
Malam mulai terang karena sang surya mulai datang, membangunkan insan Tuhan yang tengah di alam mimpi. Berbeda dengan bidadari yang satu ini, Nabila Khairunnisa seorang wanita yang berumur 19 tahun, masih menyelesaikan pendidikannya di Universitas XX semester 2. Sibuk dengan dunia barunya yang harus menjadi kebiasaannya nanti. Menyiapkan sarapan untuk suami dan anak yang ia angkat. Walaupun sudah memiliki asisten rumah tangga, namun Nabila tetap ingin melayani keluarga kecilnya dengan sempurna.
"Wah siapa yang masak ini tante?" Tanya Aqila melihat makanan yang sudah tertata rapi di meja
"Eh Aqila udah bangun sayang." Mengacak rambut Aqila pelan
"Iya dong tante, kan udah shalat shubuh Aqila gak tidul lagi." Jawab Aqila
"Pinter anakku ini." Ujar Nabila tersenyum
"Kan Aqila bukan anaknya tante." Aqila menatap Nabila penasaran
"Mulai sekarang Aqila jadi anak tante." Ucap Nabila lembut
"Benelan tante? Jadi Aqila boleh panggil bunda dong?" Aqila meraih tangan Nabila
"Boleh dong sayang." Jawab Nabila antusias
Aqila langsung memeluk Nabila, pelukannya terasa hangat karena penuh cinta. Ia merasa bahwa ini anak yang ia lahirkan dalam rahimnya.
"Abi gak di peluk juga bun?" Ujar Danial tiba-tiba
"Eh kak." Nabila melepaskan pelukannya cepat
"Aqila beraninya ya peluk bunda duluan. abi juga belum dipeluk." Danial memanyunkan bibirnya kedepan
"Hahaha." Ibu dan anak angkat itu tertawa gemas
"Maaf ya om." Ucap Aqila lirih
"Kok om? panggil abi atuh." Jawab Danial
"A-bi." Ucap Aqila malu-malu
"Nah gitu dong baru anaknya Bunda Bila sama Abi Nial." Mengacak rambut Aqila pelan
Nabila tersenyum simpul melihat pemandangan indah di depannya itu. Begitu cepatnya Danial menerima Aqila. Padahal ia mengira suaminya akan marah dan tidak akan mengizinkan Aqila tinggal bersama. Namun, kenyataannya berbeda dari apa yang ia sangka.
"Ayo sarapan dulu." Ajak Nabila
Nabila mengambilkan nasi dan lauk pauk pertama pada suaminya, lalu pada Aqila. Hening! Karena ini yang diajarkan Rasul untuk tidak berbicara ketika makan.
"Oh ya aku pulang malam ya Bun." Ujar Danial ketika membersihkan bibirnya dengan tisu
"Bunda?, Aku?" Batin Nabila
"Ah i-iya kak." Gagap Nabila
"Kak?" Ujar Danial lagi
"Panggil aku abi." Ucap Danial santai
"Iya a-bi." gagap Nabila lagi
"Aku berangkat dulu." Danial mengambil tas kerjanya
"Biar aku antar." Nabila berdiri dari tempat duduknya
"Qila ikut tan, eh bunda." Ucap Aqila
"Ayo." Ajak Nabila
Ketiganya berjalan beriringan menuju pintu depan. Perasaan Danial bahagia, seperti mimpi padahal bukan. Namun, ia tetap dengan ekspresi biasanya tak menunjukkan suasana hati yang tengah ia rasakan.
"Aku berangkat dulu ya." Ujar Danial menatap istrinya
"Iya hati-hati." Nabila mencium tangan suaminya
Danial langsung mengecup dahi Nabila lalu beralih pada Aqila dan mencium keningnya juga.
"Abi berangkat dulu ya, titip bunda kalau bandel bilang sama abi." Lirih Danial ditelinga Aqila
"Siap abi." Lirih Aqila mengedipkan mata
"Kalian bicarain bunda ya?" Nabila memanyunkan bibirnya
"Geer." Ujar Danial tersenyum geli melihat sikap manja istrinya
"Bi salam." Aqila meraih tangan Danial
"Assalamu'alaikum." Danial berlalu pergi sembari melambaikan tangan
"Wa'alaikumussalam." Jawab Nabila dan Aqila serentak
"Dadah Abi." Aqila melambaikan tangan ketika mobil Danial keluar dari pekarangan rumah
"Ayo sayang masuk ke rumah." Ajak Nabila
"Oh itu istri baru kamu Danial." Tersenyum sinis