Not an Illusion

Not an Illusion
Perjodohan



Anggota keluarga Danial sudah ada di rumah Nabila, begitupun dengan keluarga Nabila yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Mana putri bapak yang akan menjadi menantu kami?" tanya Pak Surya Adiputra, ayah dari Danial Raksa Adiputra


"Sebentar ya pak, sepertinya putri kami masih di kamar" jawab Pak Sholeh Hermawan, ayah dari Nabila Khairunnisa


"Umi panggil Bila dikamarnya dulu ya Bi" ucap bu Risti sambil berlalu pergi


"Iya"


"Danial itu yang mana ya Pak?" tanya pak shaleh bingung, karena ada 2 pria dewasa disana.


"Ini pak" Pak Surya memukul pundak Danial pelan, seraya menunjukkan pria yang akan menjadi menantu pak Shaleh


"Maa syaa Allah, ganteng calon menantu saya". diakhiri tawa renyah dari pak shaleh yang diikuti oleh semua orang yang ada disana, kecuali Danial. Ia memasang muka dingin, seolah tak setuju dengan perjodohan ini.


Selang 20 menit, Nabila dan uminya turun dari tangga. Nabilla tampak anggun dengan gamis berwarna navy dengan jilbab yang senada. Ia berjalan menunduk sebagaimana Rasulullah berjalan. Lalu Nabila duduk di samping abinya.


"Wah, cantik sekali Nabila" puji bunda Indri, Ibunda dari Danial


Nabila hanya tersenyum menampakkan lesung dipipinya, tanpa menjawab pujian dari calon ibu mertuanya.


"Nah Bila, ini Danial putra kami. Danial ini putra kedua dari 4 bersaudara. Dia sedang melanjutkan kuliah S2 di Universitas Indonesia sekaligus menjadi Direktur utama di Perusahaan kami" ucap Bunda Indri seraya memperkenalkan Danial kepada Nabila


Kedua orang tua Nabila tersenyum, mereka bahagia akhirnya putri sulungnya menikah dengan pria yang memiliki latar belakang yang notabasenya keluarga terpandang, Bagaimana tidak, Keluarga Dimas merupakan keluarga terkaya, sahamnya dimana-mana dan perusahaan yang mereka kelola juga salah satu perusahaan ternama di dunia. Juga, keluarga Dimas lebih mengutamakan kehidupan agama daripada dunia.


Tak ada rasa takjub mendengar penjelasan calon mertuanya itu, entah kenapa hatinya tetap tak bisa menerima. Namun, ia harus bersikap baik-baik saja agar tak membuat orang tuanya kecewa.


Pak Surya berdehem memberikan isyarat kepada Danial.


"Maksud dan tujuan kami, khususnya saya ingin melamar putri bapak" ucap Danial


"Kami serahkan kepada Nabila. Bagaimana Nak?" tanya pak Shaleh sembari melirik putri sulungnya


Nabila masih sibuk dengan lamunannya, Ia tak mendengar apapun yang diucapkan Dimas maupun abinya. Semua orang menatap Nabila termasuk Dimas yang menatap dingin wanita itu.


"Wanita aneh, ditanya malah bengong. Kalau bukan karena warisan, ogah gua nikah sama cewe tertutup kaya dia" Batin Dimas


"Sayang?" Tanya Umi Risti seraya mengelus kepala Bila yang tertutup jilbab.


"Eh iya Umi kenapa?" Jawab Nabila kaget


Uminya tersenyum "Gimana kamu mau nerima lamaran Danial?"


Sembari menarik nafas halus "Aku mau Umi" lirih Nabila


"Alhamdulillah tinggal kita tentukan tanggal pernikahan dan segala persiapan untuk pestanya" ucap Bunda Indri antusias


"Betul biar kita yang siapkan semuanya". Jawab Umi Risti tak kalah antusiasnya


Ruang tamu yang ramai dengan perbincangan pernikahan itu seolah tak kunjung selesai, kedua orang tua mereka sangat senang sekali. Berbeda dengan kedua insan Allah yang akan melangsungkan pernikahan. Keduanya hanya bisa pasrah atas keinginan kedua orang tuanya, walaupun dalam hati yang paling dalam, mereka terpaksa menerima kenyataan.