
Jaemin pov,
Semuanya mulai ku mengerti, masa lalu yang begitu rumit sudah ada di memoriku, ingatan-ingatan masa lalu membuatku mengerti jika dunia begitu adil menciptakan manusia, mempercayai tuhan adalah suatu hal yang bisa membuat kita tenang, tak pernah takut akan kematian karena semua sudah dituliskan, tak pernah merasa sedih kehilangan karena kita akan dipertemukan, tak perlu marah dikhianati karena akan ada hari pembalasan, tuhan begitu sempurna menciptakan pohon dengan dua sistem pernafasan, ia tak perlu bergerak bebas karena ia bisa menyesuaikan, begitupun atom yang memiliki dua muatan saling setimbang, ataupun manusia yang memiliki kekurangan dan kelebihan.
Aku melihat sesosok lelaki yang selalu ada disampingku memakan makanan yang ku beli di kantin, mata sipit, senyum menawan, hidung mancung membuat aku bahagia karena mendapatkan sesosok manusia sepertinya yang setia menemaniku, dulu aku sangat membencinya, ia selalu meniruku, rambut mangkok, sepatu coklat, baju warna-warni, ia selalu ingin menjadi diriku, sehingga banyak yang mengira dia adalah kembaranku, lee jaemin banyak yang mengira aku adalah keturunan lee, karena haechan selalu memanggilku jaemin lee.
"Na makanlah" ucap jeno mengetuk piringku dengan sendok besinya,
"Iya" ucapku dengan menyendok batagor,
"Hmm, jen apakah kau tak ingin menjenguk mark hyung?" Tanya jaemin melihat wajah jeno,
"Apakah kau ingin aku menjenguknya?" Tanya jeno balik,
"Dulu kau sangat membanggakan kakakmu itu, kau sering mengatakan dia sangat keren, bahasa inggrisnya sangat bagus, dia sangan cerdas dan lain sebagainya" jelasku dengan mengingat-ingat tentang jeno duli yang sangat antusias tentang kakak tirinya tersebut,
"Sebelu ia merebutmu dariku" ucap jeno pelan, tapi aku masih sangat jelas mendengarnya,
"Hah? Maksudmu?" Tanyaku ingin memperjelas ucapannya,
"Sudahlah aku tak mau memikirkannya" jeno mulai membersihkan makanannya dan langsung masuk kamar mandi, ingin BAB katanya.
Aku tak tau apa yang difikirkan jeno, aku tak tau mengapa jeno menjauhi kakaknya saat itu, ia selalu menyendiri dan malas membaur dengan anggota SM-RQ saat itu, SM-RQ adalah sistem pra neo, dimana ada 13 siswa yang masuk dengan berbagai kemampuan, sistem tersebut adalah sistem percobaan yang di buat oleh ketua yayasan, dan karena kesalahan fatal yang dilakukan salah satu siswanya, membuat sistem tersebut diganti menjadi sistem neo, jeno yang selalu ceria, dengan senyum somoyednya hilang begitu saja tanpa sebab, aku selalu menanyakannya kenapa? Ada apa? Tapi dia selalu mengatakan tidak ada apa-apa, hingga misteri yang selalu aku pertanyakan adalah saat jeno yang sangat jarang menangis itu mulai menetaskan air mata di depanku, ia mengatakan jika "tolong jangan tanyakan apapun padaku nana, aku takut kehilanganmu", saat itu aku tak menanyakannya lagi, apa yang jeno fikirkan, mengapa ia sangat sensitif, apa aku menyakitinya, untuk apa ia takut kehilanganku.
"Na, kau tak mandi? kita harus mengikuti rapat kelas dream" ucap jeno sudah siap dengan sragamnya,
"Ok" jawabku dengan segera masuk ke kamar mandi.
----*----
Aku duduk di meja lingkaran di ruang akademik, ada lima siswa lain duduk melingkar saling berbicara, yuri saem datang dan duduk di bagian tengah dengan kursi yang lebih besar, menjelaskan kepada kami bahwa dia akan memimpin rapat saat ini, yuri saem namanya, ia adalah salah satu pengurus yayasan smocool,
"Selamat pagi anak dream" ucap yuri saem dengan senyum menawan,
"Selamat pagi saem" ucap serentak anak dream,
"Di sini aku akan menjelaskan jika kelas dream harus mencari pengganti mark sebagai ketua kelas, apakah ada pendapat tentang siapa yang cocok menggatikannya?",
Aku melihat anak dream yang memasang wajah sedih, mereka sepertinya tidak mau mengganti mark, itu terlalu sulit, sifat kekanan-kanakan yang menjadi gen spesial anak dream hanya mark yang bisa sabar menghadapinga, pasti tidak akan ada yang sudi menggatikannya,
"Jeno" ucap ku yakin, aku melihat tatapan anak-anak ke arahku, ada yang setuju terpaksa karena memang hanya jeno yang bisa menggatikannya, ada juga yang hanya diam tanpa berpendapat,
"Baiklah, jeno yang akan menggatikan mark, aku akan mengatakannya pada ketua yayasan, kalian bisa mendiskusikan konsep dan struktur pelajaran yang akan kalian pelajari di semester depan " yuri saem keluar dengan wajah santai, berbeda dengan kami yang diam canggung tanpa ada yang memulai berbicara,
"Pelajaran apa aja yang seru, ayo kita list" ucap jisung dengan mengambil pena dan menulis semua yang ada di fikirannya ke dalam buku,
"Kapan hukumanmu renjun?" Tanya haechan ke arah renjun,
"Lusa jam 9.00, jam 7.00 mark hyung akan dirubah warna aura, jam 8:00 winwin hyung akan di serap aura hansool yang tersisa, kemudian aku" ucap renjun mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi,
"Apa kau sudah meminta guanlin? Yang aku katakan di kamarmu?" Tanya jisung ke renjun,
"Belum" ucap renjun singkat,
"Oh ya materi yang kita pelajari lebih baik yang santai, jangan terlalu sulit, aku tak bisa tidur jika terlalu sulit, menurutku kita ambil saja pelajaran membuat ramuan, sepertinya bagus tinggal campur-campur daun" lanjut jisung yang sudah dengan percaya bisa mempelajarinya,
"Masukkan pelajaran kekuatan hitam" ucap jeno yang membuat jisung langsung menulis, aku melihat jeno menatap kosong ke depan, kekuatan hitam adalah pelajaran yang ditolak mark saat itu, ia berfikir umur kami belum pantas mempelajarinya, walau haechan dan mark sendiri sudah mempelajarinya karena mereka juga siswa kelas ilichil,
"Masukkan juga pengendali hewan jisung" ucapku membuat jisung menatap heran,
"Hyung, aku tak berani dengan hewan" ucapnya sedih melihatku dengan wajah melas,
"Kau kira ini kelasmu, tulis saja" balas chenle yang menyetujui usulanku, chenle juga memiliki peliharaan lucu, walau harus dipulangkan karena ketahuan olah doyoung hyung,
"Lusa kita akan pergi ke aula hukuman di seoul, tak ada alasan apapun" jeno melihat yang lain dengan aura yang berbeda, membuat yang lain hanya bisa menurutinya,
"Kita tidak tau apa yang akan terjadi hari itu, kita lanjutkan saja setelah hukuman" lanjut jeno dengan berdiri dan melirikku seakan mengajakku keluar ruangan.
"Jen kau tak terlalu keras dengan mereka?" Tanyaku melihat jeno yang selalu dengan aura mendominasi,
"Aku punya cara sendiri untuk mengatur mereka, jangan samakan aku dengan mark" ucap jeno yang berjalan lebih dulu dariku, dan aku hanya bisa mengikutinya dengan nafas panjang.
-----*-----
Seorang lelaki berkulit tan duduk di balkon gedung sekolah, melihat siswa baru sedang menunggu giliran tes masuk, lelaki itu hanya tersenyum melihat semangat seorang calon siswa yang berusaha menjadi siswa smocool, sama sepertinya 6 tahun yang lalu, ia sangat bahagia hingga ibunya mengadakan pesta dan mengatakan kepada tetangga jika anaknya sangat berbakat, menyiapkan susu coklat hangat saat tes masuk, dan merapikan rambutku agar terlihat rapi, masa-masa yang ingin terulang walau hanya rasa yang masih bisa tersisa, tapi kenangan itu terlalu indah untuk dilupakan,
"Haechan, kenapa kau sendiri disini?" Tanya lelaki kecil bernama ten,
"kau bisa melihat mereka sangat bersemangat sekolah, seperti kita dulu hyung" ucap haechan dengan senyuman,
"Haechan, apa kau tau apa kelebihan keturunan thailan?" Tanya ten yang duduk di sampih haechan,
"Maksudmu, kekuatan khusus dari thailan?" Tanya haechan yang dijawab anggukan oleh ten,
"Aku tak tau, emang apa?" Tanya haechan penasaran,
"Mengendalikan rasa" ucap ten melihat wajah haechan,
"Aku bisa mengalihkan rasa yang kau punya sekarang haechan" ucap ten membuat haechan tersenyum kecut,
"Apa yang kau tau tentang yang kurasakan saat ini hyung?" Tanya haechan berusaha tak melihat mata ten,
"Marah, kecewa, dan lelah" ucap ten melihat lelaki yang ada di bawah sedang menghafal rumus dengan semangat,
"Aku juga bisa mengalihkan perasaanmu pada mark" ucap ten yakin,
"Kau mau?" Tanya ten ke arah haechan yang meminum kopi hangat miliknya,
"Ketika kau membuat cerita di buku deary, dan sudah menulisnya berhalaman-halaman dengan susah payah, apakah kau rela memberikannya padaku saat di salah satu halaman buku itu tertumpahi kopi?" Tanya haechan tanpa melihat wajah ten,
"Hyung aku ingin melupakan semuanya, tapi jika aku disuruh memilih mengulangi kisah ini lagi atau membuat kisah baru, maka aku akan tetap memilih kisah ini, karena aku menyukai peranku, haechan, Lee Haechan sesosok lelaki ceria yang selalu mencairkan tumpukan es karena hangatnya yang selalu terpancar" ucap haechan dengan senyuman membuat matanya mulai menutup menahan air mata yang memaksa untuk keluar,
"Takdir memang berbeda" ucap ten tersenyum pada haechan, haechan tak memahaminya, ia hanya merasa tenang dengan kata tersebut.