
Dua manusia yang duduk berhadapan di lestoran itu, terlihat seperti pasangan kekasih yang menikmati malam minggu di hotel mewah berbintang lima. Tidak ada yang menyangka, kalau mereka adalah asisten dan istri tuannya.
" Sekarang, ceritakan tentang Mas Aris. " Ucap Syila. Aris yang sedang menatap makanannya menoleh ke arah Syila.
" Saya? " Tanya Aris menunjuk dirinya sendiri.
Syila mengangguk cepat. " Tentu saja. Mas Aris pasti sudah tahu semua tentangku bukan? Sekarang giliran Mas Aris yang bercerita. "
Aris pura-pura berpikir. " Sebelum lulus saya magang di perusahaan Tuan Wisnu. Waktu itu Tuan Wisnu belum menjadi ceo, jabatan ceo masih dipegang sama Tuan Besar, ayah Tuan Wisnu. Baru setelah Tuan Besar meninggal, jabatan ceo digantikan oleh Tuan Wisnu, saya langsung ditunjuk Tuan menjadi asistennya, dan sampai sekarang. "
Syila manggut-manggut mendengar cerita Aris. " Tapi kenapa Tuan Wisnu memilih Mas Aris? " Tanya Syila penasaran.
Aris mengedikkan bahu. " Mungkin Tuan suka kinerja saya sewaktu magang. " Jawab Aris asal.
Syila mengangguk mengerti. " Itu artinya, Mas Aris lebih muda dari Tuan Wisnu dong. " Tanya Syila lagi.
" Iya. Saya dua tahun lebih muda dari Tuan. Sekarang usia saya dua puluh lima, sedangkan Tuan dua puluh tujuh. " Jelas Aris.
" Sudah sudah. Jangan bahas Tuan itu lagi. Sekarang tentang Mas Aris, jangan ada sangkut pautnya dengan Tuan Wisnu. " Syila tidak mau membahas suaminya yang kelewat menyebalkan itu.
Aris tertawa pelan. " Baiklah. " Aris memandang wajah istri Tuannya sebentar.
" Saya memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik, usianya tidak jauh berbeda dengan Nona, dia juga memiliki senyum manis seperti Nona. Makanya, ketika pertama kali melihat Nona, saya seperti melihat adik saya. " Aris bercerita sambil membayangkan senyum ceria milik adiknya.
" Wah benarkah? " Syila nampak antusias. " Bisakah Mas Aris mengajakku bertemu dengannya? Aku ingin berteman dengan adik Mas Aris. " Syila berkata sambil menunjukkan senyum manisnya.
Wajah Aris yang semula tersenyum tiba-tiba berubah sedih, ada sedikit genangan air di ujung matanya.
Syila melihat yang melihat itu jadi bingung. " Mas Aris tidak apa-apa? " Tanya Syila.
Aris menggeleng pelan. " Tidak apa-apa. " Tersenyum manis kepada gadis di hadapannya itu. " Maaf Nona, saya tidak bisa mengajak Nona bertemu dengannya. " Syila menyerngit bingung, tapi dia tidak langsung bertanya, menunggu Aris melanjutkan ucapannya.
" Adikku meninggal dalam kecelakaan satu tahun lalu. " Aris menunduk mengingat itu.
Syila menutup mulutnya tidak percaya, dia merasa kasihan dengan laki-laki tampan di hadapannya. " Maaf ya Mas Aris. Jadi mengingatkan kesedihan Mas Aris. "
Aris tersenyum. " Tidak apa-apa Nona. " Ucap Aris.
" Tenang saja Mas Aris. Anggap saja aku ini adik Mas Aris, kami seusia bukan? " Ucap Syila berusaha mengembalikan senyum bahagia laki-laki yang sudah bersikap baik padanya selama di Kota ini.
Aris tertawa kecil. " Benarkah? " Ikut antusias.
Syila mengangguk cepat. " Tentu saja. Mulai sekarang, aku akan memanggil Mas Aris Kakak. " Ucap Syila.
" Wah.. Orang tuaku pasti akan senang mendengarnya. Kapan-kapan, aku akan mengajak Nona bertemu orang tuaku dan istriku. Mereka pasti akan menyukamu. " Aris sudah terbawa suasana sampai tidak sadar sudah mengubah panggilan saya, menjadi aku.
Syila terkejut mendengar Aris menyebut kata istri. " Istri? Kak Aris sudah punya istri? " Tanya Syila.
" Iya. Tepatnya, dua bulan lalu kami menikah. " Jawab Aris.
" Wah.... Aku tidak menyangka. Baguslah, itu artinya aku punya dua kakak. Kak Aris dan Kakak ipar....... " Syila menggantung ucapannya.
Aris yang mengerti langsung menyahut.
" Renata. "
" Kakak Ipar Renata. " Syila menyebut nama itu dengan bangga.
Aris tersenyum kecil melihat tingkah lucu gadis di depannya.
" Sekarang, jangan panggil aku Nona lagi. Panggil aku Syila. " Ucap Syila sambil menepuk dadanya bangga.
Aris menganggukkan kepalanya. " baiklah...Syi.la. " Ucap Aris sambil memberi penekanan kecil ketika menyebut nama Syila.
" Semoga Tuan Wisnu tidak akan marah mendengar saya memanggil istrinya begitu. " Aris sedikit memberi senyuman ledek kepada Syila.
Syila mencebik kesal. " Dia tidak akan marah. Kak Aris memanggilku sayang dia juga tidak akan peduli. " Ucap Syila memasang wajah kesal.
Keduanya kemudian tertawa bersama. Syila merasa senang, setidaknya masih ada orang yang baik padanya di Kota ini selain mama mertuanya. Jadi kalau mama mertuanya kembali ke luar negeri, dia masih ada Aris dan keluarga Aris yang baik padanya.
__________