ON THE WAY

ON THE WAY
#Satu



Sudah dua hari ini Ibu membicarakan tentang seorang wanita. Setiap pulang kerja, aku selalu diceritakan kisah tentang wanita itu. Dari mulai kebaikannya, anak-anaknya dan juga kehidupannya yang lain.


Ibu pernah mengirimkan sebuah foto, katanya itu adalah foto wanita tersebut. Sampai detik ini, aku belum melihatnya. Entahlah, sejak istri dan anakku meninggal dalam kecelakaan tujuh tahun lalu, aku tidak bisa merasakan apa-apa untuk wanita. Semuanya sudah hilang. Terkubur bersama dua jasad wanita yang aku cintai.


Meski aku belum mengatakan iya, tapi sepertinya diamku dianggap setuju oleh Ibu. Persiapan pernikahan sudah hampir rampung, bahkan kami, aku dan wanita itu belum pernah bertemu. Tidak ada juga acara lamaran.


Tadi sore, Ibu mengundang pengrajin perhiasan guna memilih cincin perkawinanku dengan wanita itu. Entahlah siapa namanya, Ibu hanya selalu memanggil dia dengan sebutan Nur. Itu saja yang aku paling tahu, sisanya hanya sekilas aku dengarkan dari mulut Ibu. Hanya agar dia tidak tersinggung jika aku menolak untuk mendengarkan ceritanya tentang Nur.


"Ram. Gue ganggu gak?" tanya Kak Ardi. Dia adalah Kakakku dan sudah memiliki dua anak. Kembar. Istrinya bernama Santi dan dua anaknya adalah Ziyan dan Zayin.


"Hmmm."


"Malam ini tumben gak ada angin. Rasanya sumpek meski rumah Ibu begitu besar."


Aku mengabaikan ucapannya. Mulutku masih asik menghisap asap dari batang rokok yang terselip di jari.


"Tolak aja kalau gak mau. Gak usah jadi anak baik kalau itu nyiksa diri sendiri."


"Lo bisa bayangin gimana kecewanya Ibu.


Konyol! Kalau aku memutuskan untuk tidak mau menikah dengan wanita pilihan Ibu, maka seumur hidup aku akan menyesal karena membuatnya menangis.


"Kenapa gak dari dulu? Ibu juga bukan wanita egois yang memaksakan kehendaknya."


Aku mengembuskan napas berat. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan dari Kak Ardi kalau aku sendiri tidak mengerti kenapa aku hanya diam dan akhirnya pernikahan ini akan terjadi.


"Gue tidur dulu, Kak. Mumet!"


Akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Kak Ardi. Bukan hanya karena tidak ingin menjawab pertanyaannya, tapi aku sendiri ingin mengistirahatkan pikiran.


Entah apa yang akan terjadi besok, bagaimana bisa akad nikah kalau namanya saja aku tidak tahu. Ck! Pernikahan macam ini.


Baru saja tubuhku terbaring di atas kasur, poselku berbunyi. Meski enggan, tapi aku penasaran, siapa yang mengirim pesan malam-malam begini.


[Maryam Nurhasanah.]


Hanya itu isi pesannya. Siapa Maryam Nurhasanah?


Pesan ke dua masuk.


[Saya yang akan Mas nikahi besok.]


Ah, rupanya dia. Selanjutnya aku seperti dihipnotis. Tidak tau apa yang akan dilakukan.


Haruskah aku membalas pesan darinya? Kalau tidak dibalas, apa dia akan tersinggung? Kalau aku balas, aku harus bilang apa?


[Ramadhan At-thoriq. Besok pagi yang akan menikahimu.]


Pesan terkonyol yang pernah aku tulis selama ini.


Tidak ada lagi pesan balasan selanjut. Dia hanya memberitahu nomor telponnya saja. Haruskah aku save?


Lama aku memandangi layar ponsel dengan isi pesan yang dia kirim. Begitu banyak yang aku pikirkan sampai aku sendiri bingung sedang memikirkan apa.


Terdengar pintu kamar diketuk beberapa kali, setelah aku persilakan masuk, ternyata Ibu.


"Belum tidur, Ram?" tanyanya, lalu Ibu duduk di sampingku.


"Lagi komunikasi sama siapa?" tanyanya lagi sambil melirik ponsel yang sedang aku genggam.


"Oh, ini. Dia Maryam, Bu."


"Maryam?" tanyanya sedikit terkejut. Mungkin juga Ibu takut aku punya wanita lain.


"Maksudku ... Nur, Bu. Namanya Maryam Nurhasanah 'kan?"


"Oh ... Ibu kirain siapa?" ujarnya lega.


"Ada apa, Bu?"


"Ah, enggak. Ibu cuma ingin memastikan keadaan kamu saja. Kamu tidak apa-apa 'kan dengan pernikahan ini?" tanyanya ragu.


Aku tersenyum. "Aku baik-baik saja, Bu. Ibu jangan cemas. Aku yakin jika wanita yang Ibu pilihkan untukku adalah yang terbaik."


"Tentu saja. Ibu tidak akan sembarangan memilih wanita untuk kamu, Ram. Satu hal yang pasti, kalau wanita ini jauh lebih baik dari mendiang istrimu."


"Bu ...."


"Ibu berkata yang sebenarnya, Rama. Wanita yang ibu pilihkan untuk kamu adalah wanita Solehah yang penurut, tidak pembangkang seperti mendiang."


"Aku mohon, Bu. Mira sudah lama meninggal. Tolong jangan bicarakan keburukannya. Belum cukupkan aku menuruti semua keinginan ibu sekarang?"


Ibu tampak kesal, tapi aku sendiripun merasa sesak saat ada yang menjelek-jelekkan istriku. Meski dia sudah tiada.


"Kamu harus ingat. Reyhana pergi untuk selamanya karena keegoisan dia. Cucu perempuan ibu satu-satunya." Suara Ibu terdengar bergetar kali ini.


"Ibu pergi. Kamu istirahat karena besok kita akan pergi sebelum subuh. Kita subuh di perjalanan."


"Iya, Bu." Aku menjawab dengan sedikit rasa kesal.


Ah, kenapa orang-orang hanya mengingat hal terakhir yang Mira perbuat? Tidakkah mereka tahu bahwa dia begitu baik dan begitu aku cintai. Mira ... Apa kamu bersama anak kita saat ini? Aku merindukan kalian, Sayang.