Not an Illusion

Not an Illusion
Part 18



Jam kerja telah usai, Nabila langsung beranjak pulang ke rumah suaminya. Seperti biasa kemacetan selalu menjadi penghambat cepat sampai, Dia memilih untuk memesan grab. Hanya 20 menit Nabila sudah sampai, dengan kepala yang mengintip ke dalam rumah ternyata yang ia dapati seorang anak kecil yang sudah mematung menyambut dirinya.


"Bunda." Aqila langsung memeluk Nabila begitupun sebaliknya. "Ayah udah pulang?" tanya Nabila melihat sekeliling dan Aqila menggeleng. "Uhh untung," dia bernapas lega.


"Ayo masuk," ajaknya pada Aqila. "Tadi siapa yang jemput?" melirik Aqila. "Pak badru," jawabnya. Nabila mengangguk paham.


"Bunda mau ke kamar, mau mandi bau ketek. Hehehe." Nabila nyengir kuda. "Qila lanjut nonton TV aja bun," jawabnya. "Ok."


Dengan langkah santai Nabila langsung masuk kamar dengan dalih untuk membersihkan badannya yang udah bau kaya air got. Mandi dengan beremdam air susu biar kencang, pakai sabun yang mahal biar harumnya tahan lama, gosok sana sini biar kulit tambah putih dan pake sabun cuci muka biar mukanya mulus kaya artis.


Ngimpi! Yang ada cuman gosok pake sabun luk yang harganya 3.500, cuci muka pake kelly biar murah meriah, byur byur kelar tanpa harus ritual. Nabila memang tidak begitu mengurus penampilan baginya terpenting hati yang mulus kalau badan atau wajah percuma nanti juga bakalan buluk. Apalagi sampe habis berjuta-juta buat beli skincare udah ngeri duluan. Entahlah, Nabila itu sejenis spesies apa, yang jelas hidup.


Dengan pelan berjalan menuruni anak tangga, pakai baju tidur yang gambarnya sincan lagi ngelel kaya minta disuapin dengan penuh rasa kasih sayang terus kalau ada noda di mulut di elap pake tisu kamar mandi pandangannya love lovean gitu. Aqila yang melihat Nabila memakai baju tidur sincan langsung tertawa. Mungkin dalam pikirannya "Ini yang anak kecil Qila apa bunda?". Hus Su'udzan bae dosa weoy!


"Kenapa kamu ketawain bunda kaya gitu?" tanya Nabila heran melihat anak angkatnya cengegesan. "Bun lucu itu gambalnya sincan." Tunjuk Aqila. "Jangan ketawain orangtua dosa syutt." Nabila meletakkan telunjuk di mulutnya.


"Kamu nonton itu?" tunjuk Nabila ke arah televisi yang menayangkan dua makhluq Malaysia yang salah satunya punya antena di kepala.


"Emang kenapa bun?" tanya Aqila heran. "Mana remotnya?" tanya Nabila. Aqila langsung memberikan remot TVnya pada Nabila.


"Kalau nonton itu mending berita biar gak ketinggalan informasi," ujarnya memindahkan channel TV. "Itu kan bunda yang suka, kalau Bila kan sukanya upin-ipin," elaknya manja memanyunkan bibir.


RCTI channel yang menjadi pilihan Nabila sekarang yang menayangkan show para pembisnis muda sukses. Banyak terlihat wanita carier elegan yang begitu mempesona dengan make up natural yang membuat dirinya lebih cantik dan pria tampan yang menggunakan setelan jas rapi.


"Kali ini kita akan memperkenalkan deretan pembisnis muda yang sukses. Woah-woah siapa kira-kira." Pembawa acara menjeda kata-katanya yang membuat penonton penasaran.


"Tuh kan udah mulai telat dah kayanya," umpat Nabila dengan pandangan fokus ke Televisi.


"Rivhad Asrul Clarendiva merupakan pembisnis muda ketiga di Indonesia yang kekayaannya mencapi 156 triliun rupiah." Penonton bersorak ketika pria yang dipanggil namanya berjalan menuju panggung.


"Maasi Reyhan Fernanda merupakan pembisnis muda di Indonesia yang kekayannya mencapai 189 triliun rupiah."


Penonton bersorak kembali dengan heboh.


"Hebat udah ganteng mapan lagi, iya gak Qil?" ujarnya takjub melihat dua pemuda sukses yang berada di Televisi.


"Dan yang dinanti nanti pembisnis muda pertama se Indonesia adalah." Mereka menjeda kata-katanya dan "Danial Raksa Adiputra yang kekayannya mencapai 278 triliun rupiah." Penonton heboh, tepuk tangannya semakin meriah terlihat Danial yang berjalan dengan kecenya menaiki panggung terlihat jelas oleh kamera.