
Nabila masih menggap bahwa ini adalah mimpi, pasalnya ia sudah berada di pelaminan bersama dengan pria yang tak ia kenal. Semua keluarga besarnya tampak bahagia senyum tulus mereka terlihat begitu terpancar. Nabila ingin menangis melepas kesedihan, namun ia harus tetap tersenyum, ia tak boleh egois karena ia tak mau mempermalukan kedua orang tuanya. Berbeda dengan Danial yang tampak biasa saja, seolah tak ada beban.
"Apa dia tak terpaksa dengan pernikahan ini?" batin Nabila
"Wah Nabila tante gak nyangka bakal secepat ini kamu menikah, padahal baru kuliah semester 1". tanya tante Miska penasaran yang berhasil membuat Nabila kaget
"Hehehe, iya tante emang semuanya terkesan mendadak".
"Yaudah tante turut bahagia ya sayang. Semoga pernikahan kamu langgeng dan cepet-cepet kasih tante ponakan" ucap tante Miska sambil mengedipkan mata, membuat Nabila ngeri.
"Tante pulang dulu ya. Soalnya ada bisnis yang harus tante urus sekarang"
"Iya tante hati-hati"
Nabila dan Tante Miska berciuman ala ibu-ibu sosialita. Karena sewaktu kecil Nabila tinggal dengan beliau ketika ibu Nabila sakit parah dan di rawat di Singapura. Jadi tante Miska sudah seperti ibu Nabila sendiri, Ia terlalu giat mengurusi bisnisnya jadi tak heran kalau Ia sibuk. Namun, kasih sayangnya jangan di ragukan lagi.
Nabila duduk sendiri dikursi pelaminan, karena Danial pergi berkumpul dengan teman-temannya dikursi tamu.
"Udah nikah belum nikah gak ada bedanya. Tetep bae kaya jomblo" Kesal Nabila
"Emang lu bagusnya sendiri" ucap Nana tiba-tiba datang diikuti oleh Adit dan Naira
"Ah! Kalian ngagetin gua aja"
"Hahaha abisnya lu bengong kaya orang yang idup sebatang kara aja" Ucap Adil meledek Nabila
Plak
"Bodo amat, daripada hidup sebatang monyet" balas Nabila sambil mengulurkan lidah
"Eh bambang, gua gak bahas kera napa lu jadi bahas kembarannya" protes Adit karena kata kara di ganti dengan kera
"Lah itu barusan lu bahas samsek" balas Nabila tak mau kalah
"Dasar Keset keramik"
"Dasar Prasasti Idup blee" ledek Nabila juga
Kedua teman perempuannya hanya menjadi penonton setia, karena sudah tak aneh lagi jika Adit dan Nabila saling meledek ketika bertemu. Dulu mereka yakin bahwa Aditlah jodoh Nabila karena mereka terlalu dekat. Namun, anggapan itu salah, Nabila sudah menikah sekarang.
"Eh Bil gimana lu udah persiapan apa buat ntar malem?" tanya Naira menelisik
Deg!
Ketiga temannya itu menunggu jawaban Nabila dengan tidak sabar
1
2
3
"Emang ntar malem gua mau ngapain?" jawab Nabila polos
"Yah gua kira lu mau ngomong apa gitu, tau-taunya jawab kek gitu. Gagal dah" Protes Nana kecewa
"Anu apa?" balas Nabila mengerutkan dahi
"Malam Pertama" Jawab Nana berteriak, membuat para tamu melirik mereka berempat
Naira langsung menutup mulut Nana dengan tangganya, takut Nana berbicara lebih jauh lagi
"Lu apaan sih, malu-maluin kita aja, nyesel gua bawa lu Na" ledek Adit
"Orang Bilanya ngeselin, bertele-tele jawab pertanyaannya" balas Nana cemberut
Semuanya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan salah satu temannya yang masih seperti anak kecil.
"Gua gak ada persiapan apa-apa guys, lagian kalau di ajak gua mau nolak" ucap Nabila menjawab rasa penasaran teman-temannya
"Hey Bil! Kalau lu nolak dilaknat lu sampe pagi sama Allah. Itu udah kewajiban lu jadi istri buat layanin suami" Nasihat Naira
"Ya tapi gua gak mau dulu, kuliah gua aja masih semester 1, masa iya gua harus bawa gentong kemana-mana"
"Yah lu cuti dulu lah kalau gentong lu udah gede" balas Nana
"Iya kan bisa, lagian banyak kok temen kita hamil terus cuti" ucap Naira meyakinkan Nabila
"Hmm, ah ntahlah gua belum siap nganu" lirih Nabila
"lu harus siap Bil, kalau sakit lu jangan menjerit, nanti keluarga lu pada ngintip lagi" ledek Nana
"Udahlah gua gak mau ngomongin kek gitu lagi, bikin gua ngeri aja" balas Nabila pasrah
"Hahaha iya serah lu aja, nanti juga lu bakalan ngerasain sendiri" jawab Naira
sambil tersenyum seperti penyihir
"Senyum lu kaya nenek sihir Ra" ledek Nana
"Sssssttttt gua lagi ngeledek si Bila"
Nana hanya mengangguk saja
"Eh Dit napa lu diem-diem bae? Ngopi napa ngopi" Ledek Nabila
"Gua baik sist" balas Adit
"Ah lu dari tadi diem mulu, biasanya lu paling semanget kalau ngeledek Nabila" tanya Nana
"Udah ya gua cabut dulu, ada urusan mendadak" pamit Adit pada teman-temannya. Ketiga temannya hanya melihat punggung Adit yang kian menjauhi pekarangan rumah Nabila
Ketiganya hanya bertatap wajah seolah bertanya "Kenapa dia?" . Namun ketiganya hanya menaikkan pundak karena tak tahu.
Sementara dikursi tamu yang tak jauh dari kursi pelaminan ada yang memperhatikan mereka. Ia memperhatikan Nabila yang memakai gaun panjang berwarna putih, kerudung yang menutupi dada dan polesan make up yang natural membuat gadis itu lebih cantik dari biasanya.
"Cantik juga lu, perfect. Abis lu malem ini" tersenyum sinis