wajahnya.
Apa dia pun sama denganku, menikah karena keinginan orang tua?
"Jika keberatan, tidur saja di sini. Aku akan tidur di sofa." Kalimat pertama yang aku ucapkan. Memecah keheningan yang sejak tadi menemani.
"Tidak apa. Tidurlah di sini juga."
Sedikit terkejut atas jawaban yang dia berikan. Aku pikir dia akan dengan senang hati karena kami tidak tidur satu kasur. Eh, dia malah tidak keberatan. Baiklah, toh aku pun hanya basa-basi saja tadi.
"Aku akan bersih-bersih dulu. Tidur saja duluan."
"Saya solat dulu, Mas. Setelahnya baru akan tidur."
Rasanya seperti di tampar. Meski aku belum pernah ditampar. Kalau digebukin, sih, sering. Bodo lah ya! Dia mau ngapain juga terserah dia aja.
"Mas solat juga kan?"
Pertandingan yang membuat aku jadi serba salah untuk ke dua kalinya.
"Hmmm. Duluan aja."
"Gak jadi imam?"
Aku kembali kesulitan. Kenapa dia seperti sengaja membuatku merasa seperti orang bodoh.
"Duluan aja. Ini kapan ke kamar mandinya kalau kamu terus ngajak ngobrol?"
Sebenarnya aku tidak marah, tapi mungkin nada bicaraku sedikit tinggi baginya. Padahal, aku biasa berbicara seperti ini.
"Oh, iya, Mas. Maaf." Aku mendengar ada sedikit rasa bersalah dan takut dari suaranya.
Apa aku tadi kasar? Atau dia yang terlalu cengeng?
Beginilah jika menikah dengan orang yang tidak kita kenal. Kita tidak tahu kebiasaan dan sifat masing-masing. Belum juga sehari kami menikah padahal.
Setelah merasa segar dan ganti pakaian, aku melihat dia sudah tertidur saat keluar dari kamar mandi.
"Apa dia tidak engap, tidur dengan cadar?" bisikku.
Rasa lelah karena resepsi dan akad tadi siang, aku sendiri memutuskan untuk segera tidur di sampingnya. Wanita itu meringkuk dengan wajah menghadap padaku. Sekilas aku melirik padanya. Memastikan bahwa dia benar ada. Bukan apa-apa, aku masih tidak percaya sedang tidur bersama wanita yang statusnya sudah menjadi istriku. Dia istriku tapi tubuhnya rapat, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Biasanya, aku akan tidur dengan wanita yang bahkan tanpa sehelai benangpun. Dengan liar dan gatalnya menggoda. Sekarang? Aku hanya bisa melihatnya bulu matanya saja, juga jari tangannya.
Mungkin ini hukuman untukku. Aku terlalu sering merasakan tubuh wanita mana pun, dengan warna kulit yang berbeda, juga dengan gaya mereka saat kami berada di tempat tidur, melampiaskan hasrat yang membara. Kini, aku berada dengan wanita yang bahkan aku kesulitan hanya untuk berbicara saja.
Ponselku berbunyi. Lamunanku tentang wanita-wanita, buyar seketika.
"Naura? Ada apa dia menelpon malam-malam begini?"
"Kamu kenapa angkat?"
"Kan kamu nelpon."
"Aku kira kamu sedang menikmati malam pertama dengan istrimu."
"Istriku menutup rapat tubuhnya dengan kain. Kamu kenapa nangis?"
"Yaaa aku mikirnya kamu lagi enak-enakan di sana. Sementara aku?"
"Masa iya aku haru malam pertamanya sama kamu?"
"Gak apa-apa kalau bisa mah."
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Naura adalah wanita yang belum aku sentuh selama ini. Aku pikir dia adalah kado terindah yang akan aku buka jika sudah menjadi milikku seutuhnya. Ternyata ... aku mendapat kado yang benar-benar tidak bisa aku buka. WTF
"Sudah malam, tidurlah. Aku masih segel, kok. Jangan mikir yang aneh-aneh. Sakit nanti kamu."
"Iya, aku bobo sekarang. Lagian aku udah tenang kalau kamu di sana gak lagi ngapa-ngapain." Aku mendengar dia tertawa geli meski masih bercampur dengan isak tangis.
Aku memasukan ponsel ke dalam saku celana pendek. Tidak kembali ke kasur dan memilih untuk membuka tirai jendela kamar hotel.
"Astagaaa!"
Jantungku hampir copot melihat bayangan lain di kaca.
"Kamu bukannya tidur? Kenapa tiba-tiba ada di belakang? Bikin kaget!"
Fazrina menganggukkan kepala seperti orang meminta maaf.
"Ini sudah pukul tiga pagi, Mas. Aku harus menunaikan salat tahajud. Maaf kalau bikin kamu kaget."
"Udah lama kamu berdiri di situ?" tanyaku. Aku ingin tahu apa dia mendengar obrolanku dengan Naura atau tidak.
"Belum, Mas. Aku bangun pas tadi kamu selesai nelpon. Malam begini ada orang yang nelpon, pasti itu sangat penting."
Haruskah aku menjawabnya dengan sebuah kebohongan?
"Hmmm. Ya sudah sana kalau mau solat. Aku mau lanjut tidur."
"Iya, Mas. Maaf bikin kamu kaget tadi."
Sekali lagi dia minta maaf, tapi dari gerak matanya, dia seperti tertawa. Mungkin dia mentertawakan aku yang tadi sangat terkejut.
Aku merasa lega karena setidaknya dia tidak mendengarkan pembicaraanku dengan Naura tadi. Meski aku tidak perduli kalau dia marah atau dia sakit hati, tapi aku tidak ingin dia tahu kalau aku ini sangat bejad. Bagaimanapun juga, aku ingin tetap terlihat sempurna di matanya.