
"Aqila di rumah dulu sama bibi ya. Bunda harus berangkat ke kampus sekarang." Ujar Nabila lembut
"Bunda pulang jam berapa?" Tanya Aqila sedih
"In syaa Allah bunda pulang cepet sayang." Jawab Nabila tersenyum
"Janji ya."
"In syaa Allah." Nabila langsung mencium kening Aqila
"Bun salam dulu." Ucap Aqila
Nabila menerima salam dari Aqila dengan senyum haru
"Bi titip Aqila ya." Ujar Nabila penuh harap
"Baik bu." Jawab bi Ira sopan
Perjalanan dari rumah Danial ke sekolah sekitar 1 jam. Ini kali pertamanya Nabila pergi ke kampus dari rumah suaminya, biasanya ia tidak berangkat sepagi ini karena rumah Nabila dengan kampus sangat dekat hanya 20 menit saja. Dalam perjalanan Nabila membisu, sebenarnya ia ingin naik motor untuk pergi ke kampus. Namun, motornya ada di rumah orang tuanya, dengan terpaksa ia harus mau di antar oleh supir pribadi Danial.
Kemacetan yang terjadi di ibu kota Jawa Barat bukan hal yang asing lagi, suara klakson kendaraan darat selalu saja ramai karena para pengemudi yang tidak sabar. Wajar saja, banyak dari mereka yang sekolah, bekerja agar tidak telat sesuai peraturan yang telah di tetapkan.
Jalan raya tambah bising dengan suara cicitan burung yang melintas diangkasa untuk mencari makan, sang surya mulai sempurna keluar dari peraduannya. embun mulai kering karena panas mentari kian datang. Beruntung yang menggunakan mobil terlindungi sedangkan mereka yang memakai motor harus tahan panasnya mentari.
"Pak waktu saya tinggal setengah jam lagi, apa macetnya masih lama?" Tanya Nabila resah
"Sepertinya tidak bu." Jawab pak Badru tetap memandang jalan
"Kenapa bisa macet ya?" Tanya Nabila lagi
"Sudah biasa bu, karena di depan ada pasar dan banyak yang belanja. Juga ada pabrik yang setiap harinya banyak pegawai yang melintas." Jawabnya lagi
"Besok kalau ibu tidak mau telat, lebih baik berangkat bareng dengan pak Danial." Tambahnya
"Iya juga ya pak. Saya belum tau jalurnya, saya kira gak akan macet." Ujar Nabila
"Wajar saja ibu baru pertama kalinya lewat jalur ini." Ucap Pak Badru
"Iya." Lirih Nabila
Beruntung 10 menit kemudian mobil bisa jalan, walaupun pelan karena kemacetan belum sempurna usai. Nabila resah baru pertama kalinya ia akan telat masuk kampus, ditambah dosen yang mengajar terbilang killer. Nama baiknya akan tercoreng karena kejadian tidak direncanakan ini. Orang akan mengingat 1 kesalahan dibanding 99 kebaikan bukan? Arggg! Dia prustasi namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Nabila akan memasang topeng untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Makasih ya pak." Ucap Nabila berlari menuju pintu masuk kampus
.........................
"Assalamu'alaikum pak." Ujar Nabila ketika masuk kelas
"Nabila." Teriak teman-temannya heran
"Kenapa kamu telat?" Tanya Dosen killer dingin
"Macet pak." Jawab Nabila menunduk
"Karena ini pertama kalinya kamu telat, saya toleransi. Kalau telat lagi kedua kalinya saya berikan hukuman yang setimpal." Ujarnya membunuh batin
"Baik pak. Saya izin duduk" Nabila menuju tempat duduknya
Ia fokus memperhatikan dosen yang menjelaskan materi, mengabaikan ocehan teman-temannya yang bertanya dengan suara pelan. Rasa penasarannya ingin segera terjawab namun waktunya tidak tepat.
"Naira jelaskan ulang apa yang barusan saya jelaskan." Ujar pak Dosen tiba-tiba
"Ah anu pak lagi bahas anu kan." Jawab Naira bingung
"Anu apa?" Ledek salah satu mahasiswa yang lain
"Apa sih lu keset keramik bau singkong goreng." Ledek Naira tak mau kalah
Ehem
Semua mahasiswa berhenti berbicara, dengan ehem saja sudah membuat bulu kuduk merinding.
"Buka buku halaman 245-265, kerjakan." Ujar pak Dosen dingin
"What? Apa? Gak salah? Boa egang, gila ngebunuh ini mah." Jawab mahasiswa kaget
"Bapak belum beres menjelaskan." Ujar salah satu mahasiswa
"Kalian sudah besar tak perlu saya suapin. Baca saja bukunya materi semua lengkap. Soal cinta saja kalian pintar, harusnya malu sama diri sendiri." Jawabnya
"Cinta itu dari hati pak, namanya hati gak pernah salah. Kita nurutin kata hati makanya pinter kalau masalah cintah. Nah, kalau pelajaran itu dari otak, kalau otaknya udah penuh sama masalah kaya si Raffi susah buat mikirnya." Celah Riski santai
"Huuh bucin." Ledek Mahasiswa serentak
Riski hanya nyengir kuda dengan gaya so cool nya
"Kok gua." Celah Raffi tak terima
"Udah lu terima nasib aja." Elak Riski
Mahasiswa hanya tertawa dengan ulah makhluq miring itu. M.Riski Prasetya si biang kerok hobbynya ngelawak, godain cewe tapi tetap saja jomblo. Namun, masalah fisik? badannya atletis, kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, alisnya tebal, bulu matanya lentik, bibirnya merah. Disisi lain Terlihat pak dosen ingin tertawa, namun ia menahan tawanya agar imagenya tetap terjaga
"Dasar pak dosen." Batin Nabila