Not an Illusion

Not an Illusion
Part 02



Punggung Danial kian menjauh melangkah ke lantai dua. Nabila merasa bersalah atas perbuatannya hari ini namun apa daya waktu tak akan bisa terulang kembali. Nabila tak suka jika ada seseorang dingin padanya, apalagi Danial adalah suaminya.


"Maa syaa Allah" Puji Nabila melihat isi rumah yang begitu megah bernuansa warna hijau. Begitu takjub atas dekorasi rumah ini, berbeda jauh dengan rumah orang tua Nabila


"Ini rumah tante ya?" Tanya Aqila


"Bukan, ini rumah suami tante" Jawab Nabila tersenyum


"Oh. Yang balusan marahin tante ya?" Tanyanya lagi mengerutkan kedua alisnya


"Jangan ngerut juga dong alisnya. Serem tau" Jawab Nabila mencubit hidung Aqila


"Hehe... Maaf tante, Aqila gak suka aja sama om yang tadi, selem. Telus malahin tante lagi" Ujar Aqila melirik Nabila penuh kesedihan


"Sssttt! Kita nyari kamar buat kita tidur yuk" Ajak Nabila lembut


"Ayo tante" Angguk Aqila tersenyum


Nabila dan Aqila berjalan menelusuri setiap ruangan, mencari tempat untuk mereka tidur. Ketika memasuki salah satu ruangan yang gelap, ia mencari saklar untuk menghidupkan lampu.


"Perpustakaan?" batin Nabila


Banyak buku yang tersusun rapi, seperti perpustakaan pada umumnya. Berbagai buku ada disana bahkan novel-novel dari penulis terkenal tertata dalam rak, Nabila begitu senang ketika melihat ruangan ini. Hatinya berbunga-bunga, rasa bersalah itu kian hilang karena teralihkan


"Maaf bu saya lagi masak. Jadi gak tau kalau ibu sudah datang" Ujar wanita paru baya menunduk sopan


"Ibu siapa?" Tanya Nabila


"Saya IRT di rumah ini, harusnya saya mengantar ibu ke kamar dari tadi" Jawabnya masih menunduk sopan


"Tak apa saya mengerti. Oh ya nama ibu siapa?" Tanya Nabila tersenyum


"Panggil saja bi Ira. Mari bu saya antar ke kamar" Ajak bi Ira


"Eh cantik, namanya siapa?" Tanya bi Ira tersenyum pada Aqila untuk mencairkan suasana


"Hehe... Aqila" Jawab Aqila tersipu malu. Ia semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Nabila


"Lucu ya gemes, Itu adik ibu?" Tanyanya lagi


Nabila tak menjawab, ia bingung bagaimana menjelaskan identitas Aqila pada suaminya nanti. Apa suaminya bisa menerima dengan kedatangan Aqila, ia takut Danial marah dan malah mengusirnya.


"Maaf bu apa ucapan saya menyinggung" Tanya bi Ira merasa bersalah


"Ah! Ngak bi" Jawab Nabila tersenyum


Nabila tak ingin menjelaskan Aqila pada bi Ira sekarang. Ia masih bingung bagaimana menyampaikan identitas Aqila yang ia temui di taman pagi tadi.


"Ini bu kamarnya. Kalau ada apa-apa ibu bisa panggil saya" Ujar bi Ira sopan


"Baik bi, terimakasih" Jawab Nabila tersenyum


"Dan untuk kamar Aqila biar nanti saya tanya dulu sama pak Danial" Tambahnya lagi


"Oh tak usah bi, biar Aqila tidur sama saya saja" Jawab Nabila refleks


"Baik bu, saya izin ke dapur lagi" Ujar Bi Ira pamit


"Iya silahkan. Sekali lagi terimakasih"


Bi Ira hanya mengangguk. Ia segera berjalan menuju dapur, dalam hatinya merasa aneh atas sikap istri majikannya itu. Memang bukan masalah jika Aqila tidur dengan Nabila, tapi kamar yang ia tunjukkan adalah kamar Danial. Sedikit lebihnya bi Ira tahu jika Danial menikah dengan seorang gadis kuliahan karena ia mendengar pembicaraan keluarga Danial tempo hari. Ia mengira bahwa Aqila adalah adik Nabila yang sengaja dibawa untuk menemani di rumah barunya. Tapi, Nabila tak menjawab identitas Aqila ketika ia bertanya


"Astagfirullah! Tak sepantasnya saya curiga pada majikan sendiri, mungkin ada sesuatu yang memang tak harus bu Nabila jawab. Lain kali ni mulut harus dipikir dulu kalau nanya, untung aja bu Nabila baik kalau ngak bisa dipecat saya" Lirih bi Ira prustasi