
"Mas, udah subuh. Bangun."
Suaranya samar terdengar. Seperti mimpi. Akhirnya aku memilih untuk kembali tidur. Namun, suara Dila membuat aku sadar akan sesuatu.
"Papa, bangun. Beraaat." Aku merasa kakiku didorong kuat.
"Mas, bangun. Itu kaki kamu nindihin Dila."
Dila? Siapa Dila?
"Papa, itu Ade keberatan kaki Papa. Bangun." Kali ini ada yang menarik-narik tanganku.
"Aduuuh. Apaan, sih?"
Aku bangun dengan mata masih terpejam.
"Papa!"
Papa?
Aku berusaha membuka mata. Ada Nur dan Raya tepat di hadapanku. Iya, mereka adalah anak dan istriku. Ah, benar juga. Ada satu lagi anakku. Dila. Di mana dia?
"Papaaa ... Beraaat."
"Astagfirullah. Kamu ngapain di bawah kaki papa?"
"Ih, Papa gimana, sih? Kaki Papa yang nimpa Ade."
"Ma-maaf, ya, Nak. Kamu pasti keberatan sama kaki papa yang gede ini."
Aku menggendong Dila. Si bungsu yang entah kenapa paling aku sayangi di antara anak yang lain.
"Nah, makannya ... Besok-besok jangan bobo sama papa lagi, ya. Papa bisa nimpa kalian lagi. Untung Mama datang. Kalau enggak?"
Iya, bener. Besok-besok jangan tidur bareng anak-anak lagi. Menyiksa karena tidak bisa tidur dengan ibunya.
"Ayo kita bangun. Mau salat berjamaah enggak? Eyang Kakung udah nunggu di musola."
Aku dan anak-anak turun dari ranjang. Kami saking berpegangan tangan menuju tempat wudhu. Saat keluar dari kamar, Ibu ada di luar. Lengkap dengan mukenanya.
"Kamu tidur sama anak-anak, Ram?"
"Iya, Dila ketakutan tidur berdua dengan Raya."
"Oh, wajarlah. Ini masih asing bagi mereka. Ya sudah, ajak mereka salat berjamaah."
***
Pagi ini terasa begitu hangat. Ada Dila dan Raya yang menduduki kursi yang selama ini kosong. Sementara Nur dan Bi Sum menyiapkan sarapan untuk kami semua.
"Hari ini eyang putri dan eyang Kakung akan mengantar kalian ke sekolah yang baru. Kita daftar sekalian melihat-lihat."
"Apa enggak sebaik-baiknya aku saja dan Nur, Bu? Mereka akan lebih nyaman jika kami yang mengantar."
"Kamu hatus kerja bukan, Ram? Nur juga akan pergi dengan Angga. Dia ibu suruh anterin Nur ke salon. Kamu gak lihat kaki dan tangan dia kasar?"
"Angga? Kenapa harus Angga?"
"Lalu siapa? Ardi?"
"Yaaa bukan Kak Ardi juga, Bu."
"Lalu?"
Aku lah, Bu. Aku suaminya. Kenapa Nur harus pergi dengan orang lain? Meskipun dia Angga, adikku sendiri.
"Masalah apa?"
"Ada yang memainkan harga pasar, Yah. Dari kita tidak ada kenaikan harga tapi di pasaran harganya melejit."
"Mau ayah bantu?"
"Sampai detik ini kami masih sanggup."
"Masalah ini sudah sering terjadi. Mereka para distributor jalanan yang sering mempermainkannya. Kamu harus hati-hati, salah tindakan bisa kamu yang celaka."
Benar. Memergoki mereka butuh strategi yang apik. Jangan sampai kita kecelakaan diri kita pada akhirnya.
"Aku berangkat dulu, Bu."
Dila dan Raya turun dari kursinya dan menghampiri. Mereka berebut untuk mencium tanganku.
"Jangan nakal, ya. Semoga kalian mendapatkan sekolah yang kalian suka."
"Papa hati-hati di jalan, ya. Pulangnya bawa oleh-oleh."
Aku berjongkok agar bisa menyamakan tinggi dengan mereka.
"Mau oleh-oleh apa, sih?" tanyaku dengan gaya manja khas ibu-ibu pada anaknya.
"Aku mau bakso."
"Dila mau es krim."
"Oke, nanti papa belikan ya."
"Gak usah nunggu papa kalian. Nanti eyang putri belikan semua yang kalian mau."
"Asiiiik." Mereka yang sedang merayuku beralih pada Ibu. Aku diabaikannya. Nasiiib.
"Mas, hati-hati di jalan." Tiba-tiba Nur muncul dengan setengah berlari. Tangannya masih terlihat basah. Dia keringkan dengan baju yang dia pakai.
"Kamu habis ngapain, Nur?" tanya Ibu.
"Cuci piring, Bu. Kasian Bi Sum sendirian."
"Loh, Marni mana?"
"Katanya lagi gak enak badan, Bu. Makanya saya bantu-bantu di dapur tadi."
"Tugas kamu itu mengurus Rama dan anak-anak. Bukan rumah dan pekerjaan yang ada di dalamnya."
"Ma-maaf, Bu."
"Ya sudah. Aku pamit kerja dulu."
Penat rasanya mendengar ocehan ibu pada Nur yang tidak melakukan kesalahan sama sekali. Lagi pula, apa salahnya membantu cuci piring di rumah. Bukankah itu artinya Nur orang baik. Dia tidak merasa sebagai nyonya hingga mengabaikan pembantu di rumah ini.
"Tuh 'kan, Rama saja bahkan enggan salaman sama kamu. Coba lihat tangan kamu, Nur. Pasti bau sabun cuci piring."
Suara Ibu masih sangat terdengar sangat jelas. Nur akan semakin merasa bersalah karena ucapan Ibu.
"Aku pamit, Nur."
Akhirnya aku kembali dan berpamitan pada Nur. Tidak bersalaman tapi aku mencium kepala Nur. Sekilas. Ya, hanya sekilas agar Ibu berhenti mengoceh.
"Baiklah, lupakan segala masalah di rumah, aku harus fokus pada masalah perusahaan. Ayo, Rama. Kita pergi," bisikku pada diri sendiri sebelum meninggalkan gerasi mobil.