Not an Illusion

Not an Illusion
Part 03



Nabila melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan yang ia yakini adalah kamar, rasa takjub pada rumah ini semakin bertambah setelah ia melihat dekorasi kamar yang sangat menyejukkan pandangan. Cat warna hijau dengan lukisan dinding taman bunga, pakaian yang tertata rapi dalam lemari yang begitu besar sampai ia bisa masuk ke dalamnya, kasur yang empuk bak seperti tempat tidur keluarga kerajaan.


"Gimana suka sama kamarnya?," Tanya Danial tiba-tiba


Nabila langsung mengalihkan pandangannya pada pemilik suara, tanpa ia sadari Danial sudah berada di belakangnya hanya berjarak 2 meter saja. Ia kira Danial masih marah padanya, namun ia bersyukur jika suaminya sudah memaafkannya


"Iya saya suka," Jawab Nabila tersenyum


"Dekorasi kamar ini baru selesai kemarin, karena saya tau kamu itu suka lukisan taman dalam kamar," Lanjutnya sembari mendekat pada Nabila


"What? Tau dari mana?," Ujar Nabila kaget


"Masalah itu mudah bagi saya," Jawabnya tanpa memandang Nabila


Aqila tak mengucapkan sepatah katapun, ia tetap dalam genggaman nabila. Danial, Nabila, Aqila berdiri sejajar sembari memandang lukisan taman bunga yang indah itu. Ada rasa puas dalam hati Danial atas dekorasi yang ia inginkan sesuai dengan harapan.


"Gak sia-sia gua nyewa arsitek mahal," Batin Danial


"Tante Aqila mau pipis," Ujar Aqila menarik tangan Nabila


"Kak toilet dimana?," Tanya Nabila


Danial menunjuk salah satu pintu dalam kamar dengan jempolnya. Dengan cepat Nabila menari tangan Aqila  menuju toilet


"Siapa anak kecil itu," Batin Danial ketika Nabila dan Aqila berjalan menuju toilet. Ia baru sadar kalau daritadi ada anak kecil yang Nabila bawa


"Kak boleh kan Aqila tidur disini?," Tanya Nabila pada suaminya yang tengah memainkan handphone


Danial tak menjawab pertanyaan Nabila, ia memilih melirik anak yang Nabila bawa. Ia langsung keluar kamar dan tak lama kemudian bi Ira masuk untuk membawa Aqila


"Aqila mau dibawa kemana bi?," Tanya Nabila khawatir


"Ini perintah dari tuan bu, saya akan bawa Aqila ke kamar yang khusus untuknya," Jelas bi Ira


"Kalau begitu saya ikut," Ujar Nabila


"Kamu gak perlu ikut, Aqila biar urusan bi Ira. Saya mau ngomong sama kamu," Cela Danial tiba-tiba


"Baik tuan," Jawab bi Ira sopan


Aqila sudah hilang dari pandangan Nabila, ia masih merasa khawatir apa benar Aqila dibawa ke kamar yang khusus untuknya. Pikiran negatif terus menghantuinya, ia takut Aqila akan di buang tanpa sepengetahuannya


"Hey Aqila aman gak usah khawatir kaya itu," Sindir Danial menepuk pundak istrinya pelan


"Bener kan? Bukan dibuang tanpa sepengetahuanku?," Tanya Nabila memelas


"Ya ngak lah, saya masih punya hati kali. Ini kamar khusus kamar kita. Rumah sebesar ini punya banyak kamar, dan salah satunya saya kasih buat Aqila," Papar Danial


"Kamu nemu anak itu di taman kota?," Tanya Danial


Nabila kaget atas pertanyaan Danial, bagaimana bisa ia tahu kalau Aqila ia temukan di taman kota.


"I-iya sejak siang tadi," Gagap Nabila


"Kenapa kamu bawa anak itu," Tanyanya dingin


"Ah kenapa serem banget kalau mukanya dingin kaya gitu," cecar Nabila dalam hati


Ehem


Decak Danial menunggu jawaban Nabila


"Karena saya kasian liat dia nangis sendirian di taman kota, terus saya tanya katanya dia di buang sama ibunya," Jawab Nabila menunduk


Danial tak menjawab sepatah katapun, ia langsung melangkah keluar meninggalkan istrinya. Nabila bingung dengan sifat Danial yang terkadang humoris, marah, dingin dan semuanya berubah dalam hitungan menit.


"Ah anak itu," Geram Nabila langsung mencari kamar Aqila


Kakinya melangkah dengan cepat, berusaha mencari keberadaan anak yang ia temui. Setiap ruangan ia jelajahi dengan cermat berharap menemukan anak yang ia cari.


"Dimana kamu," Lirih Nabila