Not an Illusion

Not an Illusion
Part 01



"Kamu hati-hati disana ya. Jadi istri yang nurut sama suami, kalau ada apa-apa jangan sungkan telepon umi" Ujar Umi Risti sembari memeluk Nabila


"Iya Umi. Maafin Nabila ya suka bikin umi kesel pas Nabila masih tinggal sama umi dan abi" jawab Nabila berkaca-kaca


Umi Risti semakin mengeratkan pelukannya, ia tak tega jika harus melepas Nabila namun ini sudah sewajarnya karena anak sulungnya sudah menikah


"Nak abi titip Nabila ya. Jaga dia jangan bikin dia nangis" Ujar abi Shaleh tegas


"In syaa Allah bi" jawab Danial sembari menyalami tangan mertuanya


Umi Risti mencium kening Nabila. Keduanya menangis karena tak ingin berpisah. Begitupun dengan Abi Shaleh namun ia tak menunjukkan kesedihannya walaupun dalam hatinya sangat berat melepas anak sulungnya


Perjalanan yang cukup lama menempuh sekitar 1,5 jam itu membuat Nabila tertidur pulas dalam mobil. Danial hanya fokus mengemudi, sesekali ia melihat Nabila yang tengah tertidur sampai mengeluarkan pulau pada mulutnya.


"Cantik-cantik hobby bikin pulau" ejek Danial ketika Nabila bangun


Nabila yang mendengar ejekan Danial langsung melihat melalui kaca. Ia terlihat seperti anak kecil yang dipenuhi iler, Ia mengambil tisu membersihkan iler yang ada pada wajahnya.


"Hey! Kau buang itu jangan didalam mobilku" Protes Danial


"Dasar kutu kupret sombong cuman mobil jelek kaya gini" Ejek Nabila


"Ambil tisu itu dan buang nanti di tempat sampah" Ujar Danial tegas


"Iya nanti" Jawab Nabila santai sembari memainkan ponselnya


"Nabila" bentak Danial


Nabila kaget dan langsung mengambil tisu yang sudah ia buang itu


"Turun" Usir Danial menghentikan mobilnya


"Oke" Jawab Nabila sewot


Danial melajukan mobilnya meninggalkan Nabila yang tengah mematung di pinggir jalan. Namun, tak selang 1 menit ia memundurkan mobilnya persis di samping Nabila. Kaca mobil terbuka terlihat wajah Nabila yang membuang muka


"Hey!" Sapa Danial


"Apa lu?" Jawab Nabila sewot


"Wow berani ngomong gua lu sama suami sendiri" puji Danial meremehkan


"Nih alamatnya" Jawab Danial menyerahkan kertas yang berisi alamat dan uang 100 ribu


Lalu ia menutup kaca mobilnya dan melajukan mobilnya tanpa memperdulikan sumpah serapah dari Nabila


"Dasar keset keramik, nyesel gua ngasih lu jatah. Liat aja gak gua kasih jatah lu sampe kapanpun" Ujar Nabila kesal membuat orang yang melintas menganggap Nabila gila


Nabila naik angkot untuk mencari alamat yang ada dalam kertas. Bukan hal yang susah bagi Nabila karena alamat itu adalah wilayah tempat temannya tinggal. Nabila enggan cepat sampai dan bertemu dengan Danial, ia memilih berhenti di salah satu taman kota. Suasana taman pagiĀ  tak seindah sore. Namun, udara taman tetap sejuk dan harum bunga begitu harum di hidung pesek Nabila.


"Udah lama gua gak kesini bareng temen-temen semenjak masuk kuliah" Lirih Nabila


Ia duduk di kursi taman, pemandangan yang tak ia sangka-sangka ada seorang anak kecil yang menangis seorang diri.


"Kamu kenapa nangis? Dan mana orang tuamu?" Tanya Nabila lembut pada anak kecil itu


"Tadi mama bilang mau ngajak aku main terus mama pelgi lagi dan ninggalin aku" jawab anak kecil itu sembari menangis


"Nama kamu siapa?" Tanya Nabila lagi


"Aqila tante"


"Yaudah Aqila jangan nangis, ikut sama tante aja ya. Tante bukan orang jahat kok" Ujar Nabila tersenyum


Nabila dan Aqila bermain bersama di taman seperti seorang ibu dan anak. Ia sadar sudah satu jam setengah dia bermain di taman. Ia bergegas mencari angkot untuk pulang ke rumah suaminya. Aqila yang mengikuti Nabila diam tak mengucapkan apa-apa. Setengah jam perjalanan Nabila sampai


"Assalamu'alaikum" Sapa Nabila saat memasuki rumah


"Bagus main dulu" Ujar Danial dingin


"Jawab salam saya kak" Tegur Nabila


"Baru aja dua hari kita nikah. Udah bikin gara-gara" Jawab Danial melirik sinis Nabila


"Maaf kak tadi saya ke taman dulu" Ujar Nabila membela diri


Danial pergi ke lantai dua karena tak ingin mendengarkan penjelasan Nabila. Danial begitu marah dengan Nabila, ia menghukum Nabila karena melawannya dalam mobil dengan cara diturunkan di tengah jalan. Tapi Nabila seolah tak kapok dengan hukuman yang diberikan Danial.


Jangan lupa Vote ya biar author semangat nulisnya