
Dia menunggu di kursi yang sudah disediakan pihak hotel. Menyadarkan tubuhnya dengan bagian tengah tubuh ditutupi handuk untuk aku gunakan nanti. Mungkin dia tidak ingin lekukan tubuhnya terlihat.
"Hey!"
Bukannya melihat ke arahku, dia malah membuang muka. Lucu sekali. Sejak keluar dari kamar, dia tidak mau melihatku. Pakaian renang inilah yang menjadi alasannya. Selama perjalanan dari kamar ke kolam renang ini, dia selalu menutup pandangannya dan memilih menatap ke arah lain asal tidak padaku.
Saat beberapa wanita yang ada di sini melirik padaku dengan mata yang terlihat berusaha menggoda, istriku sendiri malah menjaga pandangannya.
Tidak aneh lagi jika kondisi tubuhku tanpa pakaian atas, par wanita akan menatap dengan penuh harap. Tubuhku memang atletis karena aku suka olah raga.
Fazrina bahkan membalikan badannya ke arah lain saat aku duduk di bangku yang ada di sampingnya.
Kesal melihat tingkahnya membuatku malah ingin mengerjainya. Aku sengaja duduk di bangku yang sama, tepat di hadapannya.
Tangannya auto menutup muka dan berusaha membalikkan badan lagi. Sebelum itu terjadi, tanganku yang kuat menahan tubuhnya yang kecil.
"Jangan berontak, orang akan mengira aku hendak memperkosa kamu."
"Lagian Mas kenapa pake celana itu, sih. Aurat tau! Gak malu di lihat orang?" tanyanya kesal.
Tangan yang masih menutupi muka, aku berusaha tarik. Kuatnya dia menutup wajah, membuat tubuhnya ikut terangkat saat aku dengan kuat berusaha membukanya.
Hasilnya adalah tubuh kami begitu dekat berhadapan. Hanya terhalang oleh telapak tangannya saja.
Meski begitu, aku masih bisa mencium aromanya. Wangi.
Lihat saja, seberapa kuat dia akan tetap menutup wajahnya itu.
"Aku sudah pakai handuk, Rin." Aku bersuara sangat lembut. Berusaha untuk melembutkan sebenarnya.
Tangannya mulai bergerak perlahan. Dia membuka jarinya sangat sedikit. Mungkin untuk memastikan perkataan ku. Setelah yakin bahwa aku memang benar-benar memakan handuk, barulah dia membuka tangannya. Heran! Memangnya dia gak sadar aku mengambil handuk dari atas tubuhnya tadi?
Dasar!
Kembali dia tidak sadar bahwa wajah kami begitu dekat. Mata indah itu membulat sempurna. Dia hanya bisa terpaku. Mungkin terlalu kaget.
"Aku kedinginan. Kita kembali ke kamar saja. Lalu, kita pulang. Bulan madu ini tidak akan berhasil. Lagian, bulan madu kok di sini."
Aku segera bangkit agar dia tidak benar-benar membeku di sana.
Entah apa yang ada di dalam pikiran keluarga. Meminta kami menginap di hotel ini. Meski mendapat kamar yang bagus, tapi bulan madu itu bukankah harus di luar negeri? Ck!
Sejak kejadian di kolam renang. Dia menjadi sangat pendiam. Hanya bicara saat aku tanya. selebihnya dia habiskan dengan menatap keluar jendela mobil. Dia bahkan tidak banyak bergerak. Atau jangan-jangan dia pun tidak bernafas. Wah!
Tubuhnya bergerak saat mobil kami sampai ke halaman rumahnya. Dengan antusias dia segera keluar mobil begitu mobil ini berhenti.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Layaknya anak kecil yang tidak bertemu dengan ibunya sekian lama. Padahal, baru dua hari ini mereka berpisah.
Dia kembali berlari ke arahku saat aku baru saja menutup pintu mobil.
"Kenapa balik lagi?"
"Saya lupa kalau sudah bersuami. Maaf, Mas."
"Salahnya di mana?"
"Saya tidak boleh melangkah di depan suami. Saya juga gak boleh masuk duluan saat kita akan masuk bersama ke rumah. Mana boleh saya pergi begitu saja. Gak sopan. Duuuh, maaf, ya. Saya benar-benar lupa."
Wanita ini ... bahkan hal seperti itu saja adalah sebuah kesalahan baginya. Bahkan untukku, itu buka. sesuatu yang harus di bahas. Kolot banget aturannya.
Akhirnya kami berjalan bersama dengan satu langkah aku lebih di depan. Berasa dia jadi sekertaris pribadi kalau begini.
"Begini saja." Aku kembali menarik tangannya untuk berjalan di sampingku.
"Pengantin baru. Cieee ... sampai pegangan tangan aja."
Tiba-tiba ada seseorang dari dalam menyambut kami dengan sebuah godaan. Dia tampak lebih tua dariku. Oh, mungkin dia sodaranya. Wanita itu berhijab tapi tidak bercadar. Jalannya lambat karena perutnya yang besar.
"Assalamualaikum, Teh."
"Waalikumsalam, Dek. Duh, aura pengantin mah emang beda, ya. Seger aja gitu liatnya."
"Ih, apaan, sih. Kaya gak pernah aja jadi pengantin."
"Lah, justru karena teteh pernah, makanya tau kalau aura kamu itu seger dan bagus."
Mereka berdua tertawa seperti tidak ada aku di sana.
"Ada Baygon gak?"
"Buat apa?" tanya wanita hamil yang dia panggil Teteh.
"Ada nyamuk nganggur di sini."
Sejenak hening. Namun, setelah mereka sadar, gelak tawa mulai terdengar.
Dasar wanita gak peka! Ini adalah bukti bahwa yang tidak peka itu bukan cuma laki-laki.
"Kenapa malah asik di situ. Ayo masuk."
"Bunda."
Seketika pegangan tanganku dia lepaskan. Eh, aku sendiri baru menyadari bahwa tangan kami bertautan sejak tadi. Dia berhamburan ke pelukan ibunya. Mereka saling memeluk seperti Fazrina baru pulang kerja dari Hongkong.
"Bunda." Aku mencoba menyapa. Juga agar drama mereka the end.
"Nak." Bunda mengusap kepalaku saat aku menyalami tangannya dengan badan yang menunduk agak dalam.
"Ayo, masuk. Ayah sudah menunggu di dalam. Kita makan siang dulu."
Fazrina menggelayut manja pada tangan Bunda, tapi segera di lepaskan. Bunda memberi isyarat kepala agar anaknya itu kembali ke belakang. Ada aku di sana.
"Maaf, Mas."
"Gak apa-apa. Aku sudah terbiasa menjadi nyamuk." Aku pura-pura kesal. Dia hanya tersenyum dari balik cadarnya itu.
"Alhamdulillah kalian sudah sampai. Mari duduk. Kita segar makan saja karena sebentar lagi azan Zuhur." Ayah berdiri menyambut kami lalu kemudian kembali duduk.
"Wahhh, ada pecak bandeng." Fazrina begitu bahagia. "Eh, tapi aku lagi puasa. Yaaah, harus nunggu sampai Magrib, deh." Dia terdengar sedih.
"Gak apa-apa. Bunda juga gak ikut makan. Hanya nemenin ayah kamu saja."
Dari ucapnya, sepertinya Bunda pun sedang melaksanakan puasa.
"Kamu ambilkan makan buat suami kamu, Dek. Jangan mentang-mentang puasa, terus suami kamu gak kamu ambilkan nasi dan lauknya."
"Aku lupa, Teh. He he he. Maklum, aku masih ngerasa anak gadis."
"Wajarlah, pernikahan kalian itu terbilang ceper. Ta'aruf kalian juga singkat."
"Nah, itu tau."
"Ya sudah, sekarang udah sadar kan kalau kamu udah jadi istri? Ituuu, piring El masih kosong. Mau diisi gak?''
Fazrina tertawa.
"Mau makan sama apa, Mas?"
"Apa aja. Aku pasti makan."
"Aku ambilkan nasi, ya. O, iya. Kamu harus cobain pecak bandeng ini. Rasanya pedas, asem, gurih. Pokoknya enak banget, deh."
Tangannya dengan cekatan mengambil nasi dan lauk-pauknya.
"Terima kasih."
Dia mengangguk.
"El, makan pecak itu enaknya pake tangan. Jangan pakai sendok." Teteh memberikan saran.
Tangan? Mana bisa aku makan pakai tangan. Selama ini aku belum pernah melakukannya.
"Kenapa? Gak biasa makan pakai tangan? Di liar negeri ngapain aja, El? Makan pakai apa di sana? Ck ck ck!'
"Ya udah sini." Fazrina menarik piring yang ada di hadapanku. Setelah dia mencuci tangan di mangkuk, dia mencomot nasi dan bandeng dan menyuapiku.
Aku ragu. Aku merasa sedikit ... aneh.
"Ayo, Mas. Cobain deh."
Dengan ragu aku membuka mulut. Juga karena tidak ingin mertua dan sodara Fazrina memandangku buruk karena menolak suapan anaknya.
Wawww!
Jauh di luar dugaanku. Makan yang aku kunyah terasa sangat enak. Mungkin karena pecak bandeng buatan mertuaku memang enak atau karena hal lain?
Entahlah ....