Not an Illusion

Not an Illusion
Part 19



Nabila tertegun, pandangannya fokus pada layar televisi. Hatinya masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.


Kring kring kring


Kring kring kring


Kring kring kring


"Bun itu teleponnya," ujar Aqila menyadarkan Nabila.


"Ah iya."


"Hallo?" sapa seseorang di sebrang sana.


"Iya Hallo kenapa La?" tanya Nabila.


"Bil lu nonton TV gak yang tanyangin pengusaha sukses itu," tanya Mala antusias.


"Iya gua nonton," jawabnya.


"Gila laki lu," ucapnya.


"Laki gua waras La," protes Nabila.


"Otak sama tampang gak konek," geram Mala. "Itu laki lu masuk TV, pengusaha muda sukses lagi. Udah tajir, cakep. Kenapa ya gak jadi jodoh gua aja dulu," jelasnya sembari menghayal.


"Ya kalau lu mau ambil aja sonoh," jawab Nabila santai.


"Gak! Gua mau nyari yang masih disegel. Lagian nih ya, walaupun laki lu cakep tapi tetep aja dia bekas lu. Ogah gua," ucapnya ngeri.


"So jual mahal lu." Nabila mendesah.


"Emang lu mau bagi suami sama gua?" tanya Mala menelisik.


"Ogah!"


"Nah makanya jangan so cuek sama laki sendiri maemun!"


"Budu!"


"Udah ye, pulsa gua abis. Bye-bye," ucap Mala mengakhiri panggilan.


"Bye juga," jawab Nabila.


"Eh, besok lu ganti pulsa gua karena abis gara-gara nelpon lu," ujarnya tiba-tiba.


Tut


Tut


Tut


"Dasar! Kalau bukan temen dah gua buang ke laut lu La," geram Nabila melihat handphonenya.


"Bun itu barusan ayah kan?" tanya Aqila polos.


"Iya barusan ayah," jawab Nabila tersenyum.


"Wah ayah ganteng ya bun?" lanjut Aqila memuji.


Nabila tersenyum pipinya memerah. Padahal yang dipuji adalah Danial tapi yang baper malah dirinya. Apakah ini feeling suami istri? Entahlah, jomblo mana paham.


Allahu Akbar Allahu Akbar


"Udah adzan yaudah yuk kita shalat dulu," ajak Nabila. Aqila mengangguk mengikuti langkah sang ibunda.


Nabila yang begitu rajin dalam beribadah, begitu khusyuk ketika menghadap sang pencipta. Tulus kata menembus cakrawala mengharapkan sesuatu yang dia inginkan. Menjadi imam bagi anak angkatnya akan menjadi hal yang seterusnya akan ia lakukan walau suatu saat kelak Aqila akan pergi dari hadapannya karena keluarganya bisa saja mengambilnya kembali. Namun, rasa bahagia menyelimuti dirinya, dapat mendidik anak menjadi anak yang shalehah. Memang tidak sempurna, harusnya yang menjadi seorang imam adalah Danial yang kini sudah menjadi suaminya yang sah. Tapi, baginya ini sudah begitu istimewa. Allah sudah merancang ini semua, ia tahu bahwa Danial terlalu sibuk untuk itu ia menghadirkan Aqila dalam hidupnya.


Satu jam berlalu hingga Adzan Isya berkumandang kembali, kebiasaan Nabila yang tidak beranjak setelah shalat Magrib lebih memilih mengisi waktu dengan beribadah pada Sang Khaliq dengan mengaji, shalawat, dzikir dan ibadah lainnya. Begitupun dengan Aqila walaupun ia tidak terlalu paham, namun melihat bagaimana perbuatan ibundanya sekarang dan berusaha mengikutinya.


"Kak Danial belum pulang juga ya?" batin Nabila.


"Bun kenapa?" tanya Aqila yang menyadarkan Nabila melamun.


"Ah ngak. Ayo siapin makan malam," ajak Nabila. Aqila mengangguk paham.


"Bi makan malam udah siap?" tanya Nabila ketika sudah sampai di dapur.


"Udah bu," jawabnya sopan.


"Oke, makasih ya bi," ujar Nabila.


"Sudah kewajiban saya bu."


Suara mobil terdengar di halaman rumah, Nabila segera membuka pintu utama. Terlihat Danial keluar dari mobil dengan tangan yang berusaha membuka dasinya. Nabila mencium punggung tangan Danial "Kak baru pulang?" tanya Nabila.


"Saya cape." Danial pergi meninggalkan Nabila ke lantai atas kamarnya.


Ups maaf baru sempat update banyak tugas😅