Not an Illusion

Not an Illusion
Part 15



"Pak Badru pulang duluan saja, saya ada kerja kelompok dengan teman saya," ujar Nabila ketika pak Badru sudah mamatung seperti kacung di area parkir kampus.


"Tapi bu saya takut tuan marah," jawabnya melarang Nabila pergi.


"Santai aja pak, nanti saya yang bicara sama dia," bela Nabila agar pak Badru melepaskannya.


"Tap- " balasnya. "Kalau tuan marah ini urusan saya," potong Nabila.


"Baik. Hati-hati bu." Pak Badru pamit


Akhirnya pergi juga. Susah juga kalau harus lepas dari bodyguarnya Danial. Lagian pak Badru drama queen syekali orang tuh curut gak mungkin bakalan khawatir kalau gua kagak balik juga.


Nabila melambaikan tangannya ketika melihat angkot melintas, dengan sigap ia segera naik. Isinya sudah penuh dengan penumpang yang lain untung saja badannya kecil jadi bisa nyelip kaya duit. Hanya beberapa meter saja terlihat nenek tua yang sedang menunggu angkot, supir berhenti dan mendapatkan geram dari warganet maksudnya para pemumpang.


"Aduh pak ini udah paentep cue masih mau naikin orang lagi, liat dong," geram salah satu penumpang ibu-ibu yang duduk nyelip paling pojok.


"Yaudah lah kita turun aja," ajak penumpang cowo yang sama geramnya dengan ibu-ibu tadi.


"Eh jangan pak, cuman satu penumpang ini," cegahnya.


"Lah terus tu nenek-nenek mau duduk dimana?" timpal penumpang yang lain "Liat dong udah penuh gini," lanjutnya.


"Duduk aja di kursi pak sopir," ledek ibu-ibu sambil terkekeh.


"Terus saya duduk di mana kalau gitu bu," balas sopir.


"Itu si DL, suruh siapa udah penuh mau masukin penumpang lagi,"


"Nenek duduk di sini," ujar sopir pada nenek itu menunjuk ke tempat duduk yang terbuat dari kayu tepat berada paling sisi pintu keluar.


Nenek itu mengangguk "Nenek di sini aja biar saya yang duduk di sana," ujar Nabila karena merasa iba nenek yang sudah luntur tenaganya bagaimana kalau kebawa angin?


Penumpang yang lain hanya menggeleng melihat keserakahan sopir yang sampai tega menempatkan nenek-nenek diambang pintu.


"Makasih ya cu," ujar sang nenek. Nabila tersenyum tulus "Iya sama-sama,"


"Nengnya udah cantik baik lagi," puji salah satu penumpang ibu-ibu.


"Masih sekolah ya neng?" tanya pria yang terlihat masih muda.


"Iya," jawab Nabila.


"Boleh minta nomornya?" pinta pria itu tanpa rasa malu.


Nabila tidak menggubris ucapannya "Syukurin dicuekin, sakit kan lu," ledek teman yang duduk di sampingnya.


Dengan sengaja Nabila menunjukkan tangannya yang dihiasi dengan cincin. Sontak pria itu terkejut dan urung untuk mendapatkan hati Nabila.


"Udah nikah ya neng?" tanya penumpang ibu-ibu lagi.


"Nabila mengangguk sembari tersenyum bahagia padahal hanya acting belaka agar si jarot gendol genit tidak menganggunya lagi.


"Jangan sembarangan gangguin istri orang kamu, dosa!" omel penumpang ibu-ibu.


Syukurin lu dimarahin pan sama emak-emak rempong. Sabar aja bro ini ujian.


"Ya kan saya gak tau kalau mbak cantiknya udah nikah bu," elaknya.


"Makanya liat-liat dulu kalau mau PDKT," omelnya lagi.


"Maklum bu temen saya udah lama jones," ledek temannya.


"Pantes liat yang cantik dikit langsung pengen diembat," sindirnya.


"Usaha kali bu, kali aja kalau si embaknya cerai nanti saya bisa langsung nikahin mbaknya," bela pria itu dengan logat padangnya.


"Sembarangan kamu ngatain orang cerai, gak baik."


"Udah bu udah masnya cuman bercanda kok, iya kan mas?" Nabila mencairkan suasana. Pria itu mengangguk.


Hola-hola jangan lupa tinggalin jejek kalean hwhw😂