Not an Illusion

Not an Illusion
Part 13



Meja makan hanya terisi oleh dua orang saja, karena kepala keluarga sudah berangkat tanpa sepengetahuan istrinya. Untung saja, malaikat kecil duduk dihadapannya membuat ia melupakan pemikiran negatif dan lebih memperhatikan wajah polosnya, terlihat gemas yang berhasil membuat seukir senyum tersirat di bibirnya.


Tuhan memiliki sejuta kejutan bagi hambanya, tidak mungkin Aqila datang tanpa tujuan yang memang adalah taqdir dari-Nya. Entahlah apa yang akan Tuhan berikan, namun Nabila berharap kedatangan Aqila adalah angurah terindah dalam hidupnya.


Nabila tidak terlalu menyelidiki darimana Aqila berasal, mengintrogasi siapa keluarganya ataupun yang berhubungan dengan notabase dirinya. Ia menganggap bahwa ini adalah taqdir dari Sang Maha Kuasa. Bukan, bukan Nabila tidak ingin mengembalikan Aqila pada keluarganya namun ia berpikir orangtua mana yang tega meninggalkan anak kecil sendirian di taman. Melihat Aqila menangis seorang diri dan mengaku dirinya ditinggalkan oleh ibunya sudah membuktikan bahwa ada masalah dikeluarga Aqila. Ia lebih memilih untuk mengangkat Aqila menjadi anak dan mengurusnya. Walaupun suatu saat nanti ada seseorang yang mengaku keluarga Aqila ia akan menyerahkan Aqila walaupun itu berat. Biarkan waktu yang menentukan karena Tuhan punya sesuatu yang tidak diperlihatkan namun akan menjadi sebuah kejutan.


Pagi ini adalah hari pertama Aqila sekolah, ia terlihat antusias ketika Nabila berbicara padanya tempo hari.


Flashback on


"Assalamu'alaikum bunda boleh masuk," sapa Nabila sembari mengetuk pintu kamar Aqila


"Wa'alaikumussalam bunda, boleh," sahut Aqila


"Woah lagi apa nih?" tanya Nabila melihat Aqila sedang menggambar


"Lagi gambal gambal ini bunda," jawabnya gemas


"Dapet darimana kertas dan krayonnya?" tanya Nabila lagi


"Dali ayah," balas Aqila


Danial? Pengertian sekali dia, mungkin dia berpikir Aqila butuh kegiatan juga selama di rumah daripada melakukan hal yang tidak bermanfaat


"Bunda liat deh." Aqila menyerahkan hasil gambarnya pada Nabila


Nabila melihat hasilnya, terdapat dua orang pria dan tiga wanita. Pria yang satu terlihat sudah dewasa begitupun dengan salah satu wanita yang tepat disamping pria dewasa. Dan satu wanita yang terlihat remaja dan satu lagi terlihat masih kecil lebih muda dari pria yang satunya lagi.


Nabila memandang Aqila seolah bertanya apa maksudnya dari gambar ini.


"Ini Aqila," lanjutnya menunjuk gambar wanita yang terlihat remaja


"Dan ini," tambahnya menjeda perkataan dan menunjuk gambar pria dan wanita yang terlihat masih kecil


"Adiknya Aqila," jelasnya


Nabila terus memandang gambar itu, tertegun mendengar jawaban Aqila. Tersirat harapan yang diinginkan Aqila namun sepertinya ia enggan mengungkapkan. Lebih memilih untuk menggambar daripada jujur atas semuanya. Mungkin karena ia tahu siapa dirinya, bagaimanapun Nabila dan Danial bukanlah orangtua kandungnya.


"Cantik ya gambarnya, Aqila jago menggambar rupanya," puji Nabila tersenyum sembari mengacak rambut Aqila lembut


"Hehe iya bunda, makacih," jawabnya malu-malu


"Hmm Aqila mau punya temen banyak?" tanya Nabila


"Mau dong bunda," jawab Aqila antusias


"Mau sekolah?" tanyanya lagi


"Mauuuuuu," balasnya dengan wajah berbinar


"Mulai besok Aqila sekolah ya?" ujar Nabila


"Beneran?" jawabnya tidak percaya


Nabila mengangguk "Iya,"


Aqila langsung memeluk Nabila, hatinya berbinar-binar. Wajahnya yang gemas terlihat lebih cantik dan lucu. Setetes mutiara keluar dari mata cantik Nabila, bukan karena sedih namun karena bahagia. Entahlah, hatinya begitu tenang ketika dekat dengan Aqila dan melihatnya bahagia membuat hatinya ikut bahagia.