
Tidak membutuhkan alarm untuk bangun pagi di rumah ini. Suara azan dari musola pun sudah cukup memekakkan telinga siapa saja. Dengan kata yang masih terasa berat, aku berusaha bangun dan turun dari ranjang. Nur sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin dia sudah bangun lebih awal.
Begitu aku melangkah keluar dari kamar, pada saat yang bersamaan Nur pun hendak masuk ke kamar. Karena sama-sama kaget, air yang ada di nampan sedikit tumpah. Nur membawa secangkir teh.
"Maaf, saya tidak senagaja."
"Gak apa-apa, Mas. Saya juga yang salah. Mas mau ke kamar mandi, ya? Mau mandi apa mau wudhu saja?"
"Wudhu dulu. Mandinya agak siangan aja. Dingin banget di sini."
"Solat di rumah apa musola?"
"Di rumah," jawabku sambil melangkah pergi.
Brrrrrr. Jangankan mandi, sekedar wudhu pun aku begitu kedinginan menyentuh air di rumah Nur.
Salat pun selesai. Aku kembali duduk di ranjang. Mengambil air teh untuk menghangatkan tubuh. Ada juga pisang goreng yang masih hangat.
"Mas, aku masuk, ya."
Itu Nur. Kali ini dia meminta izin. Mungkin agar kami tidak kembali tabrakan seperti tadi. Tidak lama kemudian dia mucul.
Aku masih menatap tanpa bicara. Dia berjalan mendekat. Kali ini terlihat sedikit malu-malu.
"Ada apa?" tanyaku karena dia tidak kunjung bicara.
"Aku duduk, ya." Dia pun duduk di sampingku sebelumnya aku meng-iyakan.
"Tidak mungkin 'kan kalau Mas tinggal di sini?" tanyanya ragu.
Aku mengerti apa yang ingin dia bahas kali ini.
"Kamu dan dua anak kamu ikut ke rumah saya. Jika si sulung mau, dia juga kita bawa."
"Dia pasti gak akan mau, Mas. Dia lebih suka ada di pesantren."
"Kenapa enggak sekolah? Belum terlambat. Kita sekolahkan saja dia. Kasian."
"Saya sudah tanya, tapi katanya dia gak mau. Dila dan Raya pun harus mengurus surat pindahnya dulu."
"Kita urus hari ini. Ini bukan hari libur. Saya harus segera kembali karena banyak pekerjaan."
"Hmmm, Mas. Gimana kalau Mas kembali saja duluan, nanti saya menyusul setelah menyelesaikan urusan anak-anak."
"Boleh. Gimana baiknya saja."
Nur tampak senang. Dia kembali pemit pergi untuk memasak katanya.
Lagi pula, dia ikut atau tidak, gak ada masalah untukku. Anggap saja bersamanya adalah demi kebahagiaan Ibu. Sementara aku? Tidak usah ambil pusing. Jalani saja yang ada tanpa rasa. Simpel dan tidak membuat pusing pikiran.
Sesuai dengan apa yang kami obrolkan, aku pun kembali ke rumah di kota tanpa Nur dan anak-anaknya.
"Ya Allah Gustiii ... Kamu tinggalkan begitu saja istri dan anak-anaknya di kampung?" tanya Ibu penuh emosi.
"Yaaa, dianya sendiri yang ingin. Aku hanya ikut saja apa yang dia katakan."
Sebuah jitakan di kepala membuat aku meringis. Ibu masih terlihat marah dengan berkacak pinggang.
"Dia itu udah jadi istri kamu. Seharusnya kamu temani dia mengurus surat pindah anaknya. Giamana, sih?"
"Tapi, Bu ... Udahlah, Bu. Cukup dengan aku menuruti keinginan Ibu unuk menikah dengannya. Sisanya biar urusan aku sama Nur."
Ibu tampak syok mendengar ucapanku. Ada desir dalam dada melihat itu. Wajahnya yang semula merah karena marah, kini berubah menjadi ekspresi yang kaget dan juga ... Kecewa.
"Maaf ... Bu, bukan itu maksudku. Tapi biarkanlah kehidupan rumah tanggaku, aku dan Nur yang urus. Aku permisi mau istirahat."
Tidak ingin berlama-lama melihat wajah kecewanya, bergegas aku melangkah pergi ke kamar.
"Sudahlah, Bu. Rama benar. Biarkan mereka menjalani kehidupannya bersama Nur."
Terdengar Ayah mencoba menenangkan Ibu.
Aku tahu, Ibu menginginkan yang terbaik untukku dan untuk Nur, tapi ... Apa harus kejadian bersama mendiang istriku, terjadi pada Nur juga?
Meski aku menikah tanpa perasaan pada Nur, rasanya tidak rela juga jika dia mengalami nasib yang sama. Aku tidak ingin kehilangan istri untuk ke dua kalinya.
Ah, Ibu. Andai rasa sayangmu tidak berlebihan, mungkin kehidupanku tidak akan seperti ini. Andai saja sebagai suami aku bisa lebih adil dan tidak terlalu takut akan dosa pada orang tua, toh sikap seperti apa dulu yang bisa disebut dosa.
Selama ini aku tidak bersikap adil dan lebih banyak membela Ibu tanpa memikirkan perasaan istriku.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
[Assalamualaikum, Mas. Sudah sampai belum? Kasih kabar kalau udah sampai.]
Ternyata itu Nur. Aku bahkan belum menyimpan nomornya. Hendak aku kasih nama apa di kontakku. Istriku? Nur? Maryam? Atau apa?
[Sudah.]
Tidak berselang lama, balasan kembali masuk.
[Alhamdulilah.]
Hanya itu. Itu saja. Sisanya kembali sepi. Mungkin dia bingung mau mengirim pesan apa lagi, aku pun tidak tahu harus membalas pesan dia dengan kata-kata seperti apa.
Tidak seperti saat berbalas pesan dengan mendiang, kami akan saling mengirimkan pesan rindu dan cinta di setiap saat. Bahkan saat aku baru masuk ke dalam mobil saat hendak ke kantor. Pesan rindu sudah dia kirimkan. Manis sungguh.
Hari sudah semakin gelap, entah berapa kali Bi Sum datang ke kamar meminta untukku segera turun dan makan malam. Tubuhku masih saja belum berbuah posisi. Tertelungkup di atas ranjang. Memikirkan entah perkara tentang apa. Mumet.
Lamat-lamat aku mendengar suara azan dari ponsel. Alarm untukku bangung saat pagi hari. Ternyata aku tidur semalam tanpa makan sejak siang hari. Pantas saja perutku terasa perih.
"Subuh tadi?" tanya Ibu.
"Iya, Bu. Aku salat."
"Nur yang bangunkan?"
Aku menoleh ke arah Ibu. Kenapa harus Nur? Aku punya alarm sendiri.
"Ibu sudah bisa menebak, kamu pasti belum membaca pesan dari Nur kan?"
"Aku belum melihat ponsel pagi ini. Lagi pula, ibu tau dari mana kalau Nur mengirim sebuah pesan?"
"Pasti. Istri yang baik itu akan selalu mengingatkan pasangannya pada kebaikan. Bukan hanya tentang makan dan transferan."
Ini pasti tentang mendiang lagi. Istriku yang dulu memang tidak pernah mengingatkan aku untuk salat, dia bilang aku ini sudah dewasa dan tidak perlu diingatkan tentang hal-hal yang sepele.
"Aku udah selesai."
"Rama!" Ibu berteriak.
"Sudahlah, Bu. Sudah biarkan saja." Ayah kembali menenangkan Ibu.
Aku kembali ke kamar untuk mengambil tas dan juga ponsel. Penasaran dengan ucapan Ibu, aku membuka kotak pesan dan ternyata benar ada pesan dari Nur.
[Assalamualaikum, Mas. Sudah bangun? Luangkan waktu untuk salat subuh, ya.]
Ck! Pesan macam apa ini? Menjengkelkan sekali. Pagi ini benar-benar menjadi pagi yang buruk untukku. Ibu dan juga Nur seperti anak kecil saja. Mereka tidak bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak.
Siang harinya aku kembali mendapatkan pesan. Pesan yang sama. Mengingatkan salat dan juga makan. Oh, Tuhan! Ini benar-benar membosankan. Apa dia pikir kami ini ABG yang sedang pacaran? Apa dia tidak mengingat umur? Pesan seperti ini tidak seharusnya dilakukan orang dewasa, oh, bahkan kami sudah tua.
Membosankan!
"Selamat siang, Pak."
"Ada apa Silvi?" tanyaku pada sekertaris yang selalu berpenampilan seksi. Rok makin ke atas dan kerah baju makin terbuka semakin bawah.
"Nanti pukul tiga akan ada meeting bersama klien. Mereka meminta produk dari kita untuk mengisi swalayan yang baru mereka buka."
"Atur saja."
"Baik, Pak."
"O, iya. Apa kamu tidak memiliki pakaian lain selain pakaian seperti ini?"
Silvi terlihat malu dengan ucapanku. Dia memindai tubuhnya sendiri dari atas sampah bawah.
"Lupakan! Pergilah."
"I-iya, Pak."
Bagaimana aku bisa menerima jika pikiran kacau seperti ini?
Ponselku kembali berbunyi. Sebuah pesan kembali masuk. Itu pasti dari Nur. Siapa lagi yang mengirimkan pesan lewat SMS kalau bukan dia. Saat orang lain sudah memakai aplikasi hijau untuk bertukar pesan, dia masih setia dengan gaya lama.
Ah, benar. Ponselnya tidak mendukung.
[Mas, besok saya dan anak-anak sudah bisa pindah. Boleh minta alamatnya?]
Alamat? Untuk apa dia meminta alamat? Apa dia bermaksud ke sini sendiri? Maksudku tidak meminta dijemput?
"Halo, Nur. Buat apa alamat?" tanyaku melalui panggilan langsung.
"Buat cari rumah Mas lah. Buat apa lagi? Nanti saya naik travel aja dari sini sama anak-anak."
"Kenapa gak minta dijemput?"
"Gak usah, Mas. Mas pasti sibuk. Pesan dari saya aja gak sempat Mas balas, gimana mau jemput saya? Gak apa-apa, Mas. Saya bisa, kok."
Aku bisa mendengar tidak ada nada ejekan atau sindiran darinya karena aku memang tidak membalas satu pun pesan darinya.
"Saya jemput tapi gak bisa besok. Mungkin nanti akhir pekan."
"Kasian anak-anak terlalu lama tidak sekolah, Mas. Gak apa-apa, saya sendiri aja ke sana."
"Ya sudah. Besok saya jemput."
"Gak usah, Mas. Saya–"
"Kalau saya gak jemput kamu, nanti Ibu bisa marah besar. Saya datang ke rumah sendirian saja Ibu marah. Sudah, kamu nurut saja. Jangan ke sini naik travel!"
Tidak ada suara lagi. Aku sendiri sibuk mengatur napas karena menahan emosi yang baru saja aku lupakan setengahnya pada ... Nur.
Astaga!
Kenapa aku harus marah sama dia?
"Nur?"
"Iya ... Mas." Suaranya terdengar berbeda.
"Maaf. Tadi saya sedikit kesal karena ada masalah di kantor."
"Tidak apa-apa, Mas. Hati-hati di jalan kalau besok mau ke sini. Assalamualaikum."
Dia bahkan menutup telponnya sebelum aku menjawab salam.
Arrgghhh!