
Beberapa siswa melihat seorang lelaki berjubah hitam besar memasuki aula hukuman, ia mendekati seorang lelaki yang hanya diam dengan mata tertutup di tengah area,
"Kau siap mark?" Tanya lelaki besar tersebut,
"Ya" ucap mark singakat,
Tangan lelaki tersebut ia tempelkan ke atas kepala mark, aura hijau keluar sangat pekat dari tubuh mark, wajah mark memperlihatkan jika yang dilakukan sangatlah sakit, hingga aura hijau itu habis dan berganti menjadi hitam pekat, bau busuk menyengat menyebar ke aula, membuat beberapa siswa menutuh hidung, tapi tak lama mark sudah tak sadarkan diri membuat baunya tak terlalu menyengat dan membuat siswa yang menonton bisa bernafas lega,
Penyerapan aura berlangsung sekitar 20-58 menit, hukuman akan dilakuan selama 23 tahun, jika dalam waktu 23 tahun mark masih bertahan, maka mark dapat bebas.
Giliran winwin memasuki aula, yuta sudah pergi dari aula setelah hukuman mark selesai, ia tak ingin melihat winwin kesakitan karena pengeluaran aura yang sudah ada selama 5 tahun ditubuhnya, itu pasti sangat sakit, setelah aura hijau neon itu keluar dari tubuhnya, winwin mulai mengeluarkan aura putih, kemudian winwin jaga pingsan.
Begitu juga renjun, renjun pingsan sebelum aura hijaunya berubah.
"Apa renjun akan melupakan semuanya?" Tanya chele ke arah jisung"
"Tidak, dia hanya menganggapnya mimpi" ucap jisung santai dengan memakan cilok bumbu kacang, berbeda sekali dengan chenle yang tak tega melihat mark kesakitan hingga ia menangis tanpa henti,
"Ayo kita kembali ke kelas" ucap jeno tanpa ekspresi,
"Dia sama sekali tidak berperasaan, melihat kakaknya kesakitan seperti itu, hiks" ucap chenle dengan mengelap matanya menggunakan lengan bajunya.
Saat perjalanan menuju kelas jeno mendekati jisung,
"Apa kau sudah mengatakan ke guanlin?" Tanya jeno dengan aura mengintimidasi,
"Sudah, santai dong" ucap jisung membuang sampah bekas cilok,
"Jaemin, berapa lama mark pergi dimimpimu?" Tanya jeno ke arah jaemin yang sedih melihat hukuman pada teman-temannya,
"Satu setengah tahun" ucap jaemin dengan menghapus ingus,
"Kalau begitu aku akan melakukan tugasku dengan baik selama itu" ucap jeno dengan sedikit senyuman.
----*----
Lelaki dengan dengan mata musang mulai membuka mata, ia tidur di ranjang kesukaannya,
"Berapa hari aku tidur, mengapa mimpiku seperti bertahun-tahun" ucap renjun mulai berdiri dan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu tampak seorang lelaki sedang menyalin tulisan yang ada di leptop ke buku tulisnya,
"Gege berapa hari aku tidur?" tanya renjun ke arah gegenya yang cantik,
"Kau sudah tidur selama 3 hari" ucap winwin mulai fokus ke komputer,
"Ge kau tak memimpikan sesuatu yang aneh?" Tanya renjun mulai duduk disamping winwin,
"Mimpi apa? Aku tak bermimpi apa-apa" ucap winwin yakin,
"Wah aku seharunya tidak bangun dari mimpiku, mimpiku itu keren ge, masuk di dunia yang magic" ucap renjun yang mulai menceritakan apa saja yang ada dimimpinya, hingga membuat winwin pusing dan mnyuruhnya kembali tidur agar tak mengganggu pekerjaannya.
----*----
4 bulan kemudian,
Seorang lelaki sudah mendaftar di universitas seoul, itu karena paksaan dari orang tuanya agar bisa menemani kakak tunggalnya yang sendiri di negri sebrang,
"Hyung aku sebenarnya malas mendaftar disini" ucap renjun kesal,
"Sudahlah di korea banyak makanan enak" jelas winwin,
"Oh ya, lai guanlin juga sekolah di koreakan, kau bisa bermain dengannya" ucap winwin membuat renjun mengerutkan alis,
"Benar juga hyung, aku sudah berbulan-bulan tak melihatnya, aku juga tak mendengarkan sama sekali info tentangnya" ucap renjun mulai berfikir,
"Ya sudah bagaimana kalau kita coba minum kopi disana" ucap winwin dengan pandangan mengarah ke kafe bertulisan, 'coffe7dream'.
"Ok" ucap renjun melihat kafe yang ditunjuk winwin.
"Klinting" suara pintu membuat seorang lelaki menyapanya dengan ramah,
"Selamat datang mau pesan apa?" Tanya lelaki cina dengan pandangan yang sulit diartikan,
"Saya mau beli es kopi late dan es moca, untuk makanannya saya mau ayam bakar kelapa dan ayam rica-rica" ucap lelaki dengan senyuman menawan,
"Baik akan saya siapkan" ucap chenle berusaha mengendalikan ekspresi, ia langsung pergi kedalam menuju lelaki yang sedang memakan kue coklat buatan jaemin,
"Ya trus mau apa, tinggal kau layani seperti biasa" ucap jisung memasukkan krip coklat kedalam mulutnya,
"Bagaimana kalau aku mengatakan semuanya padanya" tanya chenle antusias,
"Dan mereka akan kabur karena menganggap kau gila, sudahlah, nanti kalau sudah waktunya ia akan mengingatnya kembali" ucap jisung meminum es coklat yang ia buat,
"Kau ini sangat menyebalkan" ucap chenle memukul kepala jisung, dan membuat jisung ingin membalasnya.
"Mohon maaf lama, ini pesanan kalian, selamat menikmati" ucap chenle dengan senyuman, renjun merasa aneh saat melihat chanle, seperti dejavu, pikirnya.
"Hyung apa kau tak merasakan sesuatu?" Tanya renjun ke winwin yang sudah melahap makanan,
"Mwasyustmwu oapa?" jawab winwin dengan mulut penuh makanan,
"Dejavu?" Jawab renjun ragu,
"Kalau kau gila jangan mengatakan di universitas seoul jika kau adikku ya" ucap winwin setelah menelan makanan dan meminum es Kopi latenya,
"Hmm, lupakanlah" ucap renjun memulai berdoa dan memakan makanan yang telah tersaji.
"Klinting" suara pintu terbuka, seorang lelaki masuk membawa beberapa kardus berisi bahan makanan untuk kafe,
"YAK GUANLIN" teriak renjun dengan berdiri, ia sangat kesal lelaki di depannya tak memberi kabar sama sekali,
"Oh renjun, winwin hyung" ucap guanlin mendekati dua lelaki cantik tersebut, guanlin menaruh kardusnya di salah satu meja dan duduk di depan kedua lelaki yang nelihatnya penasaran,
"Kemana saja kau?" Ucap renjun mulai duduk di kursinya walau dengan wajah kesal,
"Maaf, aku sangat sibuk. Aku harus mengerjakan tugasku yang sangat banyak" ucap lai guanlin dusta, ia memang tak mau mendekati renjun karena dia takut renjun akan kembali ke dunia mystic, sejak renjun kembali ke cina renjun sering tersenyum dan sering menyanyi dengan menyirami tumbuhan di belakang rumahnya, guanlin takut renjun akan kembali menjadi sesosok yang lain seperti dulu,
"Kau tambah tampan lin" ucap winwin dengan senyuman,
"Renjun akan kuliah di seoul, dia akan kuliah jurusan seni, karena kau sudah bertemu dengannya maka aku minta maaf, mungkin dia akan membuatmu lelah" lanjut winwin dengan senyum jail,
"Hyung aku sama sekali tidak merepotkan, ya kan lin?" Tanya renjun yang dibalas senyaman terpaksa guanlin.
-----*------
Beberapa lelaki berkumpul di kafe malam itu, plang close sudah terpasang di pintu utama, 5 lelaki sudah duduk melingkar menunggu lelaki cina jangkun berkulit putih duduk di tempatnya,
"Apa kau tak ada niatan untuk mengatakannya ke renjun hyung, ini sudah 2 bulan" ucap jisung kesal dengan aura yang tak terkendali,
"Maafkan aku, aku tak akan melakukannya" ucap guanlin menatap meja,
"Kau gila?, renjun hyung harus kembali, agar semuanya kembali" ucap chenle dengan wajah memerah karena marah,
"Hemm, kalian melakukan ini karena percaya ucapan jaemin kan? Bagaimana kalau dia salah" ucap guanlin dengan menatap chenle dengan aura yang membuat chenle menciut,
"Jaga sikapmu" ucap jeno membuat guanlin menetralkan auranya,
"Aku tak mau ia menjadi tumbal kegilaan jaemin" ucap guanlin membuat jaemin tersenyum, walau yang lain sudah sangat marah,
"Baiklah, kau tak perlu mengatakannya lin, biarkan semuanya mengalir" ucap jaemin dengan senyum hangat membuat aura guanlin memudar,
"Maafkan ucapanku jaemin, aku tak mau renjun seperti dulu" ucap guanlin yang merasa bersalah,
"Hey, lupakan, ayo kita pikirkan menu apa yang baik untuk kafe ini" ucap jaemin membuat yang lain mulai mengambil kertas untuk menulis isi pikiran mereka tentang kafe 7 dream.
"Hyung?" Bisik jisung ke arah jaemin yang memikirkan sesuatu,
"Ya?" Tanya jaemin balik,
"Kenapa kau biarkan guanlin?" tanya jisung dengan kesal,
"Hmm, di dalam mimpiku, guanlin adalah orang yang memberi jalan renjun untuk kembali, tapi itu bukan paksaan, jadi mungkin belum saatnya" ucap jaemin dengan senyuman hangat,
"Semoga saja mimpimu benar" ucap jisung dengan bernafas panjang.