Not an Illusion

Not an Illusion
Part 16



"Baru pulang ngampus lu Bil?" tanya Clarisa yang tengah sibuk mendesain baju.


"Hmm," jawabnya yang langsung merapikan baju yang seharusnya berada di tempat yang sudah ditentukan. "Sa bu Riska nanyain gua gak?" tanya Nabila.


"Ngak. Lagian siapa juga yang mau nanyain lu GR tingkat pohon kelapa!" ledek Clarisa.


"Masih mending pohon kelapa daripada ujung monas Jakarta!" balas Nabila tidak mau kalah. "Gua serius nih, gak enak udah seminggu gua gak masuk kerja," ujar Nabila khawatir.


"Lah sampe segitunya lu. Kan bu Riska tau kali lu itu cuti nikah." Clarisa menatap heran Nabila.


"Iya, gua gak enak aja takutnya kenapa-napa gitu."


"Aelah santai aja kali, bu Riska baik ini orangnya," ucap Clarisa menangkan. Nabila mengangguk paham "Iya juga."


"Bil kenapa lu gak berhenti kerja aja?" tanya Clarisa. "Padahal ya lu kan udah nikah, laki lu tajir, lu tinggal jadi bini sholehah duduk manis di rumah uang bulanan ngalir." jelasnya.


"Gua gak mau aja, lagian dia gak tau kalau gua kerja." Nabila melirik Clarisa.


"What? Hffffftt! Syulit dipercaya pemirsyah," pekik Clarisa kaya orang yang baru ketemu artis Kopeah. Koreah maksudnya. "Nih ya mustahil kali, masa iya lu gak ngomong sama laki lu, mentang-mentang lu dijodohin gitu." Clarisa menatap Nabila heran mungkin dalam benaknya "Ngomong enggak tapi nganu pasti udah."


"Ya ngomong lah, lu kira gua batu," balasnya tidak terima. "Cuman ya gua ngomong yang emang penting aja, dia sibuk sama kerjaannya dan gua gak sempet buat ngobrol lama sama dia." papar Nabila.


"Tapi ya Bil, kalau dia tau lu kerja emang masih ngizinin?" tanya Clarisa lagi.


"Meleketehe emang gua darah yang nempel di hati dia apa!" balasnya dengan nada yang sedikit meninggi.


"Mending lu ngomong sama laki lu, biar gak ada rahasia-rahasiaan gitu. Masa iye mengarungi bahtera rumah tangga tapi keduanya masih menutup diri." Clarisa berdakwah wagelas kan ucapannya udah kaya Mario Teguh.


"Tau apa lu soal rumah tangga, nikah aja belum jones iya," cibir Nabila.


"Eh keset keramik! Gini-gini gua udah punya calon imam."Clarisa memuji dirinya. "Masa iye bentar lagi gua bangkotan tapi gak ada laki juga. Hellow jadi perawan tua yang masih tersegel dong."


Nabila mendesah "Iya gua percaya daripada lu nangis darah mana ada Rumah Sakit yang mau nerima kan berabe," balas Nabila malas.


"Halo permisi," sapa wanita cantik, badannya kaya gitar spanyol, bibirnya sexy kaya disulam pake benang wol warnanya merah cabe dan tingginya ideal.


"Iya mbak ada yang bisa saya bantu?" Clarisa berdiri guna memberikan pelayanan yang baik begitupun dengan Nabila yang ikut tersenyum ramah.


"Ada tante Riska?" tanyanya dengan suara yang lembut udah kaya alunan melodi lagu melow.


Belum Clarisa menjawab Riska sudah datang dihadapan mereka. "Eh Bella apakabar sayang?" Riska langsung mencium Bella ala ibu sosialita. "Bella baik tante," jawabnya.


"Kemana aja kok baru kesini?" tanya Riska. "Bella sibuk pemotretan tante. Maaf ya baru sempet silaturahmi sekarang," ujarnya menatap Riska.


"Iya gpp yang penting kamu sehat, tumben nih ke butik tante ada apa?" tanya Riska ramah.


"Oh itu tante aku mau baju yang elegan buat pemotretan tapi agak longgar," jawabnya. "Kamu hamil Bel?" Tante Riska antusias, Bella mengangguk.