
"Baru datang, Kak?"
"Gue udah dapet biang keroknya."
"Serius?" tanyaku antusias. "Siapa, Kak? Udah Lo apain tuh orang? Hajar aja udah."
"Kagak gue apa-apain."
"What the ...."
"Lo pasti bingung mau ngapain jika tahu siapa orangnya."
"Yeee, makanya buruang ngomong. Siapa?"
"Pak Purnawan."
"What? Why? Kenapa bisa?"
"Gue harus apa sekarang? Haruskah kita beritahu Ayah?"
"Wait. Jangan sekarang. Waktunya gak tepat. Sebentar lagi mereka ulang tahun pernikahan. Gue gak mau merusak kebahagian mereka dengan kado info sialan ini."
"Terus? Kalau dibiarkan, kita akan rugi. Pelanggan akan komplain dan kita akan kehilangan kontrak beserta dendanya sekaligus."
"Tenang dulu. Gue lagi mikir sebentar."
Saat aku dan Kak Ardi sedang serius memikirkan jalan keluar, ponselku berbunyi.
Nur.
"Halo, ada apa?"
"Mas, mobil Angga mogok. Saya ada di tol sekarang."
"Sialan! Mana si kampret itu? Berikan ponselnya."
"I-iya, Mas."
"Apa, Kak?"
"Apa, apa, mata Lo katarak! Heh, Lo bawa mobil butut itu lagi? Lo bawa istri gue pake rongsokan itu?"
"Jangan gitu, Kak. Ini mobil kesayangan aku."
"Kesayangan Lo? Gue bakar kalau ketemu. ShareLok sekarang juga!"
"Heh, kenapa?" Tanya Kak Ardi saat aku menutup telpon dengan emosi.
"Nur pergi sama Angga ke salon. Mobil mereka mogok di tol."
"Lo mau pergi?"
"Iyalah!"
"Telpon mobil derek aja buat angkut mereka."
"No! Mana boleh Nur ...."
"Napa Lo diem? Gak usah malu-malu, ngomong aja. Lo gak mau istri Lo kesusahan 'kan? Cie ileeeeh. Rupa-rupanya sudah mulai care."
"Kalau Ibu tahu, bisa mati gue!"
"Modus!"
"Terserah. Gue pergi dulu. Kita obrolkan masalah tadi besok aja. O, iya. Minta tolong Melani buat ngurus pesta aniversary Ibu dan Ayah."
"Okeh. Bisa diatur."
"Ajak Nur sekalian. Biar dia tahu."
"Siap."
***
Mobil rongsokan Angga ada di bahu jalan. Nur dan Angga sendiri sedang berdiri di sampingnya. Sudah cukup lama mereka ada di sana. Rasanya pasti tidak nyaman karena panas dan debu.
Wajah Angga tampak sumringah melihat aku datang. Sementara Nur terlihat takut.
"Kakak ...." Angga merengek. Menjijikan bukan?
"Kamu gak apa-apa?" Tanyaku pada Nur dan mengabaikan Angga begitu saja.
"Benar sekali. Gara-gara mobil butut ini ... aku berada di sini meninggalkan pekerjaan yang menumpuk!"
"Jangan ditendang, Kak. Kasian kesayanganku."
Berkali-kali aku mengatur napas agar tidak emosi saat menghadapi Angga. Penampilan seperti preman tapi kelakuan seperti anak play group.
"Telpon mobil derek."
"Udah," ucap Angga dengan nada manjanya.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini sampai mobilnya datang. Aku dan Nur akan pergi makan siang."
"Kakak ...."
"Mas ...."
"Kenapa? Kalian masih mau berduaan di sini? Kenapa gak sekalian nyanyi India dan berlarian di tengah jalan tol ini."
"Mati, dong."
Ya Tuhan ... Punya adik satu-satunya kenapa begini banget, ya.
"Mas, kita tunggu saja mobil dereknya. Setelah itu kita bisa pergi. Kasian Angga kalau ditinggal sendirian di sini. Panas tau, Mas."
"Kakak Ipar ...." Kini Angga bergelayut manja pada Nur.
"Eh, eh. Itu apaan kaya gitu. Gue aja belum pernah kaya gitu. Lo udah main serobot aja. Lepas kagak?"
"Habisnya Kak Rama galak. Kalau Kak Nur baik dan cantik. Weee!"
"Anggaaa!"
Nur tertawa. Dengan lembut dia melepaskan tangan Angga dari lengannya.
"Jangan marah-marah, Mas. Malu dilihat yang lewat. Mereka kira kalian sedang rebutan aku lagi."
"Jangan GeEr kamu."
"Bukan GeEr, Mas. Ini mah barang kali. Nanti dikiranya aku selingkuh, giamana? Kamu nangkap basah aku lagi selingkuh sama Angga."
"Jangan kebanyakan nonton sinetron. Ngawur kamu."
Selang berapa menit, mobil derek pun datang. Mereka mengaitkan mobil Angga pada mobil mereka.
"Sudah, Pak. Kami harus bawa ke mana?"
"Pastikan sampai ke bengkel terdekat, Pak. Saya akan bayar biayanya."
"Baik, Pak."
"Tolong hati-hati dan pastikan adik saya aman sampai tempat."
"Iya, Pak. Tentu saja."
"Angga, hati-hati Lo. Kalau ada apa-apa cepetan telpon gue atau Kak Ardi."
"Oke, Bos!"
Aku dan Nur masih berdiri sampai mobil derek itu menjauh dari tempat kami berada saat ini.
"Meski kasar, ternyata Mas begitu menyayangi Angga."
Aku menoleh padanya. Dia sedang tersenyum menatap perginya Angga dengan mobil rongsokannya itu.
Semakin lama menatap, semakin sulit untukku berpaling. Wajahnya seperti memiliki magnet untuk menarik mata siapa saja agar terus fokus pada dirinya.
Dia menoleh padaku. Sadar sedang diperhatikan, wajahnya merona.
"Ayo, Mas. Kita jangan lama-lama berdiri di tol seperti ini. Kalau ada polisi gimana? Kita di tilang enggak nantinnya?"
"Nur."
"Ya?"
Sekali lagi aku menatapnya tanpa jeda. Kali ini mata kami terpaku dalam titik yang sama. Sulit untuk berpaling.
"Jika aku meminta hakku, apa kamu akan memberikannya?"
"Ya?"