Not an Illusion

Not an Illusion
Part 11



Brug


"Maksud lu apa?"


Brug


"Lu mau bini gua benci sama gua?"


Brug


"Lu benci sama gua? Ngomong!"


"Santai bro gak usah main fisik." Rezki menenangkan


"Itu yang pas buat orang kaya lu." Danial melirik Rezki sinis


"Kita bicarain baik-baik, pake kepala dingin," ucap Rezki


"Duduk bro, duduk," titah Rezki


"Apa salah gua?" tanya Rezki


Danial tersenyum sinis "masih nanya salah lu apa?"


"Oke gua minta maaf, gua salah," tambah Rezki


"Gua sengaja ngasih obat itu sama lu," lanjutnya


"Tujuan lu apa hah!" bentar Danial


"Biar lu puas dan bisa senang sama istri lu," jawab Rezki


"Senang? puas?" Danial tersenyum sinis "Lu bener-bener gak punya otak," lanjut Danial


"Lu gak berhak ikut campur masalah rumah tangga gua, dan lu keterlaluan kali ini." Danial menatap Rezki penuh amarah


"Oke gua minta maaf," ujar Rezki


"Maaf?" Danial memandang lurus sembari tersenyum sinis "Gak bisa rubah segalanya," tambah Danial


"Gua tau, gua bakalan nebus kesalahan gua. Bilang lu butuh apa dari gua," papar Rezki


"Gua gak butuh orang ******** kaya lu," hina Danial


Danial pergi begitu saja, terbalut amarah yang mendalam dari hatinya. Dia tidak menyangka atas kelakuan bodoh sahabatnya, terlalu ikut campur masalah rumah tangganya bahkan memberikan obat dan berbohong atas khasiatnya. Dalam hatinya ia tak ingin mengenal orang itu lagi, bahkan bertegur sapa saja akan terasa berat baginya.


Dalam perjalanan ia hanya memikirkan betapa bodohnya bisa tertipu dengan mudah. Begitu percaya dengan apa yang diucapkan sahabatnya. Entahlah, bagaimana Nabila bisa memaafkannya mungkin ia berbuat kasar sehingga Nabila bisa semarah itu.


"Pak kita ke afartemen dulu ya," ujar Danial


"Baik pak," jawab pak Badru sopan


Danial melangkah ke afartemen nomor nomor 141 lantai 2, resepsionis dan pegawai yang lain menyambutnya dengan sopan, menyapa dengan ramah. Namun, Danial tidak mempedulikan berjalan dengan lurus tanpa seukir senyum di bibirnya.


"Sayang kemana aja kamu baru ke sini," tanya wanita sexy yang beradi di afartemen nomor 141


"Kamu kan tau aku sibuk," jawab Danial sembari merebahkan dirinya di atas kasur empuk


"Sibuk sama istri barumu," balas wanita itu malas


"Hahaha jangan cemburu dong sayang." Danial memeluk wanita itu dari belakang, membelai lembut rambutnya berbisik di telinganya "Kamu tak akan tergantikan oleh wanita manapun,"


"Ku pegang janjimu," balas wanita itu


"Kamu gak kerja hari ini sayang?" tanyanya lagi


"Aku hanya ingin menghabiskan seharian ini denganmu," jawab Danial meletakkan kepalanya di bahu wanita itu


"Sorry sayang, aku ada pemotretan hari ini," ujarnya mengelus rambut Danial lembut


"Aku tak akan mengizinkanmu hari ini," tegas Danial


"Ayolah ini demi karirku," bujuk wanita itu sembari membalikkan wajahnya kepada Danial


Dia membelai pipi Danial lembut "Please, aku harus pemotretan hari ini," lanjutnya tersenyum manis


"Jam berapa kamu pemotretan," tanya Danial


"Jam 10.00 pagi," jawabnya


Danial melirik jam tangannya "Baru pukul 07.30, masih ada waktu 2 jam setengah lagi,"


"Aku harus siap-siap dulu sayang," papar wanita itu


Danial melepaskan pelukannya, menjauh dari wanita itu "Jadi kau tak mau menemaniku hari ini?" tersenyum sinis "Karirmu tak ada apa-apanya dibandingkan kekayaanku, perlu aku beli bosmu agar kau tunduk padaku?" geram Danial


"Bukan begitu mengertilah," ujar wanita itu menenangkan


"Kau sama saja tak ada bedanya." Danial melangkahkan kaki keluar, mukanya yang suram membuat semua orang takut akan mendekatinya. Namun, para pegawai tetap sopan dalam memberikan sapaan mereka.


Bela melihat punggung suaminya pergi "Kau memang tak bisa dibantah tuan," menganggkat alis