
"Ayo kita berangkat sayang," ajak Nabila
"Ayo bun," sahut Aqila
"Pak tolong anterin saya ke SD XX ya," ujar Nabila pada pak Badru
"Baik bu," jawabnya sopan
Ditengah perjalanan Aqila mengobrol dengan Nabila, perihal apa yang akan dilakukannya nanti ketika sekolah. Aqila memang tidak pernah masuk sekolah sebelumnya, padahal seharusnya ia sudah masuk kelas 1 SD namun entah kenapa ketika Nabila bertanya ia tidak pernah sekolah walau begitu Aqila tetap masuk kelas 1 SD namun semester 2.
Pak Badru adalah sopir pribadi Danial, sedikit lebihnya ia tahu aktivitas apa yang dilakukannya. Hanya saja keberanian Nabila tidak cukup besar untuk bertanya. Walaupun hati kecilnya ingin sekali mengetahui kemana suaminya pergi pagi-pagi sekali. Danial kelihatan marah atau memang enggan untuk bertemu Nabila, padahal seharusnya yang marah itu Nabila tetapi malah berbanding terbalik tidak sesuai realita.
Apa daya jika wanita sudah penasaran, lisan akan sulit untuk dikendalikan. Rasa penasaran yang ingin terbalaskan diberi kepastian agar tidak meronta-ronta maka Nabila memberanikan untuk bertanya.
"Pak Danial sudah berangkat pagi-pagi ke kantor pak?" tanya Nabila
"Iya bu," sahut pak Badru
Sebenarnya aku ingin jujur, bahwa tuan pergi ke apartemen Bella istri sirihnya. Namun, dia keluar lagi dengan wajah marah dan memilih untuk pergi ke kantor tanpa bicara.
"Apa bapak punya jadwal pagi pak?" tanya Nabila lagi
"Kalau urusan itu saya tidak tahu bu, tugas saya hanya mengantar kemana bapak pergi. Untuk jadwal di kantor itu bagian sekertaris yang mengaturnya," jelas pak Badru
"Oh iya-iya." Nabila mengangguk paham "Sekertarisnya cewe apa cowo pak?" tanyanya lagi
"Cewe bu," jawabnya singkat
Tumben bu Bila bertanya soal ini, apa ada masalah yang memang terjadi? Padahal mereka baru menikah. Hmm, bu Bila keliatan baik semoga pernikahannya langgeng.
"Sudah mengantar saya bapak balik lagi ke kantor pak Danial?"
"Iya bu,"
Argh! Aku ingin bertanya lebih jauh lagi namun aku tak terlalu berani, bagaimana kalau Pak Badru melaporkannya pada Danial, sungguh memalukan.
"Sudah sampai bu," ucap pak Badru setelah sampai di gerbang sekolah
"Yeesss," riang Aqila
Pak Badru mengangguk paham "Baik bu,"
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang guru, terlihat anak-anak yang sibuk dengan kegiatannya adapula yang memperhatikan Aqila. Tidak sedikit yang menyapa Aqila dan Aqila membalasnya begitupun Nabila yang melihat itu tersenyum lembut.
Tok, tok, tok
"Assalamu'alaikum pak," ujar Nabila
"Wa'alaikumussalam istri pak Danial?" tanya guru pria dihadapan Nabila
"Iya." Nabila membalas dengan senyuman ramah
"Perkenalkan saya Wildan guru kelas 1," ujarnya
Bagaimana bisa seorang guru kelas satu adalah pria? Bukankah anak kelas satu itu susah diatur dan kebanyakan mayoritas yang mengajar adalah wanita.
"Maaf bu ada yang ibu pikirkan?" ucap Wildan menyadarkan Nabila
"Oh tidak, kalau begitu saya titip anak saya ya pak, tolong bimbing dia" tambah Nabila
"In syaa Allah kami akan berusaha bu," balasnya
"Terimakasih saya pamit dulu,"
"Aqila belajar yang benar ya sayang, nanti bunda jemput," ujar Nabila tersenyum
"Iya bunda." Aqila mencium punggung tangan Nabila
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Kok seperti pernah melihat wajahnya ya? Tapi dimana? Familiar tak asing dimataku. Ah! Mungkin cuma kebetulan saja.
"Aduh telat ke kampus nih." Nabila melirik jam dan bergegas ke parkiran.
Hayoh jangan lupa tinggalin jejak, semangat menulis author ada pada jejak readers😅