Not an Illusion

Not an Illusion
Part 10



"Ah kenapa badan gua sakit semua." Danial meringis kesakitan saat bangun tidur.


"Darah," lirih Danial, melihat bercak darah di seprai kamarnya


Danial melihat Nabila yang baru keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat merah karena menangis. Ia sama sekali tidak melirik Danial, melewati begitu saja tanpa memperdulikan tampang suaminya yang heran.


"Ah!" Danial kaget melihat dirinya yang tidak mengenakan pakaian apapun. Ia segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, padahal pikirannya entah kemana.


Adzan Shubuh berkumandang, Nabila tengah menunggu Danial untuk menjadi imamnya. Ketika sang imam telah datang, maka ibadah shalat segera dimulai. Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar indah seolah menghiasi dunia lebih berwarna. Berdoa bersama memohon ampun dan keinginan pada Sang Khaliq terlantunkan secara detail dari kedua insan yang tak saling mencintai.


Danial langsung berbalik menghadap Nabila, namun yang pemilik wajah yang akan diajak bicara enggan untuk menatap.


"Hey kenapa?" tanya Danial heran


"......."


"Nabila?" tanyanya lagi


"........."


"Jawab!" dengan nada sedikit membentak


"Harus saya jawab?" tanya balik Nabila menatap Danial serius


"Tentu. Kau bersikap aneh padaku." Danial menjawab


"Apa kau tak ingat apa yang kau lakukan padaku?" tanya Nabila sedikit meninggi


"Apa? Aku melakukan apa?" tanya Danial polos


"Kau menerkamku seolah aku ini adalah mainan pemuas nafsu." Nabila memukul bahu Danial pelan


Danial berpikir, mencoba mengingat kejadian sebelum ia tidur. Namun pikirannya sama sekali tak memberikan informasi, ia ingat terakhir kalinya ketika dia di Cafe dengan teman karibnya memberikan obat, temannya menjelaskan bahwa itu adalah obat stamina agar selalu kuat. Danial pikir obat itu agar dirinya tetap kuat menjalani aktivitas, kenyataannya berbeda pasti ia melakukannya karena pengaruh dari obat itu.


"Sama sekali aku tidak mengingat apa-apa." Danial berucap jujur


"Bohong!" elak Nabila


"Dengarkan aku." Danial memegang tangan Nabila seraya menghadap padanya. Namun, Nabila membuang muka karena enggan melihat wajah suaminya.


"Lihat aku," ujar Danial


"Nabila," tambahnya


"Apa kau tuli?" geram Danial karena sang pemilik nama belum juga melihat padanya.


"Maafkan aku," lirih Danial


"Aku tau kau marah padaku, aku benar-benar tidak mengingat kejadian semalam. Terakhir kalinya aku diberi fil oleh temanku sewaktu di Cafe. Dia bilang itu adalah fil agar badan tetap kuat, namun ternyata dosisnya bisa lebih dari itu. Maafkan aku." Danial menjelaskan dengan penuh penyesalan.


"Terserah kau mau marah padaku, karena itu hakmu," tambah Danial dan melangkahkan kaki keluar kamar.


Nabila terdiam ketika mendengar penjelasan dari Danial, hatinya begitu teriiris oleh ribuan pisau yang tajam. Mendengar pengakuan dari lisan suaminya bahwa bukan salah Danial sepenuhnya.


___________________________________________


"Bi bapak mana ya?" tanya Nabila karena tidak ada Danial saat sarapan


"Bapak sudah berangkat bu," jawab bi Ira sopan


"Lho pagi-pagi sekali? apa ada urusan mendadak?" tanya Nabila lagi


"Kalau masalah itu tidak tahu, bapak buru-buru berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu." bi Ira menjelaskan


"Makasih bi," ujar Nabila


"Baik bu," balas bi Ira dan melangkah ke dapur


"Padahal dia istrinya, kenapa dia tak tau apa-apa dan malah bertanya sama saya," batin bi Ira


Halo guys. Jangan lupa like and komennya aku tunggu ya