Not an Illusion

Not an Illusion
Part 04



Nabila tak putus asa mencari Aqila, rasa kekhawatiran pada dirinya membuat keringat yang basah tak terasa. Aqila, Aqila, dan Aqila yang ada dalam benaknya saat ini.


"Aargghh ini rumah apa hotel." Geram Nabila


"Bi Ira." Teriak Nabila cepat saat melihat asisten rumah tangganya itu


"Iya Bu?" Jawab bi Ira


"Dimana Aqila?" Tanya Nabila to the point


"Sudah di kamarnya bu." Balas bi Ira sopan


"Dimana?" Tanya Nabila lagi


"Mari saya antar." Bi Ira langsung menuntut Nabila menuju kamar Aqila


"Tante." Aqila berlari memeluk Nabila


"Kamu baik-baik aja kan sayang?" Cemas Nabila


"Baik-baik aja kok tante. Kan om nya baik." Jawab Aqila tersenyum


"Syukurlah kalau gitu, tante ikut seneng. Kalau ada apa-apa Aqila cari tante ya. Hmm, Aqila berani kan tidur disini sendiri?" Tanya Nabila


"Belani kok tante, Aqila udah biasa tidur cendiri." Jawabnya lucu


"Anak pinter." Nabila mengacak lembut rambut Aqila


"Yaudah Aqila mandi, tante ada urusan dulu."


"Iya tante." Jawabnya


"Bi Ira, saya titip Aqila tolong urus dia." Nabila pergi meninggalkan kamar Aqila


"Baik bu."


"Omnya baik?". Setiap melangkah pikiran ia terus teringat dengan ucapan Aqila, suaminya melakukan apa pada anak itu.


"Disana rupanya." Batinnya lagi


Melangkah dengan secepat kilat, karena memiliki pertanyaan yang harus di jawab. Melihat pria duduk santai menatap laptop sembari meminum kopi dan cemilan yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu. Seperti mimpi namun sudah sepantasnya ia berani untuk bertanya perihal apapun padanya. Walaupun rasa canggung selalu ada, tapi rasa penasarannya menjadi bayang-bayang ilusi harus segera terpecahkan.


Tanpa ada persetujuan Nabila langsung duduk di samping suaminya, Danial tak melirik tetap fokus dengan laptopnya.


"Kak?" Nabila mencoba menutup layar laptop Danial


"Eh apa-apaan kamu. Saya lagi kerja." Danial menahan tangan Nabila


"Tolong perhatikan saya sebentar, saya mau berbicara serius." Nabila memohon


"Apa?" Danial menatap Nabila tak kalah serius


"Apa yang kakak lakukan sama Aqila?" Tanya Nabila


"Tak ada, saya hanya memperlakukan dia layaknya anak kecil pada umumnya." Jawab Danial santai


"Apa saya keliatan bercanda?" Mendekatkan wajahnya pada Nabila. Sehingga jarak mereka hanya beberapa Centi saja, detak jantung Nabila semakin cepat berbeda dari biasanya. Begitupun dengan Danial, Nabila bisa mendengarnya karena jarak mereka sangat dekat.


"Iya saya percaya." Mendorong pelan tubuh Danial agar menjauh darinya


Danial kembali melanjutkan pekerjaan dengan laptopnya, sedangkan Nabila memandang lurus ke depan karena memikirkan sesuatu. "Gimana caranya ngomong ya, apa dia bakalan marah sama gua?". Kalimat yang menjadi bahan pikiran untuknya, ia memang selalu to the point dalam berbicara pada suaminya. Namun, tetap saja pernikahan yang baru berjalan 2 hari tentu saja belum mengenal sifat sejati pria di sampingnya. Apalagi mereka menikah karena perjodohan orang tuanya. Terlalu rumit memang!


"Bodo amat dah." Batin Nabila


"Kak?" Nabila menatap suaminya


"Hem." Danial masih fokus dengan laptopnya


"Liat saya." Teriak Nabila


Danial kaget atas ulah istrinya, ia langsung memutar tubuhnya 180 derajat menghadap Nabila.


"Ada apa sih?" Geram Danial


"Tapi jangan marah." Mohon Nabila


"Tergantung." Jawabnya singkat


"Yaudah gak jadi." Nabila memutar tubuhnya mengesampingkan Danial, bibirnya mengerut. Entahlah, kenapa ia bisa manja di depan pria misterius itu. Namun, sikap remajanya muncul dengan sendirinya.


Bibir Danial terangkat gigi taringnya terlihat, membuat wajah tampannya semakin mempesona. Tangan jahilnya menarik hidung pesek Nabila, refleks wanita yang berusia 19 tahun itu kembali menatap dirinya.


"Cepet mau ngomong apa?" Tanyanya tersenyum


"Gila ganteng banget." Batinnya kembali berbicara, ketika melihat senyum merekah dari bibir Danial. "Luntur dah marah gua kalau gini caranya." "Emak tolongin Bila emak." Cercanya lagi dalam hati.


"Saya tau kok kalau saya ganteng." Ujar Danial mencubit kembali hidung Nabila


"Sakit tau kak." Nabila memegang hidungnya sambil meringis


"Makanya mau ngomong apa?" Tanyanya lagi mempertegas


"Gini kak." Nabila memulai


Danial diam, menunggu ucapan selanjutnya dari Nabila.


"Kan Aqila itu saya temuin di taman, nah dia kan di buang sama ibu tirinya. Boleh gak saya urus?" Nabila menatap Danial penuh harap


Danial tak langsung menjawab, ia masih mencerna jika Aqila tinggal bersamanya. Namun, kelak ia juga akan menjadi seorang ayah, tak akan tega melihat anak kecil hidup dijalanan. Melihat Nabila yang begitu memohon membuat hatinya luluh, ia berpikir mungkin ini kebahagiaan Nabila nanti dan biar tak kesepian karena Aqila akan menjadi temannya jika Danial harus Dinas luar kota bahkan luar negeri beberapa hari.


"Iya boleh. Didik anak itu dengan baik." jawabnya


"Yes makasih kak." Nabila terlalu senang, hingga tanpa sadar memeluk Danial


"Biarlah gak rugi ini. Menang banyak gua." Batin Danial girang


**Jangan lupa Vote ya Guys. Dan komennya ku tunggu. Untuk jadi bahan referensi di cerita selanjutnya. Thanks :)


Salam Kenal**^-^