Not an Illusion

Not an Illusion
Malam Pertama 2



Danial dan Nabila sudah selesai melaksanakan shalat sunnah pengantin, kini keduanya sedang berada di atas ranjang. Keduanya tak berbicara sama sekali. Danial yang sibuk dengan ponselnya membuat Nabila ingin memainkan ponsel miliknya juga. Saat akan mengambilnya dalam lemari Danial menghentikan niat Nabila


"Jangan ambil HPmu" cegah Danial


"Lah, kamu sendiri saja memainkan ponsel" protes Nabila


Tanpa aba-aba Danial langsung menyimpan ponsel miliknya


"Siapa yang mainin Hp?" Tanya Danial seraya menunjukkan kedua tangannya pada Nabila


"Tadi kak, sebelum Hpnya kamu simpan" jawab Nabila


"Tadi kapan?" Ujar Danial ngeles


"Ish sebel deh. Males saya ngomong sama kakak" jawab Nabila ngambek memanyunkan bibirnya


Danial hanya tersenyum simpul. Ia mengaku bahwa Nabila sangat imut jika marah, mengganggu Nabila menjadi hobbynya mulai malam itu. Danial merasa tenang jika ada Nabila disampingnya


"Kamu besok mulai masuk kuliah?" Tanya Danial


"Belum, saya cuti satu minggu. Kalau kakak besok mulai kerja?"  Jawab Nabila


"Gak. Saya cuti juga satu minggu" Jawab Danial


"Lho emangnya gak apa-apa kalau kerjaannya di tinggal? Pasti nanti pas masuk kerjaannya numpuk" Tanya Nabila heran


"Hahaha, bos bebas kali. Lagian saya punya sekertaris yang bisa handle semuanya. Paling nanti dia kesini buat minta tanda tangan saya" Jawab Danial santai


"Oh alhamdulillah kalau gitu" Jawab Nabila lega


Tak ada pembicaraan diantara keduanya, hening seperti kuburan. Nabila hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang entah kemana sedangkan Danial memikirkan cara untuk meminta haknya pada Nabila


"Bil nanti pengen punya anak berapa?" Tanya Danial


"Ha? Anak?" Jawab Nabila kaget


"I-iya pengen 3 kak" Jawab Nabila gugup


"Emang kamu gak kewalahan buat ngurusnya?" Tanya Danial sembari melirik Nabila


"Ya namanya perempuan harus multitasking" Jawab Nabila


"Hahaha bener. Terserah kamu aja sih saya ikut aja, tapi saya bantu bikinnya" Ujar Danial sembari mengedipkan matanya pada Nabila


"Maaf kak saya tidur duluan" Jawab Nabila karena tak enak hati


"Kau mau tidur? Silahkan yang pulas saja. Biar saya Lebih leluasa juga" Ujar Danial


Tak ada jawaban dari Nabila. Ia sedang pura-pura tidur karena tak enak hati dengan ucapan Danial yang ingin menerkam dirinya.


Danial menarik tangan Nabila, akhirnya mereka berdua berhadapan.


"Saya minta hak saya padamu" lirih Danial langsung mencium bibir Nabila, Nabila berusaha menolak namun Danial tak melepaskan ciumannya. Nabila pasrah menyerahkan dirinya pada Danial karena ia tahu bahwa ini sudah kewajibannya sebagai seorang istri.


Setelah mereka bercinta, keduanya canggung untuk saling bertanya jawab seperti sebelumnya. Nabila yang masih malu-malu tak ingin menampakkan wajahnya pada Danial


"Ternyata kamu masih perawan Bil" Ujar Danial mencairkan suasana


"Lho emang saya masih perawan dan baru kali ini saya melakukannya bersama dengan kakak" Jawab Nabila meyakinkan


"Ya sama" Ujar Danial santai


Nabila mencari bajunya yang sudah tergeletak di sembarang arah. Ia ingin memakai bajunya kembali Danial yang melihat Nabila sudah peka dengan yang diinginkan istrinya itu


"Nyari baju?" Tanya Danial


"Iya" Jawab Nabila


"Gak usah, permainan ini belum selesai" Ujar Danial tepat di samping telinga kiri Nabila. Malam yang menjadi istimewa bagi pengantin baru ini dengan melaksanakan sunnah Rasul. Nabila kehilangan kehormatannya yang sudah ia jaga selama 19 tahun, namun ia ikhlas karena yang mengambilnya adalah pria yang halal baginya walaupun ia tak mengenal pria itu sepenuhnya.