NEO 1 (Na Jaemin)

NEO 1 (Na Jaemin)
37. Semula



Satu tahun sudah berlalu, semuanya begitu cepat, tatanan kepolitikan sudah berubah, seorang keturunan kim sedang menguasai pemerintahan, kim seokjin alumni dari hybcool menjadi menteri pertahanan mengalahkan partai keluarga lee yang sudah bertahun-tahun menguasainya, tetapi keluarga lee masih menguasai dunia perekonomian negara dan masih menjadi keturunan elit di mystic. Smocool yang mendapatkan penurunan jumlah pendaftar siswa baru tetapi masih bisa menerima siswa berkualitas dari penjuru dunia.


Pengumuman siswa sudah tertera di papan pengumuman smocool, lelaki dengan kulit putih tersenyum melihat hasil pengumuman,


"Kita keterima eunseok hyung" ucap seunghan yang sudah berusaha menelfon ibunya untuk mengatakan info menggembirakan ini,


"Hmm, kenapa aku satu kelas dengan sungchan" ucap eunseok malas,


"Siapa dia hyung?" Tanya seunghan penasaran,


"Dia temanku di dunia, aku malas bertemu dengannya lagi, dia sedikit menjengkelkan" ucap eunseok yang membuat seunghan tertawa,


"Tenanglah, ini cuman sementara hyung, aku berharap bisa masuk kelas dream" ucap hyun sok dengan semangat,


"Sulit sepertinya masuk kelas yang sudah terbentuk" ucap lelaki yang mendengarkan percakapan mereka,


"Oh hay aku shohei, dari jepang" ucap shohei dengan senyuman hangat.


-----*-----


Seorang lelaki kecil sedang melukis di belakang rumah, ia melukis pemandangan indah yang bisa ia lihat, ditemani seorang lelaki yang berusaha mencampur warna dengan sabar,


"Kapan kau selesai menggambar" ucap guanlin melihat renjun yang masih diam melihat kanvas yang hanya ada beberapa coretan,


"Aku merasa pernah melakukan ini, melukis pemandangan disini" ucap renjun mulai bernafas panjang,


"Perasaanmu saja mungkin" ucap guanlin berusaha menghibur,


"Aku seperti melupakan sesuatu" ucap rejun menaruh alat lukisnya di rumput,


"Hei kau tak jadi membuat tugas?" Ucap guanlin tak terima warna yang sudah ia campur tak digunakan,


"Aku rindu sesuatu, tapi aku tak tau apa itu, itu sangan menyebalkan" ucap renjun mulai meneteskan air mata,


"Renjun kau menangis" ucap guanlin mendekati renjun,


"Aku tak tau, aku sangat merindukan sesuatu yang aku tak tau, itu sangat menyebalkan lin, sangat menyebalkan" ucap renjun berusaha berhenti menangis dan berdiri menuju pancuran untuk membersihkan wajahnya,


"Kau bisa pergi ke sana" ucap guanlin dengan suara pasrah, matanya melihat sebuah gudang milik ayah renjun yang digunakan untuk menyimpan barang tak terpakai,


"Maksudmu?" Ucap renjun dengan membersihkan sisa tangis,


"Pergi saja ke sana" ucap guanlin dengan senyuman,


"Emang ada apa?" Tanya renjun lagi, ia memang tak pernah ke gudang punya babanya karena malas melihat debu yang begitu banyak,


"Mungkin bisa menghilangkan rasa rindumu" ucap guanlin dengan berdiri dari duduknya,


"Ayo" lanjut guanlin yang sudah lebih dulu pergi ke arah gudang, diikuti renjun yang matanya masih merah.


"Krak" suara pintu gudang yang terbuat dari kayu,


"Uhuk, sangat berdebu" ucap renjun masuk ke gudang dan melihat sesuatu, renjun diam melihat tumpukan barang yang ada di kardus,


"Renjun" tepuk guanlin membuat renjun tersenyum mengambil kotak makan berwarna biru muda,


"Ini sangat imut, punya siapa ini?" Tanya renjun ke guanlin yang membuat guanlin berfikir ternyata renjun tak mengingatnya,


"Aku akan mengambilnya, ini pasti punya winwin hyung" ucap renjun memilah-milah barang yang ada di kardus,


"Hufh, ternyata benar, jaemin hanya membual" ucap guanlin yang masih bisa di dengar renjun,


"Oh ya ayo kembali ke rumah, aku mau mencuci ini agar bisa dipakai" ucap renjun yang sudah membawa tempat makan, gelas bulat, dan piring putih dengan gambar lucu,


"Ok ayo kembali" ucap guanlin keluar terlebih dahulu.


----*----


(Kanada)


"Perkenalkan nama saya renjun dari jurusan seni universitas seoul, ini adalah karya abstrak saya.



Renjun melihat lukisannya dipajang di pameran seoul III di kanada, rasa bangga menyelimuti hati yang sudah lama menginginkan semua ini terjadi,


"Lukisannya bagus" ucap seorang lelaki berdiri di samping renjun,


"Terimakasih" ucap renjun dengan sedikit membungkukkan badan ke arah lelaki tersebut,


"Warna yang saling berkebalikan dibatasi dengan pembatas tipis kepercayaan, Aku tau arti yang kau gambar, apa kau mencari seseorang?" Tanya lelaki tersebut ramah,


"Ya, seseorang yang bisa membantuku" ucap renjun dengan senyuman,


"Aku tau kita sama-sama orang mysia, kau butuh bantuan?" Tanya lelaki tersebut kagum dengan cara renjun mencari orang mysia kanada dengan karya seninya,


"Iya, aku butuh bantuan, kau asli orang kanada?" Tanya renjun lebih jelas,


"Ya, aku keturunan murni kanada" ucap lelaki tersebut ke lelaki kecil di sampingnya,


"Baiklah ayo kita memakan sesuatu, agar bisa berbicara santai" ucap renjun mencari restoran dekat gedung pameran di handphone miliknya.


 


Renjun duduk berhadapan dengan lelaki berdarah kanada tersebut, membeli beberapa makanan dan minuman yang sudah tersaji di di atas meja,


"Apa yang bisa aku bantu renjun?" Tanya lelaki kanada,


"Kau pasti tau, keturunan murni kanada bisa mengendalikan pikiran bukan?" Tanya renjun dengan memasukkan potongan roti,


"Benar, kenapa?" Tanya balik lelaki tersebut,


"Caba lakukan padaku" tantang renjun membuat lelaki tersebut tertawa,


"Kau kira kita bisa mengendalikan pikiran begitu saja?" Lelaki tersebut tak bisa menahan tawanya karena kepolosan renjun,


"Kita punya beberapa syarat untuk melakukannya" ucap lelaki tersebut mulai serius,


"Syarat?, apa itu?" Tanya renjun penasaran,


"Mereka harus melakukan beberapa ritual, ya butuh beberapa jam, kemudian seseorang yang dikendalikan harus memiliki tingkatan lebih rendah atau minimal setara" ucap lelaki kanada dengan meminum coklat kejunya,


"Kalau begitu temanku memang bisa melakukannya" ucap renjun patah semangat,


"Temanmu mengendalikan pikiran?" Tanya lelaki kanada,


"Iya, dia masuk penjara karena 6 tahun lalu mengendalikan seseorang untuk bunuh diri" ucap renjun mulai berkaca-kaca,


"Umurmu berapa?" Tanya lelaki kanada penasaran,


"Kenapa menanyakan umurku, tidak penting sekali" balas renjun kesal, kenapa lelaki ini tidak memahaminya,


"Hei, aku serius, berapa umur lelaki itu saat mengendalikan seseorang" tanya lelaki kanada dengan wajah serius,


"Sekitar 16 tahun" ucap renjun dengan mengembalikan ingus ke dalam,


"Kalau begitu dia tidak bisa mengendalikan" ucap lelaki kanada itu dengan senyuman,


"Maksudnya?" Tanya renjun lagi,


"Renjun, syarat mengendalikan seseorang yang paling utama adalah mereka harus sudah dewasa yakni umur 18 tahun, kalau temanmu masih umur 16 ya nggak bisa" ucap lelaki kanada dengan memakan makanannya kembali,


"Tapi kenapa para hakim tidak tau kalau ada syarat itu, atau jangan-jangan ada yang memanipulasi?" Tanya renjun pada diri sendiri,


"Bukan, memang orang kanada murni sangat tertutup, jadi malas memberi tau banyak orang tentang kelemahan kekuatan kita, kanada murni lebih sering memendam samuanya sendiri" ucap lelaki kanada,


"Ya seperti mark" ucap renjun mulai menangis,


"Hei kenapa kau menangis" tanya lelaki kanada dengan clingak clinguk,


"Tidak aku hanya ingin mengatakan terimakasih banyak, hiks" ucap renjun mulai membersihkan matanya dengan lengan bajunya.