My Strong Wife

My Strong Wife
Episode 1



Wisnu keluar dari kamar mandi dengan memakai celana santai selutut dan kaos putih polos. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata cantik berwarna kecoklatan, dia sempat terpesona akan keteduhan mata itu, tersadar apa yang terjadi, dia langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


" Aku akan pergi ke kamar kekasihku. " Ucapnya datar kepada gadis yang sedang duduk terdiam di pinggiran ranjang.


Gadis itu menundukkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap Wisnu dengan pandangan yang sama datarnya. " Apa anda akan meninggalkan istri anda di malam pertama Tuan? " Ucap gadis itu sambil tersenyum licik.


Wisnu tergelak, tangan yang sudah menyentuh gagang pintu ia tarik kembali. Dia menoleh, menatap gadis imut yang baru saja dia nikahi.


" Jangan melewati batas. Kau tahu pernikahan kita seperti apa. Seharusnya kau merasa beruntung, kalau bukan karena pernikahan ini, kau pasti sudah dinikahi oleh renternir tua di kampungmu itu. " Berkata sambil menyeringai licik.


Wisnu semakin senang ketika melihat wajah gadis menegang. " Sudah ingat statusmu? Jadi, kuharap kau jangan mencampuri urusanku. "


Syila tidak bisa menjawab, dia sadar siapa dirinya. Kalau bukan karena Nyonya Santika, Ibunya Wisnu yang menyelamatkan dia, pasti sekarang dia sudah menjadi istri renternir sialan itu. Syila adalah gadis yatim piatu, tinggal di kampung bersama nenek dan anak anak angkat neneknya yang berarti adalah paman angkat Syila. Namun setelah neneknya meninggal, dia dijadikan jaminan untuk melunasi hutang pamannya kepada seorang renternir. Syila tidak bisa menolak, dia tidak tega jika pamannya harus masuk penjara.


Beruntung sebelum pernikahan itu terjadi, seorang wanita datang menyelamatkan hidupnya dan membawanya ke kota. Paman dan renternir itu tidak kehabisan akal, mereka menyusul ke Kota dan memaksa Syila agar pulang ke kampung. Karena tak tega anak sahabat semasa kuliahnya harus menikah dengan renternir, Santika melunasi semua hutang paman Syila lalu menikahkan Syila dengan anaknya yang bernama Wisnu Hardana.


" Saya sadar siapa saya Tuan, dan saya tidak akan pernah melupakan kebaikan anda dan Mama Mertua. " Syila berusaha menormalkan mimik wajahnya agar terlihat setenang mungkin.


" Bagus. " Wisnu tersenyum sinis, lalu berjalan ke arah pintu dan meninggalkan Syila.


Syila menghela nafas setelah Wisnu pergi. Matanya menatap seluruh isi kamar. Percuma menyewa kamar hotel semewah ini, untuk apa? Malam pertama? Cih, boro-boro malam pertama, suaminya saja pergi ke kamar lain menemui kekasihnya.


" Aku jadi penasaran, seperti apa kekasih orang itu. Pasti dia perempuan menyebalkan, buktinya dia ikut menginap di hotel hanya untuk menemui suami orang lain. Pantas disebut pelakor. " Gerutu Syila kesal. Dia menggeleng-gelengkan kepala ketika membayangkan apa yang sedang dilakukan Wisnu dengan kekasihnya dalam satu kamar.


Kriuk.. Kriuk..


Syila memegangi perutnya. " Lapar juga. " Ucapnya.


Dia berdiri menuju ke pintu, membukanya pelan. Sepi, dia melihat lorong yang terlihat sepi. Satu persatu pintu kamar dia lewati sambil memikirkan kira-kira kamar mana yang ditempat Wisnu Hardana itu.


" Aww... " Rintihnya sambil mengelus kepalanya setelah menabrak sesuatu.


Syila mendongak, dia melihat seorang laki-laki berdiri tepat di hadapannya.


" Mas Aris? Ternyata kamu? " Ucap Syila kepada laki-laki itu.


" Maaf Nona, kalau saya menghalangi jalan anda. " Aris menunduk hormat kepada istri tuannya itu.


Syila memukul bahu Aris pelan. " Mas Aris ini apa-apa sih. Jangan bersikap seperti itu. Nona Nona apanya.. " Ucap Syila sambil tersenyum tidak enak.


Semenjak Syila datang ke keluarga Wisnu, orang pertama yang akrab dengannya adalah Aris, asisten Wisnu. Tapi setelah menikah dengan Wisnu, Aris malah bersikap hormat kepada dirinya. Padahal, pernikahannya dengan Wisnu tidak bisa dibilang baik.


" Nona mau kemana? " Aris mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kepada Syila.


" Em.. Aku lapar. Tidak tahu mau kemana, karena merasa lapar, aku keluar saja. " Jawab Syila. Wajahnya yang cemberut terlihat menggemaskan di mata Aris, tapi Aris berusaha menetralkan mimik mukanya.


" Memangnya kemana Tuan Wisnu? " Tanya Aris.


" Cih. Orang itu pergi menemui pacarnya, dan meninggalkan aku yang kelaparan ini. Mas Aris, ajak aku makan.. Ayo.... " Syila memasang wajah menangis yang dibuat-buat, hampir saja Aris tersenyum melihat tingkah Nonanya yang kelewat menggemaskan.


" Saya akan mengantar Nona ke lestoran yang ada di hotel. Mari ikut saya Nona. " Ajak Aris kemudian memberi jalan agar Syila berjalan di depannya.


Syila tersenyum lebar. " Kamu yang traktir ya? " Ucap Syila sambil menolehkan kepala ke Aris yang berjalan di belakangnya.


Aris tersenyum tipis. " Dengan senang hati Nona. " Jawab Aris dari belakang.


_____________