
Air berjatuhan dari langit membasahi dedaunan hijau di malam hari, udara lebih tak terkendali membuat kulit mulai membeku, suara hewan-hewan malam bersautan, langit yang dihiasi koyu-koyu berubah menjadi hitam gelap, seorang lelaki berdarah jepang sedang melihat dua patung kembar di balkon rumah, lelaki tersebut hanya melihat patung cukup lama hingga membuat seorang lelaki berdarah tiongkok mendekat dan merangkulnya dari belakang,
"Kau tak mau tidur yuta?" Ucap winwin yang mengeratkan pelukannya karena dingin,
"Aku bermimpi sangat aneh" ucap yuta yang mulai melepas pelukan kekasihnya dan menarik agar saling menatap,
"Mimpi tentang?" Tanya winwin yang melihat yuta yang sering melakukan hal absurd ini mulai serius,
"Sepertinya hansol tidak bunuh diri, tapi ada orang yang membuat ia bunuh diri" ucap yuta ke arah winwin,
"Siapa?" Tanya winwin lagi,
"Aku tak tau" ucap yuta dengan menggosok-gosok kepalanya seperti melupakan hal yang penting di otaknya,
"Lebih baik kita tidur, itu hanya mimpi yuta, jangan kau pikirkan terlalu serius" ucap winwin yang menarik tangan yuta memaksa masuk ke rumah.
------*------
"Brak" suara keras dari bawah membangunkan semua penghuni villa utama, pertengkaran jaehyun dan yuta sangat tak terkendali, jaehyun sudah babak belur di wajah tampannya sedangkan yuta sudah mengeluarkan darah dari mulutnya,
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya taeyong yang berusaha menghentikan mereka, tapi tak ada dari mereka yang ingin menyelesaikan pertengkaran tersebut,
Jeno dan mark sudah berusaha menarik keduanya, tapi mereka berusaha melepasnya,
"Dia menyerangku terlebih dahulu" ucap yuta ke arah taeyong,
"Jaehyun kenapa kau menyerangnya?" Tanya taeyong memukul jaehyun yang tak bisa mengendalikan emosi, sedangkan winwin sudah menenangkan yuta,
"Dia penjahat hyung, mereka penjahat" ucap jaehyun dengan lantang,
"Apa kau gila itu hanya mimpimu" ucap yuta sedikit teriak,
"Kalian bisa meninggalkan tempat ini, aku akan mengirim koper kalian nanti" ucap winwin ke arah seluruh punghuni, Dan taeyong sudah menarik jaehyun keluar agar bisa mengendalikan emosinya, haechan mendekati jaemin dan memegang tangannya,
"Jaem apa yang terjadi?, aku takut" ucap haechan yang mengeratkan tangannya,
"Kau tak perlu takut, kan ada mark" ucap jaemin dengan senyuman,
"Ya, Dia lebih menakutkan" ucap haechan pelan,
"Ha?" Tanya jaemin karena ucapan haechan tidak jelas,
"Tidak, aku akan ke mobil" ucap haechan berjalan cepat menuju mobil,
"Apa ini yang kau inginkan hyung?" Ucap jaemin dalam hati, tapi bisa didengar winwin, membuat winwin mengerutkan alis, kenapa ia bisa mendengar jaemin padahal jaemin tak berbicara,
"Hmm, kau belum tau kelibahan tinggat S, mereka bisa saling berbicara dengan tatapan mata" ucap jaemin tanpa bicara,
"Hyung kau harus tau, apa yang kau lakukan akan menyakiti banyak orang" lanjut jaemin,
"Aku hanya ingin mengetahui siapa yang membunuh hansol" balas winwin, yang membuat jaemin tersenyum,
"Dan saat kau mengetahui aku yakin kau akan menyesal hyung" ucap jaemin sebelum ditarik jeno agar cepat masuk ke mobil,
------*------
"Kau tinggal disini bersamaku" ucap taeyong ke arah jaehyun yang masih terlihat marah,
"Hyung, yuta adalah orang yang berencana membunuh jaemin" ucap jaehyun dengan wajah serius,
"Jaehyun itu hanya mimpi" ucap taeyong keras,
"Ah, ternyata kau memimpikan hal yang sama?" Ucap jaehyun yakin,
"Jaehyun sudah cukup" taeyong lelah dengan kekasihnya yang memiliki emosi tak terkendali,
"Aku akan pergi menemui mark" ucap jaehyun mulai berdiri menuju pintu,
"Jika kau keluar dari kamarku, jangan berharap kau bisa kembali jaehyun" ucap taeyong serius, ia tak ingin ada pertengkaran,
"Jika kau mau menyuruhku diam melihat saudaraku disakiti demi dirimu maka lebih baik kita selesai" ucap jaehyun menutup pintu dari luar, yang membuat air mata taeyong keluar dan tubuhnya terjatuh ke lantai, ia tak pernah bisa mengatur emosi jaehyun, sama percis seperti 5 tahun lalu.
Suara ketukan dari arah pintu membuat lelaki berbadan besar membukanya,
"Ada apa hyung?" Tanya lukas ke arah jaehyun,
"Dia keluar di kediaman lee chan, ayah haechan" ucap lukas yang membuat jaehyun pergi meninggalkan lucas menuju mobil, ia akan menyusul ke rumah haechan.
----*----
Beberapa makanan telah tersaji di atas meja makan luas, ada ikan khas jepang yang dibawa mark melengkapi hidangan lezat tersebut, satu lelaki sudah makan dengan tenang, sedangkan lelaki lainnya hanya diam melihat makanannya,
"Haechan makanlah, kau belum makan sejak kemaren" ucap mark yang melihat haechan tak ada niatan menyentuh piringnya,
"Aku lelah" ucap haechan tanpa ekspresi,
"Bertahanlah, kau akan bebas setelah semua ini berlalu" ucap mark mengambil ikan bakarĀ dan menaruhnya di piring haechan,
"Tuan ada teman tuan di depan, nama jaehyun" ucap salah satu asisten haechan, membuat mark berdiri,
"Dia tamuku" ucap mark tanpa melihat wajah haechan yang ketakutan dengan tangan gemetar,
"Ada apa hyung?" Ucap mark yang duduk bersebrangan di sofa yang diduduki jaehyun,
"Aku mau kau membantuku, aku yakin yuta dan hansol adalah orang yang ingin menyerap kekuatan jaemin lima tahun lalu" ucap jaehyun kearah mark yang hanya tersenyum,
"Dimimpimu?" Tanya mark,
"Diingatanku" jawab jaehyun ke arah mark yang mulai nampak serius,
"Apa yang kau butuhkan dariku?" Mark melihat jaehyun tanpa ekspresi, aura mereka sudah sangat kuat hingga tak ada yang berani mendekati mereka,
"Kau pengendali pikiran, aku mau kau kembalikan semua ingatanku" ucap jaehyun ke arah mark yang masih diam,
"Hyung kau tau, itu akan sangat menyakitkan" ucap mark memperingati,
"Lakukan saja mark" ucap jaehyun yakin,
"Jika itu maumu, baiklah" jawab mark yang sedang mengeluarkan cahaya hijau ke arah tubuh jaehyun.
----*----
"Jaem, ayo duduk disana" ucap jeno yang membawa makanan di kedua tangannya, akan mengarah ke salah satu meja kantin,
"Ayo kita makan di gazebo jeno" ucap jaemin tak setuju usulan jeno,
"Kenapa?" Tanya jeno,
"Aku tak mau mereka kaget dengan id ku" ucap jaemin yang tau id nya akan tinggi, dan akan membuat banya orang yang bertanya-tanya,
"Oh, baiklah" ucap jeno merubah arahnya menuju gazebo,
Mereka duduk dan memakan makanan dengan tenang, seakan-akan tak terjadi sesuatu, padahal tadi pagi ada pertengkaran hebat antara jaehyun dan yuta, asrama lumayan sepi karena banyak anak yang berlibur, sehingga tak ada keramaian yang seperti suara kandang bebek di kantin sekolah,
"Jaem, apa aku boleh bertanya?" Tanya jeno dengan serius, ia ingin menanyakan apakah jaemin mencintainya atau mencintai mark,
"Apa?" Tanya jaemin yang sedang memasukkan sesuap bubur ayam,
"Apakah kau menyukai mark?" Tanya jeno dengan pelan tapi masih terdengar di telinga jaemin,
"Bukannya kau tau aku benci keluarga lee" ucap jaemin yang membuat jeno kaget,
"Kau membenciku?" Tanya jeno,
"Awalnya, kau tak mengingatnya?" Tanya jaemin ke arah jeno,
"Keluarga lee yang menfitnah orang tuaku sehingga mereka dihukum mati" ucap jaemin membuat jeno kaget,
"Bukannya mereka kecelakaan dan sakit?" Tanya jeno,
"Aku yang mengarang cerita tersebut agar yuna nuna tak melakukan apapun, kau pasti tau yuna nuna bisa meminta keluarga choi membalas" ucap jaemin dengan senyuman,
"Maaf aku melupakan semuanya" ucap jeno kikkuk,
"Kau akan mengingatnya nanti jeno" ucap jaemin dengan senyuman,
"Aku mencintaimu nana" ucap jeno dengan meminum es teh di tangan kirinya,
"Aku juga" ucap jaemin yang membuat jeno tersenyum.