
"Saya cape." Danial pergi meninggalkan Nabila ke lantai atas kamarnya.
\*\*\*\*
Nabila melihat punggung Danial yang berlalu pergi ke lantai atas, benaknya bertanya apa yang salah dengan dirinya. Hingga Danial bersikap acuh padanya. Positif thinking dengan keadaan itu lebih baik, Nabila memilih menyiapkan makanan agar ketika Danial turun semuanya sudah siap dihidangkan.
Setengah jam berlalu Nabila dan Aqila sudah duduk di meja makan, sosok yang ditunggu tak kunjung turun. Baru saja langkahnya akan menyusul ke kamar, Danial sudah turun dengan baju tidurnya.
"Belum pada makan?" tanya Danial yang tengah menarik kursi untuk celahnya duduk.
"Belum, kan nunggu ayah," jawab Aqila.
Danial mengangguk paham, melihat makanan yang tertata rapi di meja. "Kamu yang masak bun?" tanyanya menatap Nabila.
"Hm bukan, ini masakan bi Ira. Saya cuma bantu nyiapin aja tadi," jawabnya tersipu malu. Memang bukan pertama kali, namun sebutan bunda terdengar geli ditelinganya. Nabila juga bernapas lega ternyata tadi Danial memang sedang lelah dan tidak ingin ditanya.
"Saya pengen besok kamu yang masak ya," lanjutnya dengan tangan menopang dagunya.
"Iya saya usahakan," balasnya. "Mau makan pake apa kak?" tanya Nabila.
Danial mengerutkan dahinya, tidak menjawab tapi masih dengan posisi menopang dagu.
"Yah maksudnya," lanjut Nabila.
"Ikan aja bun." Nabila langsung mengambilkan Ikan dan diletakkan di piring Danial. Kedua untuk Aqila dan ketiga untuk dirinya.
"Ah **** banget sih Bil, untung dia gak marah," batin Nabila. Pandangannya lurus ke depan dan tangan yang mengacak nasi di piringnya.
"Kamu gak makan?" tanya Danial yang tengah mengusap bibirnya dengan tisu.
00
Nabila POV
Pernah gak sih lu ngehalu gitu? Liat cogan yang gantengnya itu over banget? Dan berharap dia itu jadi imam masa depan?
Gua sih ya gak perlu halu, di depan gua ada cogan yang lagi baca koran di sofa kamar. Udah ganteng pake kacamata pula. Oh my! Lama-lama gua bisa overdosis.
Gua tau laki gua emang ganteng, dari awal pertama dijodohin kaya zaman Siti Nurbaya. Gua coba liat gimana mukanya. Walaupun gua nunduk waktu itu.
Asli gua gak tau notabase diri dia itu gimana, abi cuma bilang dia itu anak pengusaha orang kaya. Awalnya gua gak mau dijodohin, tapi karena orangtua gua yakin banget kalau Danial itu baik ya gua iya aja. Feeling orangtua suka bener juga. Tapi, gua gak tau itu.
Kalau gua inget-inget dari awal aja udah ada sesi berantem, tapi gak berlangsung lama juga sih. Nanti baekan sendiri. Kek bocah kan? Nih ya kadang Danial itu cuek, baik, dingin dan itu tiba-tiba tanpa aba-aba.
Gua gak berani ngobrol lama sama dia soal masalah pribadinya. Padahal gua istrinya yakan? Tapi, kalau dia malah marah dan gak ngasih uang bulanan? Lah coba hidup gua terancam punah.
Tapi sebagai betina gua juga kepo sama masalah pribadinya. Kerjaannya, gaji perbulannya, kantornya dimana, bahkan nomor HPnya aja gua gak punya. Kalau pendidikan gua tau selingan dari mertua gua waktu itu, katanya dia lanjut S2 sambil kerja. Gak kebayang kan itu otaknya mumet banget dicampur masalah kerja sama kuliah? Ya walaupun gua juga sama sih. Tapi, dia itu pengusaha sukses pasti lebih sibuk dari gua. Gua sih cuman pelayan butik biasa, jangankan belajar sambil kerja stalking mantan aja gak ada yang larang.
"Hey kamu kenapa bengong kaya gitu?"
Jangan lupa tinggalin jejeknya guys. Ayo-ayo😉