
Perseteruhan di neositem sudah tak bisa ditutup-tutupi lagi, beberapa wali murid sudah meloporkan ke pengadilan tentang pertengkaran yang terjadi di tingkat tertinggi neo, karena merasa anak mereka tidak aman disekolah favorit tersebut, beberapa anak dipaksa pulang agar tidak terjadi sesuatu yang ditakut-takuti, berita mantan pelajar neo yang bunuh diri tersebar luas di penjuru negeri, dan gosip tentang pembunuhan berencana juga membuat pemerintahan ikut serta mencari tau apa yang sedang terjadi, semua kegiatan pembelajaran diberhentikan sementara, dan beberapa siswa tingkat rendah tinggal di gedung utama dengan beberapa guru sudah menjaga di lantai dasar,
"Ini terlalu menakutkan hyung" ucap chenle memeluk haechan yang hanya diam tak berbicara sejak pindah ke gedung utama, sedangkan renjun dengan santai menggambar di kanvas pemandangan di cendela kamar,
"Apa kalian tidak ingin pulang, aku mau pulang, jisung juga tidak ada kabar, aku kasian dengannya" ucap chenle dengan wajah sedih sahabat bodohnya tersesat di luar,
"Tak akan ada yang berani menyakiti keturunan berdarah murni chenle" ucap renjun menenangkan,
"Tidak mungkin bagaimana, aku dengar jika mereka sama-sama murni mereka bisa saling menyakiti" ucap chenle sedih dengan kebenaran yang ia katakan,
"Kau fikir jisung selemah itu?" Ucap renjun ke arah chenle yang polos,
"Dia pasti sedang beesembunyi sekarang, semoga dia bertemu jaemin hyung, semoga dia dijaga jaemin hyung" ucap chenle yakin jika jaemin bisa menjaga jisung karena tingkat jaemin S,
"Hufh" suara pasrah renjun.
------*------
"apakah kalian masih bisa berfikir? Sampai kapan kalian akan saling serang?" Tanya taeyong kepada kubu kedua yang terdiri dari mark, jaehyun, lukas, dan jeno,
"Sampai mereka menyerah" ucap jaehyun tanpa ada rasa bersalah terhadap mantan kekasihnya,
"Jaehyun, aku mohon" ucap taeyong berusaha memegang tangan jaehyun tapi langsung dihindari jaehyun,
"Hentikan hyung, lebih baik kita lupakan semuanya" ucap jaemin mulai mendekati jaehyun yang menjadi pemimpin di kubu dua,
"Apa kau gila na? Yuta berusaha membunuhmu dulu" ucap jaehyun dengan suara keras,
"Tapi aku masih hidup hyung" ucap jaemin dengan suara tinggi, ia sangat membenci keadaan ini, ia tak ingin ada diposisi ini lagi,
"Iya itu karena kau membagi link, jika kau tak membaginya, kau pasti sudah mati" ucap jaehyun denga wajah marah,
"Jaehyun hyung" ucap jaemin dengan air mata yang jatuh dari matanya, tapi jaehyun sama sekali tak ada niatan untuk berhenti, ia ingat bagaimana jaemin kehilangan banyak aura saat itu, ia ingat bagaimana jaemin berusaha tersenyum di danau dimana seluruh auranya sudah terkuras habis, ia tidak akan memaafkan siapapun yang melakukannya, jaehyun adalah kakak sepupu sekaligus wali jaemin saat orang tua jaemin meninggal, jaehyunlah yang mengambil tanggung jawab saat pengadilan mengatakan orang tua jaemin akan dihukum mati, dan menyembunyikan semua rahasia orang tua jaemin dari yuna nuna, jaehyun sangat menyayangi ibu jaemin seperti menyayangi ibunya sendiri, sejak kecil jaehyun sudah dirawat ibu jaemin sehingga jaehyun sangat menyayangi jaemin seperti menyayangi adik kandungnya sendiri, dan dia akan melakukan apapun untuk jaemin dan yuna, walau ia harus mengorbankan hidupnya.
-----*-----
Disisi lain ada kubu satu yang diketuai oleh joni, joni berfikir jika bunuh diri hansol ada hubungannya dengan kubu dua, mungkin mereka merekayasa agar hansol terlihat bunuh diri, atau apapun itu joni yakin ada hubungannya dengan mereka, hansol adalah sahabat joni sejak awal masuk smocool, walaupun hansol memiliki tingkatan lebih rendah tapi hansol adalah teman dekat joni, mereka belajar bersama tanpa istirahat, mereka saling membantu karene kecerdasan mereka tak seperti yang lain, joni tau betul saat itu banyak orang merendahkan hansol karena hansol yang lemah dia keturunan murni tapi dia lebih lemah dari keturunan campuran, berbeda dengan yang lainnya yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, ten kekasihnya contohnya, ia adalah keturunan murni dari thailand, tanpa belajar ten sudah bisa menguasai aura sejak awal masuk, atau kun yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata sehingga dapat menguasai teknik dengan cepat. Hansol menyendiri, walaupun dia kembaran yuta tapi jarang ada yang ingin berteman dengannya, hansol memiliki kepribadian yang berbeda ia tak memiliki rasa, ia jarang tersenyum, bukan berarti ia tak peduli, ia sangat peduli pada sesama, hanya cara mengekspresikannya yang ia tak mampu tunjukkan,
"Apa kau tak ada niatan berhenti jon? Aku lelah" ucap ten saat mereka sedang ada dibalkon asrama berdua,
"Jika kau lelah kau bisa pergi ke asrama utama" ucap joni dengan meminum kopi panas,
"Apa kau masih mencintai hansol?" Tanya ten dengan wajah sedikit sedih,
"Apa yang sebenarnya kau fikirkan ten?" Tanya joni tak habis fikir,
"Aku berfikir, kau masih membenciku karena kau melihatku bersama kun saat itu, dan hanya hansol yang dekat denganmu saat itu, kau mencintainya bukan?" Tanya ten dengan senyuman,
"Iya, aku menyayanginya, tapi tidak mencintainya, aku tak suka kau bahas masalah itu lagi ten, kau tau itu" ucap joni dengan aura yang kuat hingga gelas ditangannya pecah, joni meninggalkan ten sendiri di balkon dan meninggalkan pecahan gelas begitu saja,
"Dunia yang menyedihkan" ucap ten dengan senyuman, dan mengambil pecahan gelas untuk dimasukkan ke tong sampah.
"Doyong apa yang harus kita lakukan, mereka sudah masuk gedung kita" ucap yuta kearah lelaki yang dengan teliti membobol sistem komputer pusat,
"Diamlah hyung, mereka lemah dalam hal ini" ucap douyong tanpa melihat reaksi lelaki yang cepag tersulut emosi,
"Hyung, apa kau menginginkan sesuatu? Aku akan mengambilkannya" tanya winwin kearah doyoung, doyong menghentikan kegiatannya dan menatap winwin,
"Aku ingin bicara denganmu winwin" ucap doyong berubah ekspresi lebih serius, ia menyuruh winwin duduk disampingnya,
"Ada apa hyung?" Winwin mendekat dan duduk disamping doyoung,
"Apa kau menyesal?" Tanya doyoung ke arah winwin,
"Maksudnya?" Winwin mulai gemetar,
"Win kau tau aku tak sebodoh mereka" ucap doyoung dengan senyuman menakutkan,
"Aku hanya ingin tau siapa yang membunuh hansol" ucap winwin dengan jantung yang berdetak tak teratur,
"Aku tau kau bukan orang sepolos itu, bukannya kau asisten dosen dulu saat kuliah di seoul" ucap doyoung mulai melanjutkan pekerjaannya yang terhenti, winwin hanya diam, ia tak tau apa yang ia harus katakan,
"Sebuah gelombang tidak akan berhenti kecuali ada peredam" lanjut doyoung,
"Kau pasti tau maksudkukan" ucap doyoung dengan sedikit tersenyum,
"Kau bisa pergi, aku ingin sendiri" lanjut doyoung membuat winwin pergi dengan wajah tak tertebak.
-----*-----
"Jaem, ayo tidur" ucap jeno yang melihat jaemin hanya diam dengan kopi pahitnya,
"Jen, apa yang harus kulakukan?" tanya jaemin kearah jeno,
"Diam!" Jawab jeno singkat,
"Maksudmu?" Balas jaemin cepat,
"Kau hanya perlu diam jaem, kau tak bisa menghentikan air saat kau ada di dalamnya, kau hanya perlu diam agar mereka tenang" ucap jeno melihat mata jaemin,
"Menahannya akan membuatnya lebih menyakitkan bukan" ucap jeno dengan memegang tangan jaemin,
"Jangan membuat keputusan sendiri jaemin, itu menakutkan" lanjut jeno menggegam erat tangan jaemin,
"Apa aku terlalu kekanak-kanakan?" Tanya jaemin,
"Kita memang ada di masa kedewasaan saat itu, jaemin" jawab jeno mengambil kopi jaemin dan membuangnya,
"JEN" bentak jaemin melihat kopinya sudah ada di tong sampah,
"Ayo tidur" ucap jeno dengan menarik jaemin, dan jaemin hanya bisa pasrah,
"Jen, apa kau membenci mark?" Tanya jaemin membuat jeno berhenti berjalan,
"Ya" jawab singkat jeno dan melanjutkan perjalanannya ke kamar,
"Terimakasih" ucap pelan lelaki yang sejak awal duduk di ruangan sebelah dengan rokok ditangannya mendengar semua percakapan.