
Keputasan hakim berubah, saksi yang didatangkan tidak main-main, profesor dari kanada yang ditemui renjun mau menjadi saksi utama, mark dinyatakan tidak bersalah, semuanya hanya salah analisa dari kepolisian, seluruh media dunia sudah mengetahui, keluarga lee dapat lega dan bahagia atas kabar ini, ayah mark juga sudah tersenyum hangat pada mark seperti sebelumnya, ibu tiri mark sudah menangis bahagia dan memeluk anak keduanya yang selalu patuh padanya,
"Kan sudah ku bilang, mark itu baik, tidak seperti jeno yang nakal, tak mungkin mark melakukannya" ucap ibu taeyong ke arah tuan lee yang dari tadi sudah menjadi tontonan banyak orang, mereka baru mengetahui ternyata tuan lee takut dengan istrinya,
"Kenapa ibumu itu?" Tanya tuan lee pada jeno,
"Manaku tau, namaku disebut-sebut dari tadi tuan lee, namaku tercoreng karena istrimu, kau harus mengganti rugi" ucap jeno yang membuatnya mendapat pukulan dari sang ayah.
------*------
*Back*
"Mark? Mengapa kau disini" Tanya hansol pada mark yang duduk di tepi sungai,
"Hyung, kau tau kita sama" ucap mark dengan senyuman,
"Maksudmu?" Tanya hansol tanpa berekspresi,
"Menjadi anak yang dianggap sebagai benalu" ucap mark tetap dengan senyuman hangat,
"Aku lahir dari seorang perempuan yang mencintai lelaki beristri, lelaki itu tak mau menikahi ibuku, istrinyapun melarang lelaki tersebut pergi ke kanada menemui kami, aku benci keluarga itu, aku ingin menghancurkannya, tapi saat aku bersama mereka aku tau, mengapa ibukulah yang harus dibenci" lanjut mark dengan melihat bulan yang sedang asyik menonton,
"Keluarga yang sempurna rusak karena seorang perempuan datang menghancurkan mimpi indah, bayi kecil tak disegani datang membuat sempurnanya kehancuran tersebut" lanjut mark hanya duduk tanpa ingin melihat lawan bicaranya,
"Aku menyesal selama hidupku membenci mereka, mereka terlalu sempurna untuk ku benci" ucap mark dengan berdiri,
"Ketika hutan terlihat sangat gelap, saat kau mendekatinya ternyata tak segelap itu, malah kau bisa bisa melihat keindahan alam dengan bantuan hewan bercahaya atau bantuan bulan" mark tersenyum dan kembali berjalan menjauhi hansol yang sejak awal tak ingin membalas mark, melihat sungai mengeluarkan cahaya warna-warni karena ikan hias didalamnya, hansol melihat dua ikan saling berenang berdampingan, hingga hansol tersenyum untuk pertama kali,
"Indah" ucapnya.
-----*-----
Udara dingin membuat ikan masuk sungai lebih dalam mencari kehangatan, matahari yang bertugas menghangatkan bumi sudah bersembunyi tanpa ada tanda akan muncul, seorang lelaki sedang memasak di dapur asramah ditemani dengan 2 lelaki yang hanya menemani tanpa ingin membantu,
"Kalian tidak berniat membantuku?" Tanya jaemin melihat haechan dan renjun,
"Jaem, kalau kau masak sendiri pasti rasanya enak, kalau kita bantu rasanya akan berubah, benarkan chan?" Balas renjun dengan wajah serius, dan diikuti anggukan dari teman pudunya,
"Ya minimal kalian bercerita apa gitu agar membuatku bersemangat" ucap jaemin membuat mereka berfikir mencari tema,
"Ah aku tau gosip terhangat dan terupdate" ucap haechan membuat yang lain senang,
"Apa..apa?" Tanya renjun mulai bersemangat,
"Tadi taeyong hyung membawa dua ichil dari hutan, dua ichil ini berwarna putih dan coklat, sekarang ada di yuna saem"
"Klontang" suara spatula yang dijatuhkan jaemin,
"Kalian urus ini aku pergi dulu" ucap jaemin kaget, dan langsung berlari keluar dapur,
"Ada apa chan?" Tanya renjun ke pada haechan,
"Ichil itu milik jaemin dan jeno" ucap haechan santai,
"Ha? Kenapa kau tak mengatakannya lebih awal" tanya renjun dengan memukul bahu haechan,
"Kau tau jun, jeno masih belum pulih seluruhnya, jika ichil coklat mengembalikan semua ingatan jeno, pasti akan seru"
"Ingatan apa?" Tanya renjun ke arah haechan,
"Yang menyuruh jaemin menghilang dan membuat semua orang melupakan jaemin adalah jeno"
"Kenapa?" Tanya renjun,
"Jeno melihat jaemin berciuman dengan mark" ucap haechan santai karena renjun juga tau itu,
"Cemburu?" Tanya renjun memastikan
"Penghianatan membuat link panas dan akan menyakiti seseorang yang diberi ikatan tersebut, jaemin membagi link kepada jeno, dan ketika jaemin melakukan dengan orang lain itu akan membuat jeno kesakitan"
"Tapi jeno sudah tidak kesakitan lagi" ucap renjun tenang,
"Karena jaemin membagi link ke mark" ucap haechan membuat renjun kaget,
"Sebenarnya apa yang terjadi 6 tahun lalu?" Tanya renjun membuat haechan tersenyum,
"Renjun, kau tau keturunan murni korea memiliki kelebihan, tapi tak pernah digunakan" ucap haechan membuat renjun berfikir,
"Menyerap aura" ucap renjun berjalan menuju kompor untuk mematikannya,
"Dulu semuanya mengira jaemin adalah anak lelaki yang jahat dan berwajah sok polos, dia menyerap aura hansol saat tidur, kenyataannya memang aura hansol berkurang" haechan diam lama memikirkan sesuatu,
"Itu adalah taktik hansol, joni hyung sampai berusaha menyerang jaemin saat itu, ten hyung juga tidak bisa mengendalikan joni hyung, kau tau bagaimana cara hansol hyung melakukannya?" Tanya haechan membuat renjun menggelengkan kepala,
"Hansol hyung bisa mengendalikan penglihatan, ia mengalihkan penglihatan mereka terhadap auranya dan aura jaemin, saat jaemin tidur hansol memasang batu penyerap aura di bantal jaemin, saat jaemin bangun seharusnya sudah setengah aurnya hilang" ucap haechan bernafas panjang, mengingat bagaimana jaemin sedih tak ada yang mempercayainya,
"Tak ada yang membela jaemin saat itu, semua keturunan murni korea dianggap menakutkan, padahal kami tak bisa menyerap aura saat tidur" ucap haechan dengan senyuman,
"Aku dan jisung, sebagai sahabat jaemin tak mempercayainya, jeno malah menyuruh jaemin menghilang, tapi mark mempercayai jaemin, mark adalah lelaki yang selalu mempercayai orang yang ia cintai tersebut, dan itulah mengapa jaemin mulai membagi linknya, ia tak mau kekuatannya habis diserap hansol, ia harus membaginya sebelum habis" ucap haechan sedih,
"Aku mulai tau jika jaemin tidak salah, dan aku mau berbagi link dengannya, hingga akhirnya ia kehilangan seluruh auranya, hansolpun meninggal di sungai, semuanya menyalahkan jaemin, padahal jaemin hanya memiliki aura yang sangat terbatas tak mungkin ia melakukannya, sampai akhirnya ia pergi ke sungai malam hari itu, keesokan harinya semua orang tak mengingatnya, akupun lupa ya mungkin sepertimu melupakan kami, aku merasa memiliki teman yang aku lupakan, tapi aku tak tau siapa, dan jeno mulai perlahan mengingatnya karena ichilnya berusaha membuka ingatannya, aku dan mark juga mulai mengingatnya karena kami satu link dengan jeno, aku dan mark sudah takut jika semuanya akan kembali berantakan, ya walau mark masih menginginkan jaemin, tapi ia juga takut semuanya akan kembali" ucap haechan dengan mata tertutup,
"Tapi takdir akan kembali seperti semula, aku pernah dengar dari DO sambae saat kami berlatih bersama dulu, ada hal yang tidak mungkin diubah di dunia ini, yakni takdir" ucap haechan mulai melihat renjun,
"Minuman yang ada di pesta kwangya adalah awal dari semuanya" ucap haechan melihat renjun,
"Winwin hyung yang membuatnya" jawab renjun dengan senyuman kecut,
"Winwin hyung adalah orang baik, ia mengorbankan ingatannya untuk kita semua, semoga ia cepat kembali" ucap haechan mulai berdiri,
"Kau mau apa?" Tanya renjun melihat haechan mengambil spatula untuk dicuci,
"Huh, pasti tak seenak masakan jaemin" ucap renjun yang sudah mendapatkan muka datar haechan.
----*----
"Permisi" ucap jaemin masuk kedalam ruang neotion, disana ada taeyong, doyoung, dan yuna saem,
"Oh hai jaem, ada apa?" Tanya taeyong ke arah jaemin yang ada di pintu masuk,
"JEAM" teriak ichil putih sedih, dia ada di kandang spesial yang dibuat doyoung bersama ichil coklat yang dengan santai duduk bersandar di tepi kandang, yuna saem dan yang lain langsung kaget mendengar ichil putih memanggil jaemin,,
"Jaem, ini ichilmu?" Tanya yuna kaget jaemin memiliki peliharaan selangkah ini,
"Iya nuna, apakah aku boleh membawanya pulang?" Tanya jaemin dengan wajah dibuat sedih dan menyesal,
"Tak bisa, kami harus menyitanya sampai waktu liburan" ucap doyoung tak mau tau, semua siswa harus mematuhi peraturan neotion tanpa terkecuali,
"Kau bisa pergi ke ruang penyitaan setiap hari untuk memberi makan" ucap taeyoung pelan, dia sebenarnya tidak terima dengan peraturan dilarang membawa hewan peliharaan, tapi karena itu sudah keputusan sekolah taeyoung tak bisa menolak,
"Sudahlah jaem, di ruang penyitaan akan aman, semuanya sudah dijaga ketat oleh kun" ucap yuna menghibur sang adik,
"Baiklah, hmm bolehkah aku berbicara dengan mereka?" Tanya jaemin membuat yang lain menganggukkan kepala,
Yuna menjauhi tempat kandang dan pergi ke kursi untuk melanjutkan perkerjaan yang belum selesai, sedangkan taeyoung sudah menarik tangan doyoung paksa, karena doyoung ingin mendengar apa yang jaemin bicarakan dengan hewan langkah tersebut,
"Jaem, maafkan aku, aku yang salah mengajak ichil putih keluar goa" ucap ichil coklat merasa bersalah,
"Dia mengajakku mencari bunga lati di tengah hutan jaem, dia mau menanamnya di taman, padahal aku sudah melarangnya" ucap ichil putih dengan air mata,
"Mengapa kau mau mencari bunga lati?" Tanya jaemin pada ichil coklat,
"Bunga lati memiliki kelopak bunga yang bisa digunakan untuk orang yang depresi" ucap ichil coklat,
"Maksudnya?" Ucap jaemin aneh, apa yang ichil ini ingin katakan,
"Aku rasa jeno sedang sedih, aku bisa merasakannya" ucap icil coklat,
"Sedih kenapa? Dia selalu tersenyum saat bersamaku, dia juga sering menjailiku" ucap jaemin membuat ichil coklat memegang tangan jaemin,
"Senyuman adalah salah satu cara seseorang menutupi kesedihannya, aku hanya ingin membuat ia bahagia jaem" ichil coklat tersenyum mengelus tangan jaemin,
"Berikan bunga lati ini dalam kue yang kau buat untuk acara tahunan nanti, pastikan semua orang memakannya" ucap ichil coklat memberi bunga putih kecil dengan wangi semerbak,
"Berikan pada semua anggota neo tanpa kecuali, jangan lupa berikan juga pada mark" ucap ichil coklat membuat jaemin menganggukkan kepala,
"Apa kau ingin jeno mengingatmu?" Tanya ichil putih,
"Kalau ia mengingatku maka ia juga mengingat masa menyedihkannya saat itu, aku tak mau dia sedih seperti dulu, biarkan semuanya seperti ini" ucap ichil coklat dengan mata berkaca-kaca,
"Terimakasih" ucap jaemin mengelus kepala ichil.
----*----
Jaemin pov
Senyuman itu mulai tergambar setiap siswa neo, acara tahunan seakan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja, lucas hyung tak mengikuti acara ini karena ada masalah dengan kepala sekolah membuat jungwoo hyung merasa kosong tapi tetap tersenyum, aku tak memahami apakah senyuman ini nyata atau palsu, begitu pula yuta hyung yang sudah kehilangan winwin hyung, acara ini tak lengkap tanpa mereka, senyuman mereka mungkin hanya senyuman topeng, tapi apa yang harus dilakukan jika ini sudah takdir, mark hyung sudah kembali dengan wajah bahagia, duduk bersama anak-anak kelas ilichil, aku tak tau apakah ini akhir dari takdir atau awal dari takdir baru,
"Jaem, jangan melamun, ayo membagiakan kuemu, nanti malah mereka tak memakannya karena alasan kenyang" ucap renjun yang sudah membawa nampan kue kering buatanku dan dirinya,
"Ah iya ayo" ucapku yang langsung mengambil nampan kue di meja dan mulai berkeliling,
Aku mendekati haechan yang sedang bercerita panjang lebar di meja anak baru, di sana ada jeno dan jisung yang sudah memegang perut karena lelucon yang dibuat teman anehnya tersebut,
"Hei makanlah kueku baru melanjutkan cerita" potongku membuat semua siswa memakannya tanpa berani menolak, mereka mungkin sudah tau sifat asliku,
"Rasanya mengapa seenak ini" ucap haechan membuatku tersenyum, sedangkan jeno hanya diam tanpa mengatakan apapun, aku takut apakah rasanya tidak cocok pada lidah lelaki tersebut
"Apakah rasanya tak enak?" Tanyaku membuatnya menatapku,
"Jen?" Tanyaku saat melihat air matanya menggenang, aku tak tau apakah kueku seenak itu hingga membuat dirinya terharu, atau kafena tak enak sampai membuat dia sedih menyesal memakannya,
"Jen kenapa kau?" Haechan memukul jeno yang diam lama melihatku, aku mulai takut apakah ia baik-baik saja,
"Jen ayo pergi ke asramah sepertinya kau sedang tak enak badan" ucapku langsung menarik tangan jeno,
"Haechan tolong bagikan kueku, jangan sampai ada sisa, aku akan membunuhmu jika ada kue di tong sampah" ucapku membuat haechan dengan malas membawa nampan kue, dibantu sungchan yang dengan baik hati ingin membantu.
Aku berjalan di lorong menuju asramah, lampu mulai hidup saat aku dan jeno mulai mendekat dan mati saat kami menjauh,
"Jaemin" ucap pelan jeno menarik tanganku agar berhenti berjalan,
"Ada apa jen?" Tanyaku padanya, aku melihat air yang menggenang tersebut mulai turun satu demi satu, aku usap air tersebut agar tak jatuh lebih dalam, aku tak suka jeno selemah ini, seorang lelaki ceria yang aku kenal dulu berubah menjadi seperti ini karenaku, apakah aku sekejam itu, apa aku sejahat itu, aku berusaha tersenyum agar ia juga tersenyum, tapi ia sama sekali tak ada niat mengangkat bibirnya sama sekali,
"Jen?" Tanyaku lagi,
"Maafkan aku" ucap jeno dengan air mata yang sudah sulit kubersihkan karena terlalu banyak yang keluar,
"Aku sudah memaafkanmu jeno, tolong jangan seperti ini" ucapku mulai meneteskan air mata, aku tau mungkin jeno mulai mengingatnya, mengingat setiap detail apa yang ia lakukan saat itu padaku, semuanya sudah berlalu, aku tak ingin mengingatnya,
bunga lati, bunga lati memang membuat seseorang bahagia, tapi bunga lati juga bisa mengambalikan kesedihan agar mereka bisa menyelesaikan semuanya dan mulai melepas semuanya agar bisa bahagia, bahagia seutuhnya,
"Bisakah kita tak membahasnya?, aku tau kau sakit saat membahasnya akupun juga sakit jen, aku mohon anggap semuanya sudah berlalu, sekarang kita kembali bersama, mulai semuanya kembali" ucapku memeluk lelaki bertubuh besar tersebut yang sudah sesenggukan, aku hanya bisa membenamkan wajahku pada leher sampingnya, dadaku begitu sesak, aku tak suka seperti ini, begitu menyedihkan jika aku memikirkan masa-masa itu.
aku hanya ingin cerita bahagia yang tak memiliki cela, tapi apa mungkin itu terjadi, tuhan menurunkan adam ke bumi karena hukuman atas larangan yang dilakukan manusia pertama tersebut, tuhan juga memberi cobaan padanya, dimana ia dipisahkan dengan belahan jiwanya yakni hawa, apakah sebagai manusia biasa yang tak memiliki status nabi bisa berharap hidup bahagia selamanya? Padahal bumi adalah tempat hukuman dan cobaan, Seseorang hanya perlu menerima dan menghadapi cobaan tersebut sebagai tanda jika dia akan mendapatkan status yang lebih tinggi, semua orang pernah melakukan kesalahan, menjadi jahat adalah sebuah kesalahan, tapi berubah menjadi lebih baik akan merubah genre sebuah cerita, jika kau buruk dicerita orang lain, maka jangan menjadi buruk diceritamu sendiri, karena kita semua punya cerita.
-End-