NEO 1 (Na Jaemin)

NEO 1 (Na Jaemin)
27. Melepas



Seorang lelaki duduk sendiri dengan tangan saling bertautan, memperlihatkan ia sedang takut akan terjadi sesuatu, lelaki berbaju merah mendekati dan duduk disampingnya,


"Ada apa haechanie" ucap jaemin dengan senyuman,


"Jaem, aku tau kau sudah mengingat semuanya, apa aku boleh memintamu melepas ikat janji yang ada di tanganku" ucap haechan dengan mata berlinang air mata,


"Kenapa kau tak melepasnya sejak dulu?" Tanya jaemin dengan tenang,


"Aku tak mau kau kesakitan, jika aku melepasnya" ucap haechan melihat pergelangan tangannya yang ada lilitan merah,


"Kau ingin melepasnya?" Tanya jaemin menarik tangan kanan haechan dan melihat tali yang terikat,


"Ya" ucap haechan sedikit ragu,


"Saat kau melepasnya, akan ada satu orang lagi yang kesakitan haechan" jelas jaemin melihat mata haechan, jaemin tau haechan tersiksa, hachan mencintai mark tapi ia tak bisa bersama dengan mark,


"Haechan" panggil lembut jaemin dengan mengelus tangan haechan,


"Aku sudah tak memperdulikannya jaemin" ucap haechan dusta, di mata jaemin haechan masih sangat menyayangi mark, tapi emosi yang menurupi semuanya,


"Baiklah, aku akan melepaskannya" ucap jaemin dengan menggegam erat tangan kanan haechan agar tali yang mengikat haechan terlepas, begith pula dengan link yang sudah diberikan jaemin kepada haechan 5 tahun lalu.


----*----


Danau indah smorest dihiasi dedaunan yang jatuh dipermukaan, seorang anak lelaki kurus menghirup panjang wangi alam yang menyegarkan, ia duduk di rerumputan dengan kaki menyilang, kulitnya putih pucat dengan mata mulai mencoklat seakan darah sudah diserap habis, rambut mulai memutih, dan tubuhnya melemah,


"Jaem, kanapa kau mau bertemu denganku disini?" Tanya lelaki kecil berkulit tan dengan wajah sedih mendekati sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja,


"Chan, apa kau tau, langit mungkin sedang menungguku" ucap jaemin melihat langit mulai menggelap karena matahati mulai terbenam,


"Apa yang kau bicarakan jaem, jangan seperti itu" ucap haechan sudah mulai menangis dengan tubuh bergetar,


"Chan, apa aku boleh meminta satu permintaan padamu?" Ucap jaemin dengan senyum ke arah haechan yang berdiri tanpa ingin mendekati jaemin,


"Apa?" Ucap haechan singkat,


"Bisakah kau terima link dariku, dan jangan pernah kau lepas" minta jaemin yang berusaha berdiri dan menghadap haechan,


"Kenapa?" Tanya haechan melihat mata jaemin yang mulai berubah abu-abu,


"Aku tak mau membawa link mereka sampai mati haechan, harus ada orang yang menerima link ini agar mereka baik-baik saja" ucap jaemin memegang tangan haechan,


"Aku tak mau" ucap haechan tanpa melihat jaemin, karena ia tak mampu menolak sahabat kecilnya yang sedang sekarat,


"Aku mohon chan" ucap jaemin dengan suara serak,


"Kau terlalu baik jaemin, kau bodoh, kenapa kau fikirkan mereka, kau harus memikirkan dirimu sendiri" ucap haechan menatap mata jaemin yang mulai memutih, tanpa fikir panjang jaeminĀ  langsung menarik tangan haechan dan membagi link terakhir yang bisa ia transfer, tali merah keluar dari tubuh jaemin dan mengikat tangan kanan haechan kemudian menghilang, menandakan link sudah tertransfer dengan sempurna,


"Pergilah chan, tinggalkan aku sendiri" ucap jaemin sedikit mendorong haechan menjauh, dan kembali duduk di rerumputan,


"Jaem" ucap haechan tak ingin meninggalkan jaemin sendiri,


"Haechan cepat pergilah, aku mohon" ucap jaemin tak melihat kebelakang, dan haechan sudah berlari menjauhi jaemin.


-----*-----


Kelas dream kembali rusuh seperti biasa, haechan dan renjun yang bertengkar karena buku renjun yang ditempeli stiker lucu hadiah dari ayah haechan yang sudah datang dari bisnis, dan renjun yang marah karena ia sama sekali tak ingin bukunya banyak tempelan, sedangkan jaemin dan jeno sudah duduk bersampingan karena jisung dipaksa pindah oleh jeno agar satu bangku dengan chenle,


"Kemaren aku dengar joni hyung bertengkar dengan kakakmu jeno, apakah benar?" Tanya jaemin ke arah jeno yang diam menulis pelajaran,


"Jen kau tak mau membantu kakakmu?" Tanya jaemin melihat tak percaya kekasihnya ini sangat tidak peka terhadap saudara-saudaranya,


"Kalau aku membantu, apa yang akan kau lakukan?" Ucap jeno mulai berhenti menulis tetapi mata masih melihat buku,


"Kau akan menghapus ingatan mereka, dan mengorbankan auramu?" Tanya jeno dengan melihat mata jaemin dengan menakutkan, aura jeno juga mulai kuat tapi sama sekali tidak mempengaruhi jaemin,


"Apa kau masih marah?" Tanya jaemin ke arah jeno dengan tangan memijat pundak jeno pelan,


"Aku benci caramu menyelesaikan masalah, terlalu gegabah dan bodoh" ucap jeno sedih,


"Maafkan aku jen, sekarang kita sudah dewasa, apa kau tak mau membantunya?" Ucap jaemin mendakati wajah jeno,


"Nanti aku akan tanyakan padanya, apakah mereka butuh bantuanku" ucap jeno kembali menulis kembali,


"Jisung kau kemana saja, aku tak pernah melihatmu" tanya chenle kepada jisung yang sejak pagi melihat sepasang kekasih duduk berdampingan,


"Aku di rumah membantu ibuku menjait pakaian" ucap jisung dengan senyuman,


"Apakah kau kenal guanlin?" Tanya chenle ke arah jisung,


"Guanlin pacar renjun hyung? Kenapa memangnya? Bukannya dia ada di bumi karena sedang dihukum?" Tanya jisung dengan wajah polos dan tangan memegang telinga seakan-akan berusaha mengingat sesuatu,


"Kemaren haechan bertanya padaku tentang keberadaanmu, ia fikir kau yang membantu guanlin" ucap chenle santai, karena chenle sama sekali tudak faham apa yang sebenarnya haechan bahas dengan renjun di penutupan kp saat itu,


"Membantu bagaimana?" Tanya jisung polos,


"Sudahlah tak usah difikir, sepertinya haechan hyung sedang bernegatif thinking padamu, jadi lupakanlah" putus chenle karena guru sudah datang,


"Hmm ternyata haechan mengingatnya" ucap jisung pelan melihat ke arah haechan yang masih menjaili renjun.


----*----


"Haechan, apa kau melepas linkmu dengan mark?" Tanya renjun yang melihat tali merah di tangan haechan menghilang,


"Iya, ternyata semuanya baik-baik saja, aku kira akan terjadi sesuatu" ucap haechan dengan menyendok soto ayam,


"Kemaren mark dan joni bertengkar, apa kau tau?" Tanya renjun ke arah haechan yang membuat haechan berhentu mengaduk mangkoknya,


"Kenapa mereka bertengkar?" Tanya haechan ke arah renjun,


"Aku tak tau pasti, tapi ten hyung menangis karena joni hyung dirawat di ruang kesehatan" ucap renjun santai seakan tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan,


"Mengapa tidak ada gosip masuk ke telingaku?" Tanya haechan ke arah renjun, wajah haechan mulai sedikit panik,


"Sepertinya taeyong hyung menutupinya, itu semua hanya ramai di asramah tingkat tiga, mereka malah memiliki dua kubu" ucap renjun dengan tenang dan meminum es kopi,


"Dua kubu?" Tanya haechan tak habis fikir apa yang sebenarnya terjadi di tingkat 3,


"Yuta hyung, joni hyung dan sungchan ada di kubu satu, kemudian jaehyun hyung, mark hyung, lukas hyung ada di kubu dua" ucap renjun dengan memakan kornet ikan,


"Apa yang akan terjadi" ucap haechan melihat mata renjun,


"Mungkin mereka akan berhenti ketika sudah menemukan siapa yang membunuh lelaki itu" ucap renjun melihat haechan yang sedikit pucat,


"Hmm, menyedihkan" lanjut renjun dengan senyuman.