
"Sekarang jaemin maju ke depan" yuna melanjutkan, jaemin berdiri dengan sedikit gugup, "hmm, sesuatu yang membuatku sedih saat" jaemin berhenti, menatap yuna dengan senyuman, dan yuna hanya mengangkat alisnya, "saat ayahku mengatakan semuanya akan baik-baik saja" lanjut jaemin dengan wajah santai, "dan itu adalah hari terakhir dia berbicara denganku sebelum meninggalkan dunia ini" jaemin kembali tersenyum seakan itu sudah masa lalu yang sudah ia lupakan, jaemin mengambil kertas yang dipegang yuna, dan kertas tersebut berubah menjadi hitam, "10 poin", jawab yuna melihat jaemin dengan wajah kaget campur sedih, "jaem" yuna tak tau apa yang terjadi saat kedua orang tuanya meninggal karena saat itu ia sedang ada acara di sekolah, jaemin tersenyum mengembalikan kertasnya dan kembali duduk, "apa 10 poin itu banyak?" Tanya jaemin ke arah jisung yang kaget dengan nilai jaemin, "itu nilai sempurna hyung, tak ada yang pernah mendapatkannya di kelas pengendali energi dalam" jisung tak habis fikir jaemin bisa sehebat itu, taeyong saja yang terkenal paling ahli di mata pelajaran tersebut tak pernah mendapatkannya.
"Haechan" yuna melihat haechan maju dengan wajah datar, "aku pernah menyesal" haechan mengambil napas "menyesal karena mengenal lelaki jahat, aku tak bisa kembali karena kakiku sudah dirantai besi, dan ia terus menyeret rantai tersebut walau ia tau aku terluka parah" haechan tersenyum dan mendekat ke yuna untuk memegan kertas miliknya, kertas tersebut berubah menjadi merah, "6 poin" yuna mencatat nilai haechan, dan haechan kembali duduk, "kau yang bodoh karena tak memutus rantai tersebut" renjun melihat haechan dengan kaca mata baca yang ada di pangkal hidungnya
"Jisung park" yuna memanggil jisung, jisung dengan wajah polos berdiri di depan kelas, "aku punya seseorang yang aku sayangi, aku benci hujan karena dia suka hujan, dia pergi dariku, tidak maksudku dia pergi dari kami" jisung melihat jaemin yang berkedip kedip di tempat duduk, "aku ingin mengatakan padanya, maafkan aku hyung, aku memang adik yang bodoh" jisung tersenyum dan berjalan mendekati yuna untuk mengambil kertas, kertas tersebut berwarna ungu, "4 poin" jisung duduk dengan senyuman ke arah jaemin, renjun membisik pada haechan, "apa dia mengingatnya?" "Tidak mungkin" jawab haechan menatap jisung curiga.
"Jeno" yuna melihat jeno yang sedikit menunduk dan tak ingin melihatnya, sudah lama yuna tak melihat wajah jeno dengan jelas, karena jeno tidak ingin melihatnya sejak lama, jeno melihat teman-temannya dengan wajah datar, "aku pernah bersedih saat, jaemin ingin pindah kamar" jeno melihat jaemin yang kaget dan malu, akhirnya jaemin bersembunyi di belakang jisung, "dia ingin menjauhiku, itu membuatku sakit hati" jeno berjalan mendekati yuna dan kertas jeno berubah menjadi ungu gelap, "5 poin" yuna mengambil kembali kertas dengan kepala menggeleng dan sedikit tersenyum, kemudian jeno langsung kembali duduk.
"Mark", mark berdiri dengan wajah tanpa ekspresi, ia berdiri di depan anak-anak dream, tetapi tatapannya menuju haechan yang menatap balik mark, "hal yang aku sesali adalah mencintainya" tatapan mark tak berpindah, "dan aku tetap mencintainya" mark mendekat ke arah yuna dan memegang kertas tugasnya, "7 poin" ucap yuna saat melihat kertas mark berwanta merah hati. Renjun menaikkan alis dan menghadap haechan yang menatap datar mark, "aku sudah bilang putuskan rantainya, sebelum kau mati terseret" renjun kembali fokus ke depan, "dia sangat menakutkan" jawab haechan menatap lurus ke arah mark yang sudah duduk di tempat duduknya.
Jaemin menunggu di depan lift, setelah ia bertemu winwin dan mengatakan jika ia tak jadi pindah, dan winwin hanya menjawab jika itu adalah pilihan yang tepat. Ketika lift terbuka, nampak seorang lalaki cantik yang tersenyum menyapa, "selamat sore jaemin" " selamat sore ten hyung" jawab jaemin dengan sedikit membungkukkan badan, "kau sedang sibuk?" Tanya ten pada jaemin, "tidak hyung aku mau kembali ke kamar" jawab jaemin, "bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar smocool?" Ten dengan antusias mengajak jaemin, "aku akan mentraktirmu, bagaimana?" Lanjut ten, Jaemin akhirnya menyetujui ajakan ten dan pergi keluar smocool menggunakan mobil joni hyung dengan ten sebagai pengemudi dan jaemin sebagai penumpang.
"Apa di bumi menyenangkan?" Tanya ten pada jaemin yang melihat jalanan yang luar biasa keren, "ah biasa saja hyung" jawab jaemin singkat dan kembali melihat jalanan, jaemin masih mengagumi keadaan perkotaan mystic, ada lift bawah tanah untuk menyebrang jalan raya, ada polisi yang duduk di kursi yang bisa terbang dan langsung mengejar mobil yang melanggar dengan kursinya, ada pula toko-toko kecil yang menjual hal-hal yang tidak bisa di temukan di bumi, "hyung kita mau ke mana?" Tanya jaemin saat ten memberhentikan mobilnya di sebuah bangunan kecil berwarna jingga, "ini restoran milik jihoon" jaemin mengikuti ten masuk ke bangunan tersebut, dan saat masuk bangunan tersebut ternyata sangat luas, "ajaib" ucap jaemin melihat banyak sekali pelanggan yang makan di restoran ini, "ayo duduk di sana" ten mengajak jaemin duduk di sebuah kursi dekat jendela, jendela ini juga cukup aneh, jendela ini memperlihatkan keadaan luar yang bersalju, padahal diluar tidak sedang bersalju, ten yang melihat jaemin bingung hanya tersenyum, "ini kehebatan jihoon treas, dia anak ygcool, di setiap area kursi memperlihatkan keadaan yang berbeda, kita sedang ada di musim salju, itu di sana musim hujan" ten menunjuk sebuah meja yang jendelanya menampakkan hujan di sore hari, "ini keren hyung" jaemin mengagumi restoran dengan desain yang cukup unik ini, "permisi mau pesan apa?" Tanya seorang lelaki kecil dengan senyum manisnya, "ah mashiho, kau bekerja disini, untuk pesanan berikan saja makanan biasa yang sering aku pesan dengan jony hyung" jawab ten dengan senyum cantiknya, "okay hyung" mashiho menulis pesanan ten di note kecilnya,"aku dipaksa hyunsuk hyung menggantikannya karena mereka sedang ada acara di luar berdua, menyebalkan" jawab mashio dengan wajah cemberutnya, "haha ya sudah siapkan makanannya" mashio pergi dengan wajah tetap cemberut karena kesal dengan kakaknya dan kekasih kakaknya tersebut.
Saat menunggu pesanan jaemin hanya mengagumi desain resto yang luar biasa ini, ini sangat keren pikirnya, hingga makannan sudah tersaji di meja, "jaemin, kemaren aku melihatmu duduk dengan winwin di balkon" ten mualai mengunyah ayam asam manis yang sudah ia potong, "ah kemaren aku ingin pindah ke kamar winwin hyung, tapi tak jadi" jawab jaemin dengan mulut cukup penuh karena memasukkan nasi dengan suapan besar, "aku harap kau tak mendekatinya, beserta adiknya" ucap ten dengan wajah tenang, "adiknya?, aku tak kenal, dan mangapa aku harus menjauhinya hyung, dia orang baik" jaemin mengunyah dengan melihat wajah ten penasaran, "aku tak mengatakan dia jahat jaemin," ten tersenyum, "tapi mungkin jiwalain yang akan mengendalikannya" lanjut ten dengan senyum penuh arti, "ah dan kau tanya adiknya, adiknya adalah renjun"