
"Hey kenapa kamu bengong kaya gitu?
"Um ... Ngak kok," jawabnya kaku.
Danial mengangguk paham, merebahkan dirinya dan bergegas untuk tidur.
⭕⭕⭕
"Tak ada yang salah bukan? Ketika mencurigai seseorang, namun ketika hati dan pikiran terkoneksi untuk fositif thinking, apapun terlupa begitu saja."
⭕⭕⭕
"Pak nanti jangan lupa jemput Aqila ya," ujar Nabila mengingatkan sebelum keluar dari mobil. Pak Badru mengangguk paham.
Nabila memang tidak bergantung kepada yang lain, selalu ingin mengerjakan tugas seorang diri, menurutnya kerja kelompok hanya akan membuat temannya yang lain santai, karena pasti yang mengerjakan tugas adalah dirinya.
Namun, ketika dosen sudah memberikan intruksi siapa yang dapat membantahnya. Walau berat hati, tapi tetap saja harus diterima dengan lapang dada.
Lio, Mala dan Nabila. Dosen yang sok kecantikan selalu mengganggu mahasiswa ganteng dengan lantang mengumkan nama tiap kelompok. Mala yang antusias karena akan dekat dengan gebetannya Lio, sedangkan Nabila menarik napas kasar karena akan menjadi kambing conge di antara mereka berdua, walau hubungan keduanya masih diambang tanda tanya.
"Kalian enak satu kelompok, lah gua sama anak jendil lagi," gumam Nindy sebal.
"Pasti pelajaran bu Meyri kan?" tanya Risman menebak.
"Hooh."
"Hahaha. Gua milih sendiri tuh temen kelompoknya," ujar Risman santai.
Mala menatap Risman kaget. "Kok bisa?"
Risman dan Adit saling melirik, tersenyum picik.
"Oke sekarang saya akan bagi kelompok, masing-masing tiga orang."
"Tentuin sendiri aja lah bu, masa iya masih diatur sama ibu, kaya anak TK aja," ujar Ridho teman kelas Risman dan Adit.
"Kalau kalian pilih sendiri pasti sama itu-itu aja, gimana mau berbaur sama yang lain."
"Ibu juga kalau dipilihin sama orang tua ibu gak mau kan? Pasti pengen milih jodoh sendiri," cibir Reyki si flayboy cap pasar.
Teman kelasnya hanya tertawa, sudah biasa melihat tingkah kocak Reyki si flayboy cap pasar, namun bu Meyri tetap bersikeras untuk menentukan anggota kelompok menurutnya.
"Maaf bu, ditunggu bapak kepala di ruangannya," ujar dosen sastra Indonesia di ambang pintu.
"Tunggu sebentar, saya akan kembali lagi."
Risman dan Adit memanfaatkan situasi, berbisik dengan sebagian teman kelasnya yang lain. Mereka langsung melancarkan aksinya menghadap Pandu yang merupakan mahasiswa baru, yang memiliki paras tampan. bu Meyri selalu bersikap lembut padanya, bahkan meminta nomor handphone pandu ketika dia baru masuk kampus minggu lalu.
"Inget ya, rencana kita harus berhasil," ujar Risman. Pandu memberikan jempol sebagai tanda Oke.
Bu Meyri kembali setelah dua puluh menit berlalu, dia kembali melancarkan aksinya dan akan mengumumkan perihal pembagian kelompok yang sudah selesai dia buat.
"Maaf bu, lebih baik kita pilih kelompok sendiri aja, soalnya kalau menurut ibu, nanti ada yang gak setuju dan akibatnya tugasnya gak beres," potong Pandu.
"Tapi kan saya harus tetep bagi kelompok, kaya kelas yan ..." bu Meyri berhenti sejenak, Pandu tersenyum manis kr arahnya.
Dia tersipu malu. "Baik, bagi sendiri aja, tugas kumpulkan dijadwal yang selanjutnya." bu Meyri segera keluar kelas, dengan senyum yang merekah.
Nabila dan teman-temannya tertawa lepas, setelah mendengar cerita komedi di kelas Risman. Membayangkan betapa merahnya pipi guru jendil itu, hanya karena senyum manis yang diberikan Pandu.
"Gila. Besok gua bakalan coba cara kalian," ujar Mala yang membuat temannya kembali tertawa.
"Lu juga aneh, padahal cuma pembagian kelompok aja sampe segitunya," timpal Nindi.
"Abisnya gua males kalau sama yang laen, yang ada nanti malah minta terakhir," jawab Risman mengingat momen dimana dompetnya terkuras habis karena kerja kelompok di lestoran dan dia yang harus membayar.
"Belum lagi otak gua pas-pasan, jadi harus milih sama yang bermutu dikit." Risman melirik Adit.
Adit memutar bola matanya malas. "Enak di lu, gak enak di gua."
"Untung gua juga sama Nabila, jadi bisa santuy," timpal Mala.
"Nasib baik kan," jawab Risman antusias.
"Lu semua enak, lah gua?" ujar Nindi.
"Sabar," jawab Risman dan Mala berbarengan.
Mereka berempat tertawa, Nindi hanya diam dan memajukan bibirnya kesal.
⭕⭕⭕
"Nah kan bener, nasib baik gua kalau satu kelompok sama lu," ucap Mala ketika ketika keluar dari rumah Lio. "Baru jam dua aja udah beres." Nabila hanya tersenyum.
"Lu langsung balik atau ke butik dulu?" tanyanya.
"Gua ke butik dulu."
"Oh yaudah bareng gua aja," jawab Mala.
"Gak usah, gak searah juga nanti lu harus puter balik," tolak Nabila.
"Lu yakin?" tanya Mala memastikan. Nabila mengangguk mantap.
"Kalau gitu gua duluan ya, lu hati-hati," ujar Mala karena sopir pribadinya sudah datang.
"Oke. Lu juga."
Nabila menunggu angkutan umum untuk pergi ke butik, namun dia melihat seorang pria yang sosoknya mirip Danial turun dengan seorang wanita memasuki mall yang ada di depannya. Nabila memperhatikan dengan teliti, tetapi lelaki itu membelakanginya, pikiran dan hatinya terkoneksi hingga kakinya berlari menyebrangi jalan untuk mengejar pria yang mirip dengan suaminya itu.
Nabila terus berlari menerubus segerumbulan orang, sudah berapa kali dia menabrak dan minta maaf lalu kembali berlari. Namun langkah pria dan wanita itu sangat cepat, hingga dia kehilangan jejak.
Brug
"Kamu Nabila kan? Yang kerja di butik tante kan?" tanya Bella ketika Nabila akan kembali ke luar namun menabrak dirinya.
Nabila memandang Bella, mengingat baju yang dikenakannya sama dengan wanita yang dia lihat bersama pria yang mirip suaminya . Namun karena Nabila berfokus pada pria itu, dia tidak ingat jelas bagaimana baju wanitanya.
"Hello," ucap Bella menyadarkan Nabila dari lamunannya.
"Ah!" Nabila mengusap wajahnya kasar. "Iya. Mbak Bella ya?"
Bella menganggukkan kepalanya perlahan, tersenyum ramah. "Kamu mau beli pakaian bayi juga?" tanyanya lembut.
Nabila berpikir sejenak. "Ngak kok, tadi saya abis nganter temen beli popok buat adiknya," jawabnya kaku.
Bella melihat ke segala arah. "Temennya mana?"
"Dia udah pulang duluan." jawabnya. "Mbak Bella mau beli peralatan bayi?"
"Iya. Persiapan mumpung lagi gak ada jadwal." Nabila mengangguk paham.
🔔SMS Clarisa
Bil lu dimana? Cepet ke butik, kerjaan banyak nih!
14.05
"Um ... Maaf ya mbak, saya harus kembali ke butik. Saya duluan," ujar Nabila.
"Iya. Hati-hati." Bella tersenyum ramah.
"Kamu bisa keluar sekarang. Dia udah pergi," ujar Bella. Danial menghela napas lega di tempat persembunyiannya.
🌸🌸🌸
Hallo guys apakabar? Baik ya. Karena baca cerita aja butuh sehat apalagi berharap. Eak ^V. Sorry baru up lagi. Ada yang bilang saya kena korona? Bukan kena lebih tepatnya terdampak :v. Alhasil tugas daring numpuk. Baru sempet up lagi sekarang. Sekali lagi sorry udah nunggu :^
Oh yeah! Baca cerita baru saya Yuk. Judulnya Butterfly. Baca aja dulu. :<