
Clarisa berbisik pada Nabila perihal wanita yang terlihat begitu akrab berbicara dengan Riska malah dengan panggilan tante. Roman-romannya memang mereka itu ada hubungan gelap. Oh tidak! Maksudnya hubungan keluarga. Karena selama mereka bekerja di sini belum pernah melihat wanita itu datang. Dan sekarang? Clarisa dan Nabila udah kaya kambing conge yang khitmah dengerin dua wanita cantik itu ngobrol.
"Iya gpp yang penting kamu sehat, tumben nih ke butik tante ada apa?" tanya Riska ramah.
"Oh itu tante aku mau baju yang elegan buat pemotretan tapi agak longgar," jawabnya. "Kamu hamil Bel?" Tante Riska antusias, Bella mengangguk.
Hamil? Pasti nanti ini anaknya mirip emaknya! Plak! Ya pasti mirip lah kan itu anak dia.
"Bella pengen baju yang tetep sexy dan gak bikin Bella berubah walaupun nanti perut Bella udah besar tan." Bella menjelaskan.
"Soal itu gampang, tante punya anak buah yang bagus dalam hal mendesain baju." Riska menoleh pada Nabila dan Clarisa, sedangkan mereka tersenyum ramah.
What? anak buah? sejak kapan gua lahir dari buah? Gua anak emak bapak gua lah. Untung bos kalau bukan? Tau lah! dan gak mungkin gua kerja di butik kalau gak bisa desain baju. Ini sebenarnya gua yang terlalu cerdas kek Mario Teguh atau bos gua yang terlalu jujur? Au ah terang!
"Maaf ya tan Bella gak bisa lama-lama ada jadwal pemotretan lagi hari ini," pamit Bella.
"Yah padahal baru ketemu," jawab Riska kecewa. "Kapan-kapan Bella main lagi ke sini," ucapnya menenangkan. "Janji ya tante tunggu,"
"Yaudah tante bye." Bella melambaikan tangan. "Bye,"
Setelah kepergian Bella, Riska langsung menjelaskan desain baju yang Bella inginkan. Padahal Clarisa dan Nabila mendengar jelas tapi apa boleh buat namanya anak buah harus patuh daripada kehilangan pekerjaan. Walaupun bagi Nabila tidak terlalu penting karena ia memang berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya dan suaminya juga demikian tapi namanya Nabila spesies 0,1% yang langka tetap pengen hidup sama keringatnya sendiri.
"Saya percayakan pada kalian berdua, rancang dengan elegan. Tadi kalian udah denger kan apa yang disampaikan Bella?" ucapnya tegas.
"Oke good!"
"Tadi itu sodara bu Riska?" tanya Clarisa penasaran. Lumayan kalau kata dia buat bahan gosip kalau lagi cape kerja padahal Tuhan sendiri melarang karena seperti makan daging sodara sendiri tapi kalau untuk perempuan susah buat berhenti membicarakan orang lain termasuk Clarisa salah satunya.
Riska melirik "Itu sepupu saya Bella," balasnya dan meninggalkan mereka.
"Tadi tuh gua kaya kenal deh Bil," ujar Clarisa mencoba mengingat sesuatu.
"Kenal sama mbak Bella?" tanya Nabila.
"Iya kaya familiar aja wajahnya," jawabnya masih berpikir. "Oh iya dia itu model terkenal itu lho yang suka ada di majalah." lanjutnya.
"Oh." Nabila tidak terlalu menanggapi karena baginya ini bukanlah hal penting.
"Wah keren nih liat." Clarisa memperlihatkan foto instagram Bella. "Sexy banget kan" gumamnya. "Dosa gak boleh umbar aurat, emang suaminya gak ngelarang apa ya?" Nabila heran.
"Ya mana gua tau, mungkin suaminya juga suka kali sama penampilan mbak Bella yang kaya gini," jawab Clarisa.
"Um, maybe yaudah stop lah jangan ngomongin orang dosa," perintah Nabila.
Bersambung...