
Awan gelap menyelimuti smocool sejak terbentuk benteng dengan warna hijau melinggar membentuk setengah bola, udara smoorest yang awalnya sejuk menjadi lebih sesak, beberapa pohon dan tumbuhan sudah berubah warna menjadi lebih gelap, beberapa polisi berusaha merusak benteng dengan berbagai cara,
"Kita harus pakai kekuatan untuk menghancurkannya" ucap salah satu polisi,
"Tapi mereka akan terluka, mereka dari keluarga yang tak main-main" ucap polisi yang lain,
"Suruh haechul menghancurkannya" ucap yunho, ajun komensaris polisi di mystic seoul, dan alumni smoocool generasi ke 2,
"Siapa Haechul kapten?" Tanya polisi,
"Guru yang mengajari mereka membuat benteng ini" ucap yunho dengan wajah serius,
"Baik kapten" salah satu polisi berlari menuju gedung asramah utama.
*
Haechul duduk dengan santai di meja makan siswa, ia membuat lumpiah dengan menyanyi dan sedikit menari, banyak guru dan siswa yang iba dan kasian terhadap guru satu ini, karena keanehannya membuat yang lain berfikir mungkin ia sendang stres memikirkan masalah ini,
"Kau tak ada niatan membantu kami menyelesaikan ini haechul saem" tanya yuna yang sejak tiga hari tak bisa tidur karena memikirkan adik dan sepupunya,
"Mengapa kau tak membuat salju ketika musim kemarau yuna saem?" Tanya haechul masih melipat kulit lumpiah yang sudah diisi,
"Aku tak bisa merubah hukum alam saem" ucap yuna malas yang membuat haechul tersenyum,
"Begitupun aku, aku tak bisa merubah hukum alam, semuanya akan tetap berjalan seperti semestinya, walaupun ada biji cabai menyangkut di usus, tetap saja akan ada dokter yang akan memotongnya" haechul melihat yuna mendengarkan kenglanturannya,
"Kenapa dipotong?" Tanya haechul ke arah yuna,
"Ha?" Tanya yuna tak faham,
"Karena ada yang minta dipotong, agar kesakitan mereka hilang" jawab haechul yang membuat yuna pergi meninggalkan kegilaan teman satu sistem kekasihnya tersebut.
"Apakah anda haecbul saem?" Tanya salah satu polisi ke arah haechul yang sedang menata lumpia di wadah,
"Katakan padanya, jika kau mau bantuanku temui aku langsung" ucap haechul membawa wadah lumpia ke dapur untuk digoreng, sedangkan polisi sudah heran mengapa lelaki aneh itu bisa mengetahui pikirannya,
"Apakah dia bisa membaca pikiran? Luar biasa" ucap polisi berjalan kembali ke yunho.
------*------
"Selamat siang haechul saem" ucap yunho ke arah seorang guru yang duduk dan menikmati lumpia di meja dapur,
"Hai yunho, lama tak bertemu" ucap haechul ke arah adik tingkatnya, yang menjadi polisi tersebut,
"Hyung, apa kau tetap tak ingin membantu kami membuka benteng itu?" Tanya yunho dengan wajah frustasi,
"Aku tak mau menjadi biji cabai seperti adik yuna" ucap haechul yang membuat yunho sedikit pusing,
"Hyung berhenti menjadi gila, aku serius" ucap yunho dengan aura yang melingkupi dapur, tapi tak mempan terhadap haechul,
"Kau fikir aku bercanda?" Tanya haechul dengan mata menatap yunho,
"Hyung" panggil yunho,
"Kabarkan di media jika ada salah satu dari mereka yang membunuh hansol, dan suruh kubu satu menyerah, biar polisi yang menanganinya, jika mereka tak menyerah maka kasus 5 tahun yang lalu akan ditutup" ucap haechul membuat yunho merinding, haechul memang memiliki kecerdasan yang tak bisa ditandingi, itulah yang membuat ia bisa mengetahui tingkat kekuatan siswa hanya dengan cara melihatnya.
-----*----
Media mengabarkan akan ada introgasi tentang pembunuhan siswa lima tahun lalu yang dinyatakan bunuh diri, dan jika saksi yang tertera tidak mengkonfirmasi dalam waktu 3 jam maka kasus itu akan ditutup.
*
"Hyung lebih baik kita menyerah" ucap yuta kepada joni yang sejak tadi hanya melihat televisi,
"Sepertinya lebih baik begitu, suruh winwin membuat cairan pengingat itu, kita butuh banyak agar tak ada ingatan yang tertinggal" ucap joni mengambil smophone.
*
"Jaehyun bukankan lebih baik kita berhenti? Kubu satu sudah menyerah" ucap taeyong lembut,
"Buka bentengnya, aku akan menemui kyungso hyung" ucap jaehyun yang membuat semua anggota lega,
"Wah syukurlah kita bisa kembali hyung" ucap sungchan ke arah jungwoo yang hanya diam,
"Hyung kau baik-baik saja?" Tanya lukas ke arah jungwo,
"Diamlah, aku tak mau berurusan denganmu lagi" ucap jungwoo menjauh.
Taeyong sudah membuka benteng yang membuat semua siswa berteriak senang, beberapa siswa yang ada di asramah utama masih belum berani keluar, beberapa siswa mulai kembali ke asramah masing-masing walau 15 siswa harus dimasukkan di gedung berbeda untuk dikarantina, jaehyun pergi ke arah lantai dasar gedung utama berniat menemui seniornya,
*
"Aku ingin bertemu do hyung, dimana dia?" Tanya jaehyun ke arah anak sistem ex yang ada di ruang makan,
"Baiklah, terimakasih" ucap jaehyun langsung berjalan ke arah perpustakaan yang ada di gedung belakang.
"Krek" suara pintu perpustakaan yang membuat orang yang ada di dalamnya melihat ke sumber suara, jaehyun mendekati kyungso yang menatapnya tanpa ekspresi,
"Hyung, apa yang harus ku lakukan" ucap jaehyun yang tampa putus asa di depan lelaki tanpa ekspresi tersebut,
"Mengapa kau mempersulitnya jaehyun, bukankah kau tau semuanya?" Tanya kyungso yang menatap jaehyun tak habis fikir,
"Aku merasa mereka juga harus dihukum, bukan hanya dia, dia melakukannya karena terpaksa hyung" ucap jaehyun lemah, dan akhirnya duduk di depan kyungso yang mulai menutup buku,
"Hukuman paling menyakitkan bukan hukuman mati jaehyun, hukuman paling menyakitkan adalah hidup seperti mati" ucap kyungso berdiri mengambil salah satu buku di rak,
"Tapi ini tidak adil" ucap jaehyun sedih,
"Berperilaku baik adalah cara kau bisa kembali jaehyun, bukankah dulu kau teman dekat joni?" Tanya kyungso memberikan sebuah buku, berjudul 'mysia keturunan murni',
"Bacalah, kau akan menemukan sesuatu" lanjut kyungso membuka buku yang tadi ia tutup,
"Aku tak secerdas dirimu hyung" ucap jaehyun ke arah kyungso,
"Tapi kau punya teman yang cerdas" jawab kyungso datar, membalik halaman yang sudah ia baca,
"Terimakasih hyung" ucap jaehyun pamit, ia sebenarnya tak bisa berfikir jerni, apa yang akan terjadi setelah introgasi.
-----*-----
InTRogasi
Jaemin masuk ke dalam ruangan khusus yang akan digunakan introgasi, ada dua kursi dan satu meja panjang, di kursi sudah terpasang sensor detak jantung dan di atas meja ada mesin pengetik suara, dimana suara yang keluar akan langsung terketik pada kertas,
Jaemin duduk di depan seorang lelaki bertubuh besar dengan senyum menawan, ia sama sekali tak memberi kesan menakutkan,
Lelaki tersebut mempersilahkan jaemin duduk di kursi kosong yang ada di depannya,
"Jaemin kau tak perlu tegang" ucap nikun dengan senyum hangat,
"Iya" ucap jaemin dengan senyum yang dipaksakan,
"Sekarang tolong ceritakan semua yang kau ingat dihari itu!" Ucap nikun dengan senyuman dan tangan yang sudah menekan tombol mulai di meja, jaemin mengambil nafas panjang kemudian mulai bercerita,
"Dimulai dari pembukaan kp, tanggal 23 februari 2015, aku satu kamar dengan hansol hyung, awalnya sangat aneh mengapa aku satu kamar dengannya, padahal tingkat kita jauh berbeda, aku takut auranya akan aku serap saat aku tidur tapi ternya tidak, aku merasa tubuhku yang terserap, mungkin hanya perasaanku saja" ucap jaemin sedikit ragu, karena ia tak tau apakah benar aurnya terserap atau janya persaannya saja,
"Kau tau siapa yang bisa membagi kamar kompetisi?" Tanya nikun,
"Yang bisa membagi kamar hanya panitia kp, anak neo yang menjadi panitia adalah ten hyung" ucap jaemin melihat nikun dengan wajah mulai serius,
"Baiklah, kemudian apa yang terjadi di kompetisi kp?" Tanya nikun mulai menerka,
"Saat game aura saya diserang oleh beberapa orang, saya tak mengenalnya, tapi saya rasa mereka salah satu siswa di game aura"
"Kau pingsan dan kekurangan banyak aura jaemin"
"Saya tak tau mengapa aura saya sangat lemah, padahal di kompetisi tersebut ada batasan" ucap jaemin dengan nafas panjang,
"Dan saat malam di rumah sakit, taeyong hyung mengetahui jika hansol hyung dan yuta hyung yang berencana menyerap aura saya" lanjut jaemin dengan melihat mata nikun,
"Kau punya bukti? Apakah benar mereka yang melakukannya?" Tanya nikun mulai serius, karena hukuman seseorang yang menyerap aura adalah hukuman paling tinggi,
"Saya tak bunya bukti, tapi banyak yang mempercayainya" ucap jaemin jujur,
"Apakah ada pertengkaran setelah itu?" Tanya nikun,
"Ada pertengkaran antara jaehyun hyung dan yuta hyung, mereka satu kamar, itu sebabnya mereka menyeraang membabi buta" ucap jaemin dengan menunduk,
"Apakah jaehyun membunuh hansol?" Tanya nikun melihat kursi jaemin mulai berubah warna merah menandakan ia sedang takut,
"Aku tak tau, tapi aku yakin jaehyun hyung tak akan melakukannya" ucap jaemin dengan tangan gemetar,
"Kau tak percaya jaehyun melakukannya setelah kau melihat ia telah menyerang ten hingga tangannya sobek dan tulangnya patah" ucap nikun dengan senyuman, jaemin hanya menundukkan kepala, ia aak berani mengatakan apapun lagi,
"Itu yang membuatmu mengorbankan auramu agar mereka melupakan semuannya bukan?, kau takut jika jaehyunlah yang membunuh hansol, dan kau berusaha menutupinya" ucap nikun dengan tatapan tajam ke arah jaemin,
"Aku hanya ingin..."
"Hanya ingin semuanya melupakan hansol" potong nikun,
"Kau begitu baik jaemin, hingga kau terlihat bodoh, silahkan keluar terimakasih" ucap nikun mematikan alat perekam, jaemin berdiri dan berjalan menuju pintu keluar,
"Atau kau yang ingin dia mati" ucap nikum membuat jaemin berhenti,
"Ya aku memang menginginkannya" ucap jaemin membuka pintu, tanpa melihat nikun yang sudah tertawa meremehkan.