Not an Illusion

Not an Illusion
Part 08



Nabila memilih untuk pulang setelah pelajaran usai, ia ingat janjinya pada Aqila bahwa akan pulang lebih cepat.


"Pak nanti mampir ke toko Roti XX ya," ujar Nabila


"Baik bu," jawabnya sopan


Kemacetan tidak kunjung selesai, pagi, siang,sore tidak ada bedanya. ditambah suasana siang hari sangat panas karena cuaca benar-benar cerah, Sehingga mentari leluasa menyinari bumi dengan cahayanya.


"Tunggu sebentar ya pak." Nabila keluar dari mobilnya.


Pak Badru mengangguk sopan.


Nabila memasuki toko Roti, berbagai roti saji tersusun rapi di dalam etalase kaca. Terlihat enak dan menggoda perut untuk memakannya.


"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko sopan


Nabila terlihat berpikir sejenak sembari memerhatikan roti di depannya. Ia lupa bertanya roti kesukaan Aqila.


"Mbak, kalau roti kesukaan anak-anak yang mana ya?" tanya Nabila


"Biasanya anak-anak lebih suka roti isi coklat bu," sahut pelayan toko


"Yaudah saya beli yang coklatnya satu, yang ini dan ini." Nabila menunjuk roti berukuran besar yang terlihat enak tentunya.


"Baik bu tunggu sebentar." Pelayan toko mengambil roti dan dimasukkan pada plastik.


"Ini bu." Ia menyodorkan plastik berisi roti pada Nabila


"Totalnya berapa?" tanya Nabila


"57.000" jawabnya sopan


Setelah pembayaran selesai, Nabila langsung kembali ke mobil.


"Tidak bu, ini punya ibu," sahutnya menolak


"Tidak apa-apa, terimalah," jawab Nabila


Pak Badru menerima roti itu dengan berat hati.


"Bunda." Aqila berlari memeluk Nabila


Nabila mencium kening Aqila lembut dan tersenyum padanya.


Kini Aqila dan Nabila berada di ruang keluarga menonton chanel berita kesukaan Nabila. Tidak heran, Nabila selalu update perihal berita yang booming di negaranya bahkan negara lain. Sedangkan Aqila fokus memakan roti yang Nabila beli khusus untuknya.


"Pengusaha muda tampan, kaya raya, terkenal diberitakan telah menikah dengan seorang gadis kuliahan. Publik dikagetkan dengan rumor ini, karena pernikahan beliau sembunyi-sembunyi. Hanya mengundang kerabat dan teman terdekat, sehingga banyak yang tidak mengetahui kebenarannya. Apa yang menyebabkan Anda tidak mempublic pernikahan Anda?" tanya host televisi tersebut


Ketika kamera mengarah pada seorang pria, sontak Nabila kaget.


"Saya hanya tidak ingin istri saya diganggu publik, lebih baik publik tidak tahu identitasnya agar dia tenang dalam menjalani aktivitas. Mohon doanya saja, agar pernikahan saya sakinah, mawadah, warahmah," sahut Danial santai


"Apakah benar istri Anda seorang gadis kuliahan?" tanya host lagi


"Iya," jawab Danial singkat


"Ada yang ingin Anda sampaikan pada istri Anda?" tambah host


"Tidak ada," sahut Danial


Nabila yang menonton acara wawancara tersebut kecewa, namun ia ikhlas karena tidak mungkin Danial mencintainya. Mereka dijodohkan atas keinginan orang tuanya dengan alasan sudah perjanjian ketika Danial dan Nabila kecil. Orang tua mereka merupakan sahabat sejak dulu, maka perjanjian untuk menjadi besan memang sudah dirancang agar mereka semakin dekat. Bagi Nabila perjodohan ini tidak adil karena menurutnya menikah sekali seumur hidup dengan orang yang dia cintai agar rumah tangga terjalin harmonis. Kenyataanya berbeda, walau begitu ia tetap berbakti pada Danial.


Pernikahan yang berjalan 1 minggu itu berjalan bagai air mengalir, Danial bersikap baik pada Nabila bahkan berani untuk menjahilinya. Nabila mengira bahwa suaminya sudah membuka hati untuknya, nyatanya salah, mungkin Danial hanya menjadikan dirinya bahan candaan.


"Makanya jangan berharap lebih bil," batin Nabila sembari melamun melihat chanel TV yang sudah berganti tayangan.